[Berita hari ini: Kecelakan beruntun terjadi di pinggiran kota M menuju kota N. Kecelakaan terjadi di jalan raya M km 93 tepatnya di tikungan menurun tajam yang memang sudah rawan terjadinya kecelakaan. Kecelakaan ini terjadi saat bus yang membawa rombongan sekolah dari kota M menuju kota N mengalami rem blong di jalanan menurun. Bus itu menabrak truk besar di depannya di mana di depan truk itu ada sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang wanita. Awalnya truk itu berusaha mengerem untuk menahan bus yang mengalami rem blong. Tapi karena jalan menurun, truk tak mampu menahan beban bus itu dan buruknya, bagian belakang mobil di belakang pada bagian depan truk yang membuat mobil itu terdorong bersama dengan truk oleh bus. Kecelakaan tak terhindarkan. Mobil bersama dengan truk jatuh ke jurang di depannya bersama dengan bus dan beberapa penumpangnya yang gagal menyelamatkan diri. Korban dalam kecelakaan ini diperkirakan akan terus bertambah karena masih dilakukan evakuasi. Berikut beberapa nama korban yang berhasil diidentifikasi.]
Setelah melihat namanya muncul di berita kecelakaan di layar lobi rumah sakit, Mira membeku. Saat ini ada banyak pertanyaan dalam benak Mira tentang dirinya, kecelakaan yang dialaminya dan fakta yang disebutkan di berita yang sedang Mira lihat saat ini.
“Apa aku sudah mati?” Mira mendekat pada Bagas dan berusaha untuk menyentuh Bagas dengan kedua tangannya. Tapi sayangnya tangan Mira melewati begitu saja tubuh Bagas seolah tubuh Bagas hanya bayangan layaknya hologram. “Aku enggak selamat dari kecelakaan itu?”
Mira melihat ke arah Bagas yang tadi sempat membeku karena terkejut. Reaksi Bagas itu mengingatkan Mira pada usahanya meminta tolong pada orang-orang tadi.
Sial!
Mira melihat dirinya sendiri dari bagian atas tubuhnya yang bisa dilihatnya hingga ke bagian bawah di mana kakinya berpijak. Mira menyadari jika kakinya yang harusnya menggunakan sepatu, tak terlihat. Mira yang masih bingung dengan keadaannya, kemudian melihat ke kaki semua orang. Mata Mira berhenti pada kaki Bagas. Kini Mira menyadari kenapa semua orang tadi mengabaikan permintaan tolong darinya.
Itu sebabnya semua orang tadi mengabaikanku.
Mereka semua mengabaikanku bukan karena enggak mau nolong aku, tapi karena mereka mungkin enggak bisa lihat aku!
Aku sudah mati dalam kecelakaan yang aku kira aku selamat.
Menyadari jika semua orang tadi mengabaikan dirinya karena fakta bahwa Mira sekarang bukan lagi manusia, Mira kembali melihat Bagas yang memasang reaksi terkejut seolah sedang melihat dirinya.
“Jadi Bagas, kamu-”
Sebelum Mira menyelesaikan pertanyaannya, Bagas langsung menganggukkan kepalanya lemah menjawab pertanyaan Mira dan bicara dengan nada lirihnya. “Ya, Mira. Aku bisa lihat kamu sekarang.”
Mendengar jawaban Bagas, untuk sejenak ingatan Mira membawa Mira pada kenangan lamanya di mana dirinya masih kuliah.
Sebelas tahun yang lalu.
Rumor, gosip dan isu adalah sesuatu yang sudah biasa ada di suatu tempat. Di belahan manapun dunia, selalu ada yang namanya rumor, gosip dan isu. Ketika isu tentang sesuatu berbau gaib beredar, rumor dan gosip yang berhubungan dengan hal gaib juga akan menyebar. Itulah yang terjadi di kampus di mana Mira kuliah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.
Rumor tentang pria dari gedung sebelah menyebar dengan cepat dan membuat orang tidak bisa mengatakan tidak untuk membicarakan dan membahasnya. Entah dari mana rumor itu dimulai, tapi dari kesimpulan beberapa cerita, rumor itu dimulai dari senior Mira.
“Kamu sudah dengar gosipnya belum, Mira?” tanya Nila-teman kuliah Mira.
“Gosip? Gosip apa?” Mira yang tidak peduli dengan rumor dan gosip, biasanya memilih mengabaikan hal-hal seperti itu. Mira menganggap waktunya akan terbuang hanya karena mendengar berita tak berdasar yang entah itu benar atau tidak.
“Pria dari gedung sebelah. Sudah dengar belum?” tanya Nila lagi.