Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #28

KEHILANGAN PART 2

Bela telah mencintai Arya jauh sebelum ia tahu siapa sebenarnya pria itu. 

Saat itu, Arya belum menjadi direktur utama. Ia hanya wakil Rahayu—sosok yang namanya masih sekadar bisikan di antara para pegawai. Sementara Bela … hanyalah karyawan baru yang masih gemetar setiap kali membuka laptop di meja kerjanya. 

Hari-harinya di minggu pertama dipenuhi tekanan, tatapan meremehkan, dan tumpukan pekerjaan yang terasa tak berujung. Tubuhnya lelah, pikirannya remuk. Pada suatu sore, ia naik ke atap gedung perusahaan—tempat yang sunyi, dingin, dan jarang disentuh langkah manusia. 

Di sudut kecil, tersembunyi dari siapapun, Bela menangis. 

Isaknya tertahan, bahunya bergetar. Ia menutupi wajahnya, berusaha menelan rasa gagal yang rasanya terlalu besar untuk ditanggung sendiri. 

“Kenapa kamu nangis?” 

Suara itu datang tiba-tiba. 

Bela terkejut. Jantungnya nyaris melompat keluar. Tapi ia tahu: mereka dipisahkan dinding. Ia tak bisa melihat wajah pemilik suara itu. 

“E-enggak apa-apa,” jawab Bela terbata, buru-buru menghapus air matanya, malu karena ada yang mendengar tangisannya. 

“Masih baru?” tanyanya lagi. Kali ini lebih lembut. Tidak menghakimi. Tidak menyudutkan. 

“Y-ya,” jawabnya singkat. 

Ia seharusnya berhenti di sana. Tapi entah kenapa … suara itu membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. 

“Ini cuma saranku,” lanjut pria itu. “Kamu bisa dengerin, atau enggak.” 

Bela terdiam. 

“Bertahanlah. Apapun yang terjadi, bertahanlah sekuat yang kamu bisa,” katanya pelan tapi tegas. 

Bela masih terdiam. Tapi batinnya menjawab: Bicara emang mudah, tapi bertahan? Enggak segampang itu. Siapapun tahu itu. 

“Hari ini mungkin kamu diremehkan. Itu wajar. Kamu masih baru. Tapi kalau kamu tetap bertahan … suatu hari, kamu bisa membuktikan pada mereka kalau ada waktu di mana kamu akan berdiri lebih tinggi dari orang-orang yang menekanmu hari ini,” lanjutnya. 

Kalimat itu sederhana. Tapi suara lembut itu … terasa seperti selimut hangat yang menutup luka di hatinya. 

Bela menelan ludah, memberanikan diri bicara, “Apa itu … dari pengalamanmu sendiri?” 

Ia bisa mendengar tawa kecil dari balik dinding. 

“Iya,” jawab pria itu. “Aku bilang gitu … karena aku pernah ada di titik itu.” 

“Ma-makasih,” bisik Bela. 

Ia mengintip ke arah balik dinding, penasaran pada sosok yang bahkan tak bisa ia lihat. Tapi yang tertangkap matanya hanyalah … punggung seorang pria yang berjalan menjauh. 

Hari itu, Bela membuat janji pada dirinya sendiri. Ia akan bertahan. Apapun yang terjadi. Dan suatu hari nanti … ia ingin memperlihatkan pada pria itu bahwa kata-katanya telah menyelamatkannya. 

Tahun demi tahun berlalu. 

Bela bekerja lebih keras dari siapapun. Ia bertahan saat orang lain menyerah. Ia berdiri saat dunia terasa hendak menjatuhkannya. Semua ia lakukan hanya dengan satu tujuan sederhana: menemukan pria di balik suara lembut itu. 

Ia naik jabatan pelan-pelan. Langkah demi langkah. 

Hingga suatu hari … saat ia dipindahkan ke divisi marketing, ia mendengar suara itu lagi. Ia tak perlu melihat wajahnya. Ia langsung tahu. 

Lihat selengkapnya