Bagas sekarang sedang berusaha mencerna apa yang didengarnya dari Arya. Membunuh Bela dengan cara yang kejam seperti menggorok lehernya adalah bentuk tindakan Arya yang sudah sangat murka pada Bela. Karena wanita itu, Arya harus kehilangan dua orang wanita penting dalam hidupnya. Rahayu yang tidak lain adalah ibunya dan Mira yang tidak lain adalah mantan istrinya.
Aku paham alasan perbuatan Arya sampai pada titik ini.
Aku paham motif perbuatan Arya sampai pada bagian ini.
Hanya saja …
Bagas terdiam dan melihat kedua tangan dan kakinya yang sedang terikat. Bagas kembali berpikir alasan dirinya berada dalam situasi ini.
Kenapa aku ada di sini?
Kenapa Arya membuatku dalam keadaan begini?
Sampai pada bagian ceritanya, aku belum menemukan alasannya?
“Kamu diam? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Arya melihat Bagas yang sedang diam berpikir.
“Aku masih enggak ngerti.”
“Apanya?” Arya bertanya lagi.
“Aku masih enggak ngerti, kenapa aku dalam situasi ini? Kenapa aku juga terlibat dengan kemurkaanmu itu? Setelah membunuh Bela, bukannya semua amarahmu harusnya sudah selesai? Kenapa sekarang aku yang jadi sasaran kemurkaanmu, Arya? Di masa lalu, akulah yang dirugikan oleh Ibu Mira! Harusnya aku yang punya dendam dengan kamu dan Mira, tapi kenapa-”
“Setelah cerita panjang itu, rupanya kamu masih belum paham, Bagas.”
“Ya, aku masih belum paham!” Arya mengeluarkan pisau tajam yang dikeluarkan dari balik punggungnya. Pantulan cahaya yang mengenai pisau, membuat Bagas harus sedikit memejamkan matanya.
Apa aku akan mati dengan cara seperti ini?
Melihat pisau itu, bayangan kematian langsung muncul dalam benak Bagas. Tapi diantara banyak cara kematian dengan pisau, yang Bagas bayangkan adalah kematian Bela yang mana lehernya digorok oleh Arya.
Apa aku akan mati dengan cara yang sama seperti Bela?
Glup! Bagas menelan ludahnya sembari mengingat bagaimana dirinya menemukan mayat Bela dan darahnya yang menggenang.
Kematian seperti itu, apa itu akan sangat menyakitkan?
Arya bangkit dari duduknya, berjalan ke belakang Bagas dan mengarahkan pisau yang digenggamnya tepat ke leher Bagas.
“Untuk pertanyaan itu, kamu bisa tanyakan pada Mira di sana! Kamu adalah pria yang dicintai Mira sampai akhir hayatnya! Setelah semua yang terjadi, akan benar rasanya kalo aku juga mengirimmu ke sana, Bagas! Dengan begitu, Mira enggak akan kesepian di sana!”
Mati ya.
Dingin dari pisau yang menempel pada bagian kulit lehernya, sudah membuat Bagas pasrah dengan kematiannya.
Setelah banyak hal yang terjadi yang membuatnya berada di situasi ini, Bagas harusnya tidak pasrah begitu saja dengan kematiannya. Tapi ucapan Arya mengenai kematiannya yang akan membuat Mira tak kesepian di alam lain dan fakta bahwa Mira mencintai dirinya sampai akhir hayatnya, cukup bagi Bagas untuk menerima kematiannya.