“Ka-kamu memilih Mira … bukan Ibumu?” ulang Bagas, suaranya bergetar. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini, melihat sikap dan loyalitas Arya kepada Rahayu, Bagas hampir yakin pria itu akan memilih ibunya. Namun kenyataannya justru berlawanan—dan itu mengguncang Bagas jauh lebih kuat dari yang pikirkan.
Arya tersenyum. Senyum getir yang tampak penuh luka, seperti retakan halus yang menyimpan bertahun-tahun rasa sakit di baliknya. Senyum yang, jika dilihat lebih lama, mampu menusuk siapapun yang mencoba memahami beban di baliknya.
“Kamu enggak percaya?” tanyanya pelan sambil menghapus air mata yang kembali mengalir di pipinya. “Menurutmu … berapa banyak usahaku menyelamatkanmu hanya demi adikku—Mira?”
Menyelamatkan.
Kata itu akhirnya menggantung jelas di kepala Bagas. Kata yang sejak tadi terus melintas tanpa ia pahami maknanya. Kini, kesempatan untuk mengetahui apa maksud Arya sejak awal akhirnya ada di depan mata.
“Dari tadi kamu terus bilang kamu menyelamatkanku,” ucap Bagas, keningnya mengernyit. Ia memiringkan kepala, menuntut jawaban yang lebih dari sekadar pernyataan samar. “Apa maksudmu sebenarnya?”
Arya tersenyum lagi. Kali ini, senyum itu berbeda—lebih tegak, lebih mantap. Semua seseorang yang tahu bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar, meski jalannya penuh luka. Senyum yang mirip dengan ekspresi dingin seorang pemimpin ketika menghadapi anak buahnya.
“Menurutmu …” ucap Arya, suaranya merendah tapi dipenuhi kebanggaan pahit, “kesialan yang terus menimpamu di masa lalu itu murni karena nasib?”
Bagas mengerutkan dahi. “Ma-maksudmu?”
“Kamu dikirim sebagai relawan ke luar negeri. Kecelakaan yang kamu alami, dan banyak lagi,” Nada Arya berubah tegas, hari telunjuknya terangkat dan bergerak perlahan dari kiri ke kanan, seolah menyapu kabut kebodohan yang menutupi pandangan Bagas. “Apa kamu pikir itu semua kebetulan? Takdir?”
Ia menatap Bagas lurus-lurus.
“Itu semua perbuatan Ibu. Semua itu cara Ibu untuk menyingkirkanmu, Bagas.”
Bagas tersentak. Tubuhnya terasa membeku, seolah sebuah tangan tak terlihat meremas dadanya kuat-kuat. Ia tak menyangka bahwa kata menyelamatkan yang dimaksud Arya bukan kiasan, melainkan tindakan literal—tindakan yang membuat semua kejadian buruk di masa lalunya tampak jauh lebih gelap dari dugaan awal.
“Apa maksudnya itu—”
Bagas menoleh. Mira yang sejak tadi menunduk kini mendongakkan wajahnya, menatap Arya dengan mata membelalak. Ekspresi di wajah perempuan itu sama persis dengannya: keterkejutan, ketidakpercayaan, sekaligus ketakutan akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya.
Pengakuan Arya barusan jatuh di antara mereka seperti bom yang meledak tanpa aba-aba: keras, menyakitkan, dan mustahil dihindari. Dalam sekejap, seluruh kepingan masa lalu tersusun ulang, membentuk gambaran yang jauh lebih mengerikan daripada apapun yang pernah mereka bayangkan.
***
Sejak Rahayu mengetahui hubungan Mira dan Bagas—sejak ibunya sendiri memaksanya menikahi Mira apapun yang terjadi—Atya mulai melakukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lakukan: menentang Rahayu, sosok yang selama ini ia anggap penyelamat sekaligus panutannya.