Mendengar kabar pernikahan Mira hancur setengah tahun yang lalu, Bagas jelas merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan saat ini. Ingatan Bagas membawanya pada empat tahun yang lalu di mana dirinya sudah susah payah berusaha kembali pada Mira tapi Mira ternyata sudah menikah dengan pria lain dan bahkan sudah punya anak.
Lima tahun yang lalu.
November 2019.
“Setelah aku kembali, kamu mau nikah sama aku?”
“Ehm. Kenapa enggak?” Mira menjawab. “Tapi gimana dengan Ibuku? Sepertinya Ibuku enggak suka sama kamu, Gas?”
“Nanti setelah aku kembali dari tugas relawanku, aku akan berusaha untuk yakinkan Ibumu. Aku pasti bisa buat Ibu kamu nerima aku.” Bagas meyakinkan.
“Aku percaya sama kamu kok. Pria pilihanku enggak akan pernah salah.”
Bagas tersenyum mendengar ucapan Mira yang sedang membanggakan dirinya sekaligus membanggakan Bagas. “Ya, apa yang kamu pilih emang enggak salah.”
“Tapi beneran cuma setengah tahun kan?” tanya Mira memastikan.
“Ya, cuma setengah tahun.”
Hari itu Bagas berangkat ke Cina untuk jadi relawan. Entah bagaimana Bagas mendapatkan tugas untuk jadi relawan selama setengah tahun di Cina. Bagas merasa tugasnya itu ada yang tidak beres, bahkan jika tugas ini adalah ulah dari Ibu Mira-Rahayu, Bagas tidak berniat untuk mundur sedikit pun.
Bagas tahu Ibu Mira-Rahayu tidak suka dengannya tanpa alasan yang jelas. Tapi Bagas tidak berniat untuk menyerah. Selama tahu Mira tidak menyerah padanya, maka Bagas juga tidak akan menyerah. Kala memang benar kepergian Bagas ini ada hubungannya dengan Ibu Mira-Rahayu, Bagas ingin menggunakan momen ini untuk membuktikan pada Ibu Mira-Rahayu bahwa dirinya memang pantas untuk Mira. Bagas ingin membuktikan jika penilaian Ibu Mira-Rahayu pada dirinya adalah salah.
Tapi nyatanya pembuktian yang ingin ditunjukkan oleh Bagas, tidak mudah untuk dilakukan.
Di bulan Desember tahun 2019, wabah tak dikenal datang ke tempat di mana Bagas sedang menjadi relawan. Keadaan rumah sakit benar-benar kacau dan hanya dalam waktu yang singkat, kekacauan menyebar dan kota diisolasi. Tidak berhenti di situ saja, wabah itu menyebar dengan cepat dan menimbulkan kepanikan yang luar biasa.
“Gas, Bagas!”
Bagas mengira dirinya akan terjebak di kota itu selama wabah terjadi. Tapi Teddy datang kepadanya seperti biasanya.
“Teddy! Apa yang kamu lakukan di sini?? Kupikir kamu sudah balik ke Indo?” Bagas benar-benar terkejut melihat Teddy di hadapannya. Harusnya Teddy sudah kembali setelah tahun baru. Tapi yang terjadi, Teddy ternyata belum kembali dan masih di sini bersama dengan Bagas.
“Aku nunda waktu balikku. Aku sudah minta sama kenalan ayahku dan kenalan Ayah Maudy untuk bicara dengan kedutaan agar kita berdua bisa balik ke Indo.”
“Kamu enggak papa nunda waktu balikmu?” tanya Bagas merasa tidak enak dengan Teddy.
Teddy merangkul bahu Bagas seolah tahu jika Bagas baru saja bersikap sungkan padanya. “Jangan sungkan gitu, Gas! Kita temenan udah lama kan! Enggak ada kata sungkan lagi di antara kita! Kamu udah aku anggap kayak saudara aku sendiri! Jadi stop sungkan dengan aku, Gas!”