Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #31

SEBELUM DIA HILANG, BERUBAH JADI KENANGAN PART 2

Empat mobil kepolisian melaju bersamaan, sirinenya memecah ketenangan malam yang yang baru saja jatuh. Langit sudah pekat ketika Maudy dan timnya tiba di rumah besar milik Arya. Pada saat yang sama, Teddy—yang sedari tadi menunggu di dalam mobil—segera keluar sambil menggendong Bara erat-erat tersembunyi di balik jas hitam miliknya. 

“Mau ke mana, Om?” tanya Bara polos, kepalanya mendongak ke atas melihat Teddy. 

Teddy tersenyum lembut, berusaha menutupi kegentingan yang sedang terjadi. “Jemput Mama kamu,” jawabnya pelan. “Bara bisa lihat Mama, kan?” 

Anak itu mengangguk kecil. “Bisa. Om enggak bisa?” 

Teddy mengembuskan napas, senyumnya sedikit getir. “Enggak bisa. karena itu, Om butuh bantuan bara. Kalau kamu dengar suara Mama atau lihat Mama, bilang ke Om, ya?” 

Bara mengangguk lagi, patuh. “Iya, Om.” 

“Sekarang Mama kamu lagi main petak di umpet di rumah lamamu,” lanjut Teddy, menurunkan suara seolah sedang membisikkan sebuah suara rahasia penting. “Dan sekarang giliran kita yang cari Mama. Kamu dan Om. Kita harus menang. Oke?” 

Bara tersenyum—senyum polos yang membuat dada Teddy sedikit sesak. “Oke.” 

Setelah memastikan Bara tak menyadari apapun tentang bahaya yang mengintai, Teddy menghampiri Maudy yang tengah bersiap bersama timnya. Mereka mengenakan perlengkapan lengkap: rompi anti peluru di bawah seragam, pelindung kepala, hingga senjata berupa tongkat yang digenggam erat seolah sedang menuju medan tempur. 

Baru kali ini Teddy melihat sepupunya bersiap menangkap satu orang pembunuh dengan perlengkapan seolah sedang memburu satu komplotan teroris. 

Teddy menyipitkan mata. “Serius, Maudy? Apa-apaan ini? Kita cuma mau nangkep satu orang, bukan nyerbu markas teroris.” 

Maudy menoleh dan sempat tersenyum pada Bara yang mengintip dari balik jas hitam Teddy, lalu membelai lembut kening anak itu sebagai salam. “Jangan salah, Ted. Dari kemarin, aku bukan cuma mengumpulkan bukti untuk menangkap Arya. Kami juga telusuri latar belakangnya lebih dalam. Pria itu … punya banyak bawahan setia. Bukan setia biasa—setia sampai mati.” 

Teddy mengernyit tak percaya. “Sampai segitunya? Di jaman sekarang ini?” 

“Nanti aku jelasin,” jawab Maudy singkat sambil melirik tim yang sudah selesai bersiap. Ia memberi tanda. Tim segera terbagi dua: satu untuk mencari bukti, satu lagi untuk menemukan Bagas dan menangkap Arya. 

Maudy menarik napas panjang sebelum memandang rumah besar nan megah itu. “Ayo, Ted. Teman tersayang kita harus segera kita selamatkan.”

Rombongan masuk dan membuat beberapa tamu duka yang tersisa di ruang duka, terkejut, terperangah melihat kedatangan mereka. Begitu langkah pertama masuk, Maudy langsung menunjukkan surat perintah penangkapan dan penggeledahan. Namun para pelayan dengan wajah datar mengatakan bahwa Arya sudah pergi dari rumah itu satu jam yang lalu. 

Maudy menoleh ke Teddy di belakang. Teddy menggeleng pelan—sinyal bahwa para pelayan berbohong. Arya pasti masih ada di rumah itu, mungkin di ruangan tersembunyi yang pernah disebut Mira. 

Lihat selengkapnya