Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #30

SEBELUM DIA HILANG, BERUBAH JADI KENANGAN PART 1

Arya benar-benar tersulut amarah saat mengetahui bahwa Bela—dengan sadar, dengan kehendaknya sendiri—menunjukkan foto perselingkuhan mereka kepada Rahayu. Ia tahu betul kondisi kesehatan wanita itu sudah rapuh sejak lama. Ia tahu satu kejutan keras saja bisa jadi pemicu. Namun Bela tetap melakukannya. 

Dan akibatnya … Rahayu meninggal. 

Kesalahan-kesalahan lain yang pernah Bela lakukan, mungkin masih bisa ia toleransi. Ia mungkin masih bisa memaklumi kecemburuan, dorongan emosional, atau keputusasaan. Tapi yang satu ini—yang merenggut nyawa satu dari orang yang berharga untuknya—tak bisa dimaafkan. 

Rahayu bukan hanya ibu asuh baginya. Bukan hanya panutan. Bukan hanya sosok berpengaruh dalam hidupnya. Wanita itu adalah penyelamatnya. 

Hidupnya yang porak-poranda di masa lalu, pernah ditarik dari jurang oleh tangan Rahayu. Dan kini, hanya karena satu kesalahan yang lahir dari hubungannya dengan Bela … ia kehilangan sosok itu selamanya. 

Dan Bela … tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. 

“Mas, kapan kita nikah?” tanyanya enteng, dengan nada ringan yang terasa begitu salah. “Ibumu sudah pergi. Penghalang kita sudah enggak ada. Kamu bisa cepat ceraikan Mira, dan kita bisa menikah.” 

Kalimat itu jatuh begitu saja dari bibirnya. Ringan. Tanpa dosa. Tanpa penyesalan. 

Tatapan Arya berubah. 

Wajah yang dulu memandang Bela dengan kasih, kini dipenuhi sesuatu yang jauh lebih gelap. Amarah. Luka. Kebencian yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. 

“Kenapa kamu pikir … aku akan menikahimu?” balasnya. Nada suaranya dingin, tajam, menusuk seperti pecahan kaca. 

Bela tak menyadari badai yang baru saja pecah. Ia malah tersenyum manja dan merangkul lengan Arya, mencari kedekatan yang dulu selalu ia dapatkan. Namun Arya menepis tangannya dengan cepat. 

Ia berdiri.

Menjauh. 

Menarik jarak, seolah sentuhan Bela kini terasa menjijikkan di kulitnya. 

“Mas?” Bela terkejut. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat perubahan di mata pria itu. “Kenapa?” 

Arya memiringkan kepalanya. Tatapannya setajam pisau. “Kamu tanya kenapa?” 

“Apa kamu marah karena ibumu udah enggak ada?” Bela masih bicara dengan nada yang sama ringannya, seolah kematian Rahayu adalah fakta biasa. “Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau hidupmu selalu dikendalikan dia? Sekarang dia udah enggak ada. Hidupmu sekarang milik kamu sepenuhnya. Kamu bebas, Mas.”

Bela mencoba memeluknya. 

Sekali lagi, Arya menepis. 

Bahkan mundur satu langkah. 

“Apa kamu benar-benar mencintaiku, Bela?” tanya Arya. Dingin. Hampa. 

“Tentu saja.” Bela tersenyum hangat. Matanya berbinar. “Aku mencintaimu. Sangat. Kalau bukan karena cinta, kenapa aku lakukan semua itu? Aku cuma mau kita bisa bersama secepatnya, Mas.” 

Arya menggeleng pelan. 

Di titik itu, ia sadar sepenuhnya: wanita di hadapannya tidak mencintainya. Bukan cinta yang selama ini ia cari. Apa yang Bela rasakan untuknya bukan cinta … melainkan obsesi. 

Lihat selengkapnya