Sebatas Impian

Niatun Nikmah
Chapter #1

Peletakan Mimpi Pertama

Sebidang tanah hadiah untuk pemenang undian putri janda kembang dari mertua,

Orang mengira hadiah perkawinan itu pemberian dari suaminya.

Satu rupiah pun tak Sudarso kantongi. Ia hanya menggenggam dendam, menjanjikan mimpi pada sang istri belum mewujudkannya.

Terseok-seok dengan kedua pundak memikul buah hati ditenangkannya dengan puting silikon yang bentuknya sudah babak belur karena terus menerus diisapnya. Kedua telapak tangannya menenteng timba berisi luluhan yang akan diserahkannya pada sang suami yang bersiap untuk menyusun satu demi satu bata merah.

Peluh kerap kali menetes deras, terkadang bibir mungil buah hatinya itu terkena cipratannya. Terasa lebih nikmat dibandingkan puting silikon yang hambar rasanya.

Sudarso melembur hingga larut malam seorang diri agar rumah itu segera bisa disinggahi. Tinggal Rumidarti yang dari ujung kepala hingga jemari kakinya terasa tebal, dan nyeri. Bahkan ia sendiri tak pernah bercermin lagi bagaimana kiri rupanya.

Rumidarti tinggal bersama Ibu mertua dan saudara iparnya, dua perempuan, dan satu laki-laki. Ipar perempuan pertama telah berkeluarga dan memiliki tempat tinggal sendiri, sementara adik ipar perempuan bungsu bekerja sebagai asisten rumah tangga. Lalu adik ipar laki-lakinya masih bujang dan jarang tidur di rumah.

Rezeki terbesar bagi Rumidarti adalah memiliki mertua yang pengertian dan sayang, begitu juga iparnya. Tak ingin menambah beban, terkadang ipar-iparnya sampai rela tak makan di rumah mereka bahkan juga malam harinya memilih tidur di teras Masjid kampung.

Rumidarti ingin sekali tinggal satu atap bersama mertuanya, akan tetapi orang tua dirinya lebih setuju bila Rumidarti hidup mandiri. Tak jadi masalah. Sebab jarak rumah ia dan sang mertua hanya 100 meter saja.

Sebelum ayam bangkok mendahuluinya, Rumidarti sudah beres memasak untuk orang rumah, mencuci pakaian, membersihkan rumah, baru ia akan mengurus putranya sebelum harus pergi membantu suaminya.

Lihat selengkapnya