“Kamu tahu kan pepatah yang mengatakan manusia bisa berencana, tapi takdir yang menentukan?” lanjut Arya, suaranya tenang tapi menyimpan getir yang dalam.
Bagas hanya mampu mengangguk pelan. Pandangannya tertuju pada Mira yang berdiri di sisinya—bahunya bergetar, wajahnya basah oleh air mata yang jatuh tanpa henti. Ia bertanya-tanya dalam hati: apa yang paling menyakiti perempuan itu? Fakta yang baru saja ia dengar? Atau kenyataan bahwa kebenaran itu terungkap saat ia sudah tidak lagi hidup?
Tragisnya, pikirnya lirih.
Hanya kata itu yang terasa cukup untuk menggambarkan semuanya.
Di hadapannya, Arya duduk seperti seseorang yang dipaksa membuka pintu masa lalu yang ingin ia tutup rapat. Pria itu membeberkan alasan di balik tragedi yang mempertemukan mereka—rahasia kelam yang selama ini disembunyikan dari seseorang yang justru bertahun-tahun berusaha dilindungi oleh semua orang: Mira. Setelah usahanya melindungi Mira berakhir dengan kegagalan, Arya tak punya alasan lagi untuk terus menyembunyikan rahasia itu.
Ironisnya, rahasia yang seharusnya tak pernah menyentuh telinga Mira … kini justru didengarnya dalam keadaan ia sudah tak lagi bernyawa. Semuanya terlambat. Sangat terlambat.
Kenyataan pahit itu membawa mereka pada titik yang tak bisa diubah oleh siapapun—bahkan oleh takdir itu sendiri. Orang yang berusaha dijaga, justru menjadi sosok yang menanggung luka paling dalam: Mira telah kehilangan hidupnya.
“Takdir sepertinya ingin bermain-main dengan Ibu,” ucap Arya melanjutkan. “Takdir membuat Mira jatuh cinta pada Bagas—pria yang wajahnya mirip dengan ayahnya dan memiliki profesi yang sama. Seseorang yang, bagi Ibu, tampak seperti bayangan masa lalu yang pernah menghancurkannya.”
Bagas menelan ludah. Ucapan itu menusuk, tapi ia tak bisa menyangkalnya.
Kemiripan itu memang nyata. Wajahnya, profesinya, semuanya seperti kebetulan yang terlalu tepat untuk dianggap kebetulan. Ia tak memiliki hubungan darah sedikitpun dengan ayah Mira, tapi takdir seakan memaksanya berdiri di posisi yang sama—dipandang sebagai ancaman oleh seorang ibu yang hidup dalam bayang-bayang trauma.
Sementara itu, Arya melanjutkan kisah yang selama ini ia simpan sendirian.
Selama bertahun-tahun, ia menyembunyikan rencana Rahayu sambil memperhatikan adiknya tumbuh. Rencana itu—jika berjalan lancar—memang akan menguntungkan dirinya. Ia bisa benar-benar menjadi keluarga Rahayu dan Mira, bukan hanya secara nama, tapi secara ikatan. Namun jauh di dalam hati, Arya menolak. Ia tahu rencana itu dibangun tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang seharusnya paling didengarkan: Mira.
Jika Mira menyukainya, ia tidak akan keberatan. Ia bisa menikah bukan karena cinta, tapi karena rasa terima kasih dan tanggung jawab. Tapi bagaimana jika hatinya jatuh pada orang lain?
Dan ketakutan itu pun menjadi kenyataan. Bukan sembarang menjadi kenyataan, tapi menjadi mimpi terburuk dalam hidup Rahayu.
Takdir seolah sengaja mempermainkan semuanya. Mira jatuh cinta pada Bagas—bukan cinta sekadarnya, tapi cinta yang kuat, yang tumbuh seperti sesuatu yang sejak awal sudah digariskan untuk terjadi. Cinta yang seolah membawa berkah dari langit.
Namun takdir juga menghadirkan wajah Bagas … yang sangat mirip dengan pria yang telah melukai Rahayu dulu.
Saat itulah Arya sadar: Bagas tidak akan pernah diterima oleh ibunya, apapun yang terjadi.
Tapi sebagai seorang kakak, ia tidak bisa menyerah. Jika dua orang itu saling mencintai, jika mereka ingin memperjuangkan perasaan mereka hingga ke pernikahan, maka Arya—yang selama ini dipanggil kakak—harus berdiri di pihak mereka.