Teddy duduk kaku belakang kemudi, telapak tangannya menggenggam setir terlalu erat. Kabin mobil terasa sempit, udara seolah mengental di paru-parunya. Menit demi menit merayap lambat, menegang seperti tali yang ditarik terlalu keras. Dalam benaknya, setiap detik seperti tali waktu yang menggantung nyawa Bagas—dan kapanpun bisa putus.
Ia melirik ke arah rumah. Tamu duka sudah semakin sedikit. Artinya satu: waktunya semakin sedikit.
Ia melirik kaca mobil. Bersih tanpa embun, tanda Mira belum kembali.
Drrrttt!
Getaran tajam dari ponsel di tangannya memecah sunyi yang menekan. Jantung Teddy seolah melompat keluar dari dadanya. Sekitar setengah jam telah berlalu sejak Mira kembali masuk ke dalam rumah, dan kini satu nama yang ia tunggu akhirnya muncul di layar: Maudy.
Tangannya sedikit gemetar saat mengangkat panggilan.
“Maudy,” jawabnya cepat, suaranya penuh harap. “Kapan—”
“Aku udah di jalan,” potong Maudy cepat dari ujung sambungan. Suaranya tegas, fokus. “Bagas sama Mira gimana?”
Teddy menarik napas dalam, lalu menjelaskan semuanya—tentang penemuan aneh Mira, kondisi Bara yang kini berada bersamanya, dan keberadaan Bagas yang masih tak jelas. Namun karena Mira tak kunjung keluar dari rumah dan meminta bantuan, ia menafsirkan satu hal: setidaknya, untuk saat ini … Bagas masih hidup.
Masih bertahan …
“Suratnya gimana?” tanyanya, suaranya sedikit lebih pelan, nyaris seperti doa.
“Tenang,” jawab Maudy mantap. “Aku dapat. Lima menit lagi aku sampai. Bersiaplah.”
“Oke.” Teddy mengangguk refleks.
Matanya melirik ke kursi belakang, ke arah tubuh kecil yang baru saja tertidur pulas, lelah dengan perjalanan kecilnya tadi. Bara. Anak Mira. Wajah bocah itu tampak damai, seolah tak menyadari betapa dunia orang dewasa di sekelilingnya tengah runtuh.
“Terus … anaknya Mira gimana?” tanyanya ragu. “Apa nanti harus aku bawa juga?”
“Bawa saja,” perintah Maudy tanpa ragu. “Aku ingat, Bagas pernah bilang, anak-anak seumur mereka masih sensitif sama makhluk halus. Anak itu mungkin bisa lihat arwah ibunya dan bantu kita.”
Teddy tersenyum getir. Tebakan Maudy, tepat sasaran. Dalam hatinya, ia menggumam: kamu bahkan masih ingat ucapan Bagas soal itu.
Kesepakatan pun terjadi begitu saja.
Panggilan terputus.
Sunyi kembali menyelimuti mobil.
Tanpa buang waktu, Teddy beringsut ke kursi belakang. Tangannya mengguncang bahu kecil Bara dengan lembut, membangunkannya. Ia merapikan pakaian bocah itu, menggendongnya setengah sadar, lalu bersiap membuka pintu ketika Maudy tiba.
Di dalam hatinya, hanya ada satu kalimat yang berulang, seperti mantra: Bagas bertahanlah. Kami sudah hampir sampai, teman.
***
Berita tentang pengkhianatan itu tidak hanya merobek batin Rahayu, tetapi juga menghantam tubuh rapuhnya dengan kekerasan yang tak kasatmata. Jantung yang sejak lama melemah, tak mampu menahan gelombang amarah, luka, dan kenangan pahit yang kembali terbuka. Malam itu, di balik dinding rumah yang megah dan sunyi, Rahayu tersungkur, napasnya terputus di antara sakit yang tak sempat ia ungkapkan. Serangan jantung itu merenggut nyawanya begitu saja—dingin, kejam, dan tanpa ampun.
Dan sejak itu, segalanya berubah.
Dunia Arya runtuh dalam sekejap. Sosok yang selama ini menjadi pusat hidupnya—ibu sekaligus panutan—lenyap begitu saja, meninggalkan kehampaan yang tak sanggup ia pahami. Bersamaan dengan kehilangan itu, kesadaran pun menghantamnya jauh lebih keras: tentang perannya, kewajibannya, dan tanggung jawab yang selama ini ia abaikan.
Seharusnya … dialah pelindung mereka. Rahayu. Mira.
Sebagai satu-satunya laki-laki dalam keluarga, dialah yang seharusnya berdiri di garis depan, bukan justru menjadi sumber luka. Namun, hanya karena satu keinginan egois—satu hasrat yang tak sempat ia kendalikan—harga yang harus ia bayar terlalu mahal: kematian Rahayu.
Namun penderitaan itu belum usai.