Sebelum Aku Benar-Benar Hilang

amengku sukmaning caroko
Chapter #1

Episode#1

“Pakai otak kamu… kamu itu cuma sampah di sini, nggak usah sok suci!”

“SDM rendah kayak kamu cuma jadi beban!”

Kalimat itu pecah begitu saja di ruangan kantor yang dingin oleh pendingin udara. Lampu putih menggantung kaku di langit-langit, memantulkan bayangan wajah-wajah yang seolah sibuk, tapi diam-diam memperhatikan.

Di luar, hujan turun deras. Air memukul kaca jendela tanpa jeda, seperti tidak pernah lelah. Suara kendaraan di jalan raya terdengar samar—klakson yang bersahutan, gesekan ban dengan aspal basah—semuanya bercampur menjadi satu kebisingan yang anehnya terasa jauh.

Saat itu, duniaku seakan berhenti.

Suara hujan menghilang. Ruangan itu mendadak sunyi. Bahkan untuk sekadar menarik napas, dadaku terasa sempit.

Tanganku masih menggenggam sebuah pensil kecil—benda sederhana yang entah sejak kapan ikut menemaniku bertahan. Aku melangkah pelan, meninggalkan meja itu, meninggalkan tatapan-tatapan yang tak pernah benar-benar ramah.

Langkahku terasa berat.

Setiap pijakan seperti tertahan oleh sesuatu yang tak terlihat.

Di depan pintu, aku sempat berhenti. Menatap kosong lorong panjang yang mengarah ke luar—ke jalan pulang yang entah kenapa terasa lebih jauh dari biasanya.

Kata-kata itu masih menggema.

Tidak keras, tapi cukup untuk merobohkan sesuatu di dalam diriku.

Aku tahu…

aku bukan siapa-siapa di tempat ini.

Tak punya gelar tinggi seperti mereka.

Tak punya apa pun yang bisa dibanggakan.

Tapi tetap saja…

rasanya aneh ketika seseorang mengatakannya seolah aku benar-benar tidak berarti.

Inilah aku.

Seseorang yang sering dianggap tak cukup,

bahkan mungkin tak pantas berada di sini—

tapi diam-diam, masih menyimpan mimpi

yang belum ingin aku lepaskan.

Pintu kaca itu akhirnya terbuka.

Udara dingin langsung menyambut, bercampur dengan aroma hujan yang masih turun tanpa jeda. Langkahku keluar terasa ringan di luar, tapi entah kenapa justru semakin berat di dalam.

Langit gelap menggantung rendah. Lampu-lampu parkiran memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang samar dan bergetar setiap kali tetesan hujan menyentuh permukaan.

Aku berjalan tanpa arah.

Tidak benar-benar tahu ingin ke mana.

“Eh… Ali?”

Suara itu menghentikanku.

Aku menoleh pelan. Di antara deretan mobil, seseorang berdiri sambil melambaikan tangan. Wajahnya samar di bawah cahaya lampu, tapi cukup familiar untuk membuat dadaku sedikit sesak.

“Serius ini kamu?”

Dia mendekat dengan langkah cepat, wajahnya penuh kejutan yang tulus.

“Gila… udah lama banget nggak ketemu!”

Aku mencoba tersenyum. Tipis. Sekadarnya.

“Iya… lama.”

Kami berdiri di bawah atap parkiran, terlindung dari hujan yang masih turun deras. Dia mulai bercerita—tentang hidupnya sekarang, tentang usahanya yang sedang berkembang, tentang bagaimana semuanya akhirnya mulai “berhasil”.

Lihat selengkapnya