Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #26

PERMAINAN TAKDIR PART 3

Jadi … itu yang sebenarnya terjadi. 

Refleks Bagas menoleh ke arah Mira—dan ia mendapati perempuan itu menangis lagi, air mata jatuh tanpa bisa dihentikan. Ketika tatapan mereka bertemu, Mira mengangguk pelan. Gerakan kecil itu menghantam Bagas lebih kuat daripada pukulan apapun. Baru saat itu ia benar-benar paham: Mira tidak pernah menyerah padanya. Tidak sekalipun. Pernikahan itu terjadi karena Mira percaya ia telah meninggal dalam kecelakaan yang disabotase itu. 

“Maaf, Bagas …” suara Mira pecah, bergetar. “Memang itu yang terjadi. Aku akhirnya mau menikah dengan Mas Arya karena kupikir kamu sudah pergi … aku pikir kamu tewas dalam kecelakaan itu. Aku enggak tahu sama sekali kalau kamu masih hidup. Aku enggak tahu apapun … sampai kita bertemu lagi di rumah sakit, setelah kematianku.” 

Ingatan Bagas kembali pada hari itu—pertama kalinya ia melihat Mira setelah perempuan itu meninggal. Ia masih mengingat jelas ekspresi Mira: terkejut, linglung, tidak percaya. Dan sekarang, ia akhirnya tahu alasannya. Semua itu—akar dari keterkejutan Mira—adalah pengakuan Arya. 

Jadi … itu yang terjadi. 

Semua potongan akhirnya menyatu. 

Pukulan emosional itu terlalu keras. Tanpa sadar, air mata mengalir dari mata Bagas, jatuh satu persatu tak bisa dibendung. Dadanya terasa diremas, sesak sampai ia nyaris tidak bisa menarik napas. Kebenaran yang datang terlambat itu menghantamnya dengan kejam. 

Kata “menyelamatkan” yang diucapkan Arya sebelumnya kini terasa berbeda—lebih berat, lebih menusuk. Ya, Arya menyelamatkannya. Tapi pada saat yang sama, rencana itu menghancurkan hubungan Bagas dan Mira sampai berkeping-keping. Ia salah paham, menyangka Mira telah melepaskannya. Sementara Mira, yang tidak tahu apapun, menangisinya karena percaya ia telah tiada. 

Pukulan lain kembali menghantamnya. 

Ingatan itu muncul—adegan ketika ia dan Teddy tidak di dekat rumah Mira. Ia melihat Mira berdiri bersama Arya, menggendong seorang bayi kecil. Pemandangan itu menusuk seperti belati panas yang menembus dada. Rasa pedih itu masih bisa ia rasakan, seolah baru terjadi tadi pagi. 

Ia masih ingat bagaimana Teddy mendesaknya untuk mendekat, untuk meminta penjelasan. Teddy bahkan tampak sangat marah saat itu. Dan di tengah semua itu, satu penyesalan besar menusuknya tanpa ampun: 

Andai saat itu aku menuruti Teddy … 

Andai aku muncul di depan Mira dan meminta penjelasan … 

Apakah akhir dari kisah kami akan berbeda? 

Andai aku tidak berbalik pergi saat itu—apakah Mira masih hidup sekarang? 

Bagas kembali menatap Mira. Penyesalan itu menjauh jauh lebih menyakitkan saat ia sadar … ia masih bisa melihat Mira, tapi bukan lagi sebagai manusia yang bisa ia genggam. 

Lihat selengkapnya