Dalam gelap pekat itu, Bagas hanya bisa diam dan menunggu. Sejak Mira pergi meninggalkannya, ia sudah mencoba berkali-kali melepaskan ikatan di tangan dan kakinya. Kulitnya lecet, perih, bahkan sempat berarah—namun tali itu tetap tak bergeming. Pada akhirnya, ia pasrah. Yang tersisa hanya harapan tipis bahwa Teddy, Maudy, dan Mira—dua manusia dan satu arwah—akan berhasil menemukannya.
Huft … ia mengembuskan napas panjang. Entah sudah berapa lama ia terperangkap di sana. Mungkin setengah jam. Mungkin satu jam. Atau mungkin lebih. Di dalam kegelapan, waktu berubah menjadi sesuatu yang tidak wajar—mengulur tanpa batas, terasa seperti keabadian yang enggan berakhir.
“Kamu pasti sudah sadar, kan, Bagas?”
Suara itu datang bersamaan dengan derit pintu terbuka dan seberkas cahaya yang menyilaukan mata. Bagas mengerjapkan kedua kelopak matanya berulang-ulang, mencoba menyesuaikan diri setelah terlalu lama hanya ditemani kegelapan.
“Ya, aku sudah sejak tadi, Arya,” balasnya datar.
Klik.
Arya masuk, menyalakan sebuah lampu kuning redup yang menggantung di langit-langit. Lalu ia menekan sesuatu di samping saklar, membuat pintu menutup otomatis, menelan kembali sebagian cahaya dari luar.
Arya melangkah mendekat. Senyum tipis muncul di wajahnya—senyum yang dingin, seperti milik seseorang yang sama sekali tidak menyesal setelah membunuh Bela, mantan kekasihnya sendiri.
Bags menatapnya tajam, napasnya naik turun. “Apa maksud semua ini? Kenapa kamu membiusku, mengikat, dan mengurungku di sini?” suaranya penuh tuntutan.
Arya mengambil sebuah kursi dan menyeretnya perlahan hingga berada tepat di depan Bagas. Ia duduk santai, bersandar, dan menatap Bagas seperti direktur yang sedang menilai seorang bawahan—penuh wibawa, penuh kontrol.
Melihat itu, Bagas mendadak teringat suara lirih arwah Bela sebelum menghilang:
“Jangan pernah percaya pada Arya. Dia hanya baik pada Mira, Rahayu, dan Bara. Tidak kepada siapapun.”
Sepercik penyesalan menghantam dadanya. Ia memutuskan untuk percaya pada Mira, bukan pada Bela. Dan sekarang ia duduk di sini—terikat, tak berdaya, dan mungkin tinggal menunggu giliran nyawanya melayang seperti Bela.
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku melakukan ini,” ujar Arya tenang.
“Tentu saja! Apa salahku padamu?” Bagas menaikkan suaranya, frustasi menguasai.
Arya menopang dagunya dengan tangan kanan. Ia tersenyum. “Ada beberapa alasan, Bagas.” Kepala Arya miring ke satu sisi, senyumnya melebar—menyerupai senyum seseorang yang telah kehilangan nuraninya. “Pertama, aku punya janji lama yang belum kutepati. Dan janji itu … berkaitan denganmu.”
Bagas mengerutkan kening. “Janji? Janji apa?”
“Kedua …” Arya melanjutkan tanpa peduli dengan kebingungan Bagas. “Kamu adalah pria yang dicintai Mira. Sebagai kakaknya, sudah semestinya aku melakukan sesuatu untuknya—untuk memenuhi mimpi terbesarnya.”
Bagas menggeleng keras. Ia tak mengerti. “Apa yang kamu bicarakan? Kalau Mira memang mencintai aku, dia enggak akan menikah sama kamu, Arya!”
Arya mengangkat wajahnya, jari telunjuknya berayun pelan di udara, seperti menegur anak kecil. “ Ehm … justru kamu yang salah besar. Mira enggak pernah mencintaiku. Sejak awal, hatinya hanya untukmu. Selalu untukmu, Bagas.”
“Apa maksudmu–”
“Ketiga.” Arya memotong dengan cepat. “Kamu telah mengambil satu-satunya sumber kebahagiaan yang aku punya.”
Bagas menghela napas, kini lebih panjang dari sebelumnya. Tiga alasan itu—semuanya tidak masuk akal di kepalanya.