Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #23

AWAL DARI SEGALANYA PART 4

“Bagas!” 

Suara Mira pecah di dalam ruangan tersembunyi itu—cemas, terburu-buru, hampir seperti seseorang yang baru saja berlari menghindari bahaya. Wajahnya muncul dari balik pintu rak buku yang sudah menutup sepenuhnya di belakang Arya. Pipi Mira memerah, sorot matanya panik seolah membayangkan Bagas mungkin sudah tak bernyawa ketika ia terlambat masuk. 

Bagas hanya bisa membalas dengan satu kedipan pelan—tanda bahwa ia masih hidup, masih sadar, meski tak dapat bergerak atau menjawab. Situasi tubuhnya tidak memberi ruang untuk reaksi lain. 

“Aku sudah menemukan Bara,” ucap Mira cepat. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Bagas dengan tatapan penuh waspada pada Arya. “Aku berhasil membawanya keluar dan menyerahkannya ke Teddy. Aku juga sudah memberitahu Teddy kemungkinan tempat Mas Arya menyembunyikan alat pembunuh Bela. Kita sekarang … tinggal menunggu Maudy datang.” 

Bagas kembali mengedip—kali ini lebih lama. Ia terkejut; tidak pernah membayangkan Mira bisa melakukan begitu banyak hal dalam waktu sesingkat itu. Sementara dirinya, terkurung dalam gelap yang menyesakkan, kehilangan jejak waktu. Tapi untuk keberhasilan itu, ia sedikit bisa merasa lega karena putra Mira, bisa diselamatkan. 

Mira kemudian menoleh ke sekeliling, lalu kembali memandang Bagas. “Apa yang Mas Arya lakukan di sini sebenarnya?” 

Pertanyaan itu belum sempat dijawab oleh Bagas ketika suara Arya kembali memotong keheningan. 

“Tujuh belas tahun yang lalu,” ucapnya, suaranya kembali datar tapi penuh dengan beban, “aku duduk tepat di kursi yang kamu duduki sekarang, Bagas. Di sinilah Ibu menceritakan kisah hidupnya—penderitaannya, dan rencananya untuk masa depan Mira.” 

“Aku?” Mira spontan menegakkan tubuhnya. “Apa maksudnya? Apa yang Ibu rencanakan tentang aku?” 

Cerita kembali berpindah pada masa lampau. 

“Untuk apa ruangan ini, Bu?” tanya Arya muda, bingung menatap dinding-dinding yang tampak seperti tak pernah dijamah cahaya. 

“Ruang rahasia Ibu,” jawab Rahayu pelan. Ia menunjuk dua kursi di tengah ruangan, memberi isyarat agar Arya duduk. “Di ruangan inilah semua rahasia Ibu simpan. Termasuk … ayah kandung Mira.” 

Arya membeku. Kata itu—”ayah kandung”—adalah sesuatu yang asing bahkan tabu di rumah itu. Ia masih mengingat jelas bagaimana setiap kali Mira kecil menanyakan ayahnya, perdebatan hebat akan pecah antara gadis itu dan Rahayu. 

Rahayu kemudian melangkah ke rak tua di pojok ruangan, menarik sebuah buku, dan mengeluarkan foto yang warnanya sedikit memudar. Foto itu ia sodorkan pada Arya sembari mulai menceritakan kisah pahitnya: bagaimana ia melawan orang tua demi cinta, bagaimana semua itu berakhir menjadi duka dan penyesalan, dan bagaimana ia bersumpah menjaga masa depan Mira agar tak bernasib sama. 

“Sejak Mira lahir, Ibu membuat janji,” lanjut Rahayu. Suaranya bergetar halus tapi tegas. “Janji bahwa hidup Mira tidak akan seperti hidup Ibu. Ibu akan memastikan ia memiliki masa depan terbaik—pasangan yang baik, hidup yang terjamin. Karena itu Ibu membangun perusahaan ini. Dan karena itu pula … Ibu mengasuhmu, Arya.” 

Deg. 

Darah Arya seakan berhenti mengalir. Foto di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Ia mendongak dengan wajah yang dipenuhi pertanyaan dan ketidakpercayaan. “A-apa maksud Ibu …?” 

Lihat selengkapnya