“Siapa namamu, Nak?”
Pertemuan Arya dengan Rahayu dan Mira terjadi saat ia berusaha sepuluh tahun. Saat itu, hidupnya sudah porak-poranda. Tiga bulan sebelumnya, sebuah kecelakaan merenggut nyawa ayah, ibu, dan adik perempuannya—sekali sapu, seluruh dunia kecil Arya hancur. Meskipun ia masih memiliki paman dan bibi, tak ada satupun dari mereka yang mau menampungnya. Alasannya sederhana sekaligus kejam: keluarga kecil Arya tak punya harta yang bisa diandalkan. Maka seolah menyingkirkan beban, mereka mengirimkan Arya ke panti asuhan.
“...”
Arya tidak menjawab. Ia hanya duduk diam di bangku kayu taman panti, dengan tatapan kosong yang jauh dari usia kanak-kanaknya. Matanya mengikuti gerakan anak-anak lain yang berlarian dan tertawa—sebuah pemandangan yang terasa asing baginya. Dalam hati, ia sudah berhenti percaya pada orang dewasa. Dari perlakuan sanak saudaranya, ia belajar satu hal pahit: darah sekalipun tidak menjamin kasih.
Namun Rahayu tidak mundur.
Sejak pertama melihat Arya, Rahayu merasakan sesuatu yang menggetarkan hatinya. Bukan hanya karena wajahnya yang tampan, atau sikapnya yang tak kekanak-kanakan. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam—sorot mata itu. Sorot mata muram yang penuh kehilangan, amat mirip dengan dirinya sendiri ketika dulu menangis di halte bus setelah mengetahui pengkhianatan suaminya.
Ia seperti sedang menatap versi kecil dirinya.
Sejak hari itu, Rahayu rutin datang ke panti asuhan bersama Mira. Awalnya, mendekat pada Arya bukan hal mudah. Anak itu membangun dinding setebal mungkin. Tapi Mira—dengan kepolosan dan kelembutan anak kecil—mampu menembusnya.
Pengurus panti bercerita bahwa Arya pernah memiliki adik perempuan seusia Mira. Adik kecil itu meninggal bersama kedua orang tuanya dalam kecelakaan yang sama.
“Mas Arya, ayo main!”
Mira, dengan tangan kecilnya, mencoba menggenggam tangan Arya yang seperti biasa duduk murung di bangku dekat taman.
Arya menolak—selalu menolak. Namun setiap kali wajah polos Mira, sesuatu di dalam dirinya seakan reta. Ia teringat adiknya. Dan setiap kali air mata itu jatuh, Mira akan memeluknya tanpa berkata apa-apa, seolah menyerap sebagian kesedihannya.
“Kamu mau ikut Ibu sama Mira?”
Hubungan itu tumbuh perlahan. Dalam tiga bulan saja, Arya dan Mira sudah begitu dekat. Mira menyukainya tanpa syarat, dan bagi Rahayu itu seperti pertanda. Seolah Tuhan sendiri sedang mengarahkan rencananya. Anak yang “dipilih” oleh Mira—itulah anak yang akan ia pilih juga.
Kunjungan bulan berubah menjadi kunjungan mingguan. Mira selalu meminta bertemu Arya.
Suatu hari, Rahayu bertanya lagi. Penekanannya lebih lembut, lebih hangat.
Arya mengangkat wajahnya dengan ragu. “Ikut Ibu sama Mira … ke mana?”
“Tinggal bersama kami,” jawab Rahayu tenang. “Jadi kakak untuk Mira. Jadi orang yang akan menjaganya. Bagaimana? Arya mau?”
Tangan Mira menggandengnya erat—seolah takut Arya akan hilang jika dilepas. Arya menatap keduanya bergantian. Ragu, takut, tidak percaya. Pengalaman dengan paman dan bibinya meninggalkan luka yang begitu dalam. Ia takut ditinggalkan lagi. Takut dibuang sekali lagi.
Rahayu tidak butuh kata-kata untuk memahami itu. Ia menarik Arya dan Mira ke dalam pelukan hangatnya, merangkul mereka seperti keluarga yang seharusnya.
“Tenang saja, Arya …” bisiknya lirih tapi tegas. “Ibu janji. Ibu tidak akan pernah membuangmu. Tidak seperti mereka.”