“Ted!”
Setelah menunggu kurang lebih satu jam lamanya, Maudy akhirnya datang menemui Teddy bersama dengan bawahannya.
Melihat wajah Maudy, Teddy buru-buru keluar dari dalam mobilnya dan tersenyum bahagia seolah baru saja mendapat mukjizat.
“Akhirnya kamu datang, Maudy!” Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Teddy merasa senang bertemu dengan sepupunya yang menyebalkan itu. “Kupikir kamu-”
“Kamu pikir apa?” Maudy menyentil sedikit dahi Teddy sembari memotong dengan cepat ucapan Teddy. “Aku pasti datang! Tapi aku butuh waktu, Ted!”
Maudy mengeluarkan surat perintah yang didapatkannya dengan susah payah.
“Jadi kamu berhasil?” Teddy tidak percaya Maudy datang dengan bantuan yang sangat penting. Dengan surat itu, Maudy nantinya bisa memaksa masuk ke rumah milik Arya dan menggeledah rumah itu untuk menemukan Bagas.
“Ya.”
“Kamu yang terbaik, Maudy.” Teddy memeluk sepupunya itu dengan sangat erat pertanda bahagia.
“Lepas, Ted! Kita punya masalah yang mendesak sekarang!”
“Oh ya!” Teddy buru-buru melepaskan pelukannya pada Maudy dan mulai menjelaskan situasi terakhir dari Bagas sebelum kehilangan kontak dengannya.
“Oke. Kita bagi tugas. Kalian-” Setelah mendengar penjelasan Teddy, Maudy memberikan instruksi pada sepuluh bawahannya. Tiga di antaranya akan tinggal di luar sembari melacak sinyal dari hp Bagas. Tujuh orang lainnya akan ikut bersama dengan Maudy untuk memaksa masuk ke dalam rumah Arya. Dan tentu saja Teddy akan ikut dengan Maudy. Teddy sudah sangat cemas dengan keadaan Bagas saat ini. Sejak tadi, mulut Teddy sudah komat-kamit membaca doa padahal biasanya Teddy enggan untuk berdoa. Tapi demi Bagas-teman baiknya, Teddy rela berdoa pada Tuhan agar Bagas diberi keselamatan sampai Maudy tiba.
“Siap, Bu.”
Segera setelah pembagian tugas selesai, Maudy melihat ke arah Teddy. “Kamu siap, Ted?”
“Ya, aku siap.”
Maudy memimpin jalan dan bersiap untuk masuk ke dalam rumah Arya demi menyelamatkan Bagas dan juga menangkap Arya sebagai pembunuh Bela.
“Maudy, itu!”
Tapi baru dua langkah melangkah mengikuti Maudy, Teddy menghentikan langkah kakinya karena melihat senter yang diarahkan keluar dari salah satu jendela di rumah milik Arya.
“I-itu?” Maudy yang terkejut dengan ucapan Teddy, melihat ke arah yang sama dengan Teddy. Lampu senter itu mati nyala dan terus begitu seolah sedang memanggil bantuan. “Itu sepertinya sinyal minta bantuan, Ted! Tapi siapa yang minta sinyal bantuan itu?”
“Apa mungkin itu Mira?” Teddy menduga.
“Apa itu bisa?” tanya balik Maudy.
“Bagas bilang, kadang arwah gentayangan memang bisa melakukannya. Tapi enggak semua arwah bisa. Mira harusnya enggak bisa, tapi mungkin-”
“Kalo gitu ayo cepat! Mungkin kita enggak punya banyak waktu lagi!” Mendengar ucapan Teddy, Maudy langsung mempercepat langkah kakinya bersama dengan bawahannya untuk segera menyelamatkan Bagas.