Bagas mengernyit, menunggu lanjutan cerita Arya. Namun pria itu hanya diam, tatapannya kosong menembus ruang seolah pikirannya diseret kembali ke masa lalu yang berat.
“Arya,” panggil Bagas pelan.
Arya tersentak, seakan baru saja ditarik dari kedalaman lamunan yang gelap. “Ehm?” Ia berdehem, mencoba merapikan dirinya sendiri. Ia mengubah posisi duduk, bersandar ke sandaran kursi yang mulai terasa sempit. Satu tangannya naik menyangga pipi, sementara jari-jari tangan yang lain bergerak gelisah, seolah memutar-mutar pena yang tidak ada di antara jarinya.
“Kenapa diam saja?” tanya Bagas, heran sekaligus cemas. “Kamu yang membawaku ke sini. Bukannya kamu ingin menceritakan semuanya? Kenapa malah bengong?”
Arya menghela napas panjang—napas yang terdengar lelah, berat, seperti membawa beban bertahun-tahun. Bahunya turun sedikit, menandakan pergolakan batin yang tak bisa ia sembunyikan.
“Sampai mana aku tadi?” gumamnya, nadanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Bagas memiringkan kepala, memperhatikan tiap gerak kecil yang dilakukan Arya. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengganjal. Tapi ia tak tahu apa. Ia melirik sedikit ke arah Mira, berharap mendapatkan jawaban. Tapi hasilnya, perempuan yang telah berhenti menangis itu menggeleng pelan.
“Mas Arya enggak pernah begini,” ujanya, masih sesenggukan.
Akhirnya Bagas tak punya pilihan lain selain melanjutkan percakapan itu untuk menemukan apa yang mengganjal dari Arya. “Tapi hari itu … aku bersyukur kamu enggak menemui Mira,” ulangnya.
“Oh, ya. Sampai situ.” Arya tersenyum kecil—senyum yang lebih mirip meringis, seperti seseorang yang mencoba terlihat tenang padahal dadanya penuh sesak. “Aku dan Mira menikah cuma sementara. Itu rencana yang kupikirkan demi melindungi semua orang.”
Ia menunduk sedikit, menatap kedua tangannya sendiri.
“Kamu saat itu terluka parah, Bagas. Enggak ada kepastian kamu akan bisa sembuh dalam waktu dekat. Ibu … dia terus terobsesi untuk menghapus jejakmu. Sementara Mira didesak menikah tanpa henti,” lanjut Arya, suaranya merendah. “Pernikahan sementara itu kupikir jadi cara terbaik untuk menyelamatkan semua orang.”
Ia berhenti sejenak. Ada jeda panjang. Jeda yang membuat Bagas menegakkan punggungnya, menunggu dengan gelisah.
“Tapi …”
“Apa?” potong Bagas cepat, tak sabar.
Arya mengangkat wajah. Matanya satu tapi jujur—terlalu jujur untuk seseorang yang terbiasa menyembunyikan perasaan.
“Di tengah jalan,” katanya perlahan, “aku mendadak benar-benar menginginkan sebuah keluarga. Bukan cuma ibu. Bukan cuma adik. Tapi keluarga yang … benar-benar milikku.”
Ucapan itu jatuh pelan, tapi berat—seberat beban bertahun-tahun yang akhirnya berani ia akui.
Kisah berlanjut.
Dua tahun yang lalu.
Bara tumbuh menjadi anak yang begitu menggemaskan—lebih dari yang pernah Arya bayangkan. Tubuh kecilnya dipnuhi energi seolah tak pernah habis. Perkembangannya melesat jauh lebih cepat dibanding anak-anak seusianya: merangkak lebih awal, langkah pertamanya mantap, kata-kata pertamanya pun jelas dan penuh semangat.
Sehari-hari, Bara hampir tak bisa lepas dari Mira. Tapi setiap akhir pekan, dunia kecil itu hanya milik Arya.
“Ayah … Ayah …” panggil Bara dengan suara manja saat tangan mungilnya menarik lengan baju Arya, mengajaknya bermain.
Dan selama dua tahun itu, hidup Arya terasa … hangat. Tidak sempurna, tidak sepenuhnya seperti mimpi yang diam-diam ia dambakan, tapi cukup untuk membuatnya lupa betapa hampa hidupnya dulu. Bara adalah alasan ia pulang ke rumah dengan senyuman.
Namun, hari-hari damai itu tidak ditakdirkan berlangsung lama.
Pada suatu hari, Mira jatuh sakit.
Demamnya tinggi. Tubuhnya lemah. Dan karena tak ingin Bara tertular, ia meminta Arya untuk menjaga anak itu selama beberapa hari. Sialnya, di hari yang sama, salah satu kenalan Arya dirawat di rumah sakit dan meminta tolong agar Arya membawakan barang-barangnya.
Bara kecil, yang tidak bisa dekat dengan ibunya, menolak dititipkan pada Rahayu dan juga para pelayan. Ia menggenggam tangan Arya erat-erat, wajahnya menyatu dengan dada pria itu.
Maka tanpa pilihan lain, Arya membawanya ikut ke rumah sakit—hanya sebentar, katanya pada diri sendiri.