Uhuk, uhuk!!!
Mira membuka matanya dengan napasnya yang terasa tertekan seolah ada benda berat ada di atas dadanya.
Di mana aku?
Begitu tersadar, Mira langsung bertanya-tanya mengenai tempatnya berada.
Mira saat ini berada di ruang tunggu yang kelihatannya seperti IGD. Ada banyak orang-orang mulai dari dokter, perawat, damkar dan keluarga pasien yang ribut di IGD.
“Anakku? Di mana anakku?” teriak seorang Ibu yang Mira kira sebagai keluarga korban.
“Pasien ini tolong pindahkan ke sana!” teriak Dokter yang sedang memberikan instruksi pada perawat yang membantunya.
“Masih ada berapa banyak lagi pasien yang dikirim ke sini?” tanya Perawat yang sedang menghitung jumlah pasien yang datang pada damkar yang datang membawa pasien.
“Ada dua puluhan. Sisanya yang lain kami sebar ke rumah sakit lain.”
“Ini gila! Kecelakaan apa yang terjadi di luar sana sampai korbannya sebanyak ini?”
Huft! Syukurlah aku selamat. Mira menghela napasnya bersyukur sembari mengecek tubuhnya dari yang bisa dilihatnya hingga ke ujung kakinya. Aku beneran selamat tanpa satu pun luka. Syukurlah.
Mira sejujurnya sangat-sangat penasaran dengan apa yang terjadi hingga dirinya berada di sini, di IGD. Tapi Mira tak punya waktu mendengarkan percakapan itu. Mira sekarang punya tugas penting yang lebih penting dari pada nyawanya sendiri.
Bara, tunggu Mama, sayang!
“Permisi.”
Mira berusaha menembus kekacauan di IGD dan berusaha untuk menemukan jalan keluar dari sana. Sayangnya jalan keluar yang paling mudah justru dipenuhi dengan banyak dokter jaga, perawat dan damkar yang berdatangan silih berganti membawa pasien. Mira akhirnya mengambil jalan memutar untuk berusaha keluar dari IGD.
Bara, Bara!
Tunggu Mama, sayang!
Sembari berjalan keluar dari IGD dengan mengambil jalan memutar, Mira terus memikirkan nasib putranya-Bara. Sekarang Mira hanya bisa berdoa bahwa putranya-Bara masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja.
Ketika akhirnya tiba di lobi informasi sisi pintu lain dari bangunan rumah sakit, Mira mendekat ke arah meja informasi dan tadinya berniat untuk meminjam telepon. Mira tadi merogoh sakunya dan tidak menemukan hpnya. Mira ingat hpnya terakhir kali berada di mobil dan mungkin saat kecelakaan terjadi, hpnya mungkin hancur. Sekarang Mira masih mengingat nomor dari si penculik Bara dan Mira berniat untuk segera menghubungi penculik itu karena mungkin dirinya akan terlambat menuju ke lokasi janjiannya.
“Mbak, bisa aku pinjam teleponnya?”
Tapi ketika berada di meja informasi dan berusaha berbicara dengan petugas di sana, tak satupun dari dua petugas itu merespon Mira.
“Mbak, bisa aku pinjam teleponnya? Ini darurat sekali, Mbak.”
Beberapa kali Mira berusaha bicara dengan dua wanita petugas layanan informasi, tapi sekali lagi sama seperti sebelumnya dua wanita itu tak merespon Mira seolah sedang mengabaikannya.