“Lindungi Teddy dan Bara!”
Sebelum maju, Maudy sempat menoleh dan memberi perintah tegas pada salah satu anggota di belakangnya. Suaranya tenggelam dalam hiruk-pikuk, tetapi cukup jelas bagi orang itu untuk segera bergerak melindungi Teddy dan Bara.
“Sial!” umpat Teddy pelan, napasnya naik turun.
Situasi sudah benar-benar di luar kendali. Rencananya semula sederhana: mencari bukti pembunuhan Bela, menangkap Arya, dan menemukan Bagas yang disekap. Tapi para pelayan rumah itu membentuk barikade hidup, bergerak bak pasukan terlatih setiap kali Bara—yang berada di pelukannya—tertangkap dalam pandangan mereka. Teddy tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala mereka. Melihat mereka tidak gentar menghadapi pasukan elit Maudy, bahkan setelah melihat letusan senjata tadi, membuatnya hanya bisa mengumpat dalam hati.
Buk! Buk!
“Sial … kayaknya aku benar-benar masuk ke sarang teroris,” gumamnya napas tersengal.
Jumlah pelayan di rumah yang megah itu memang tidak banyak, tapi tetap lebih banyak daripada anggota yang dibawa Maudy. Sepuluh orang pasukan dibagi jadi dua tim: tim pertama berisi empat orang, sisanya di tim dua. Dan di sisi lain, para pelayan—ditambah beberapa bodyguard Arya yang kelihatan jelas bukan orang sembarangan—jumlahnya sekitar dua puluh.
Tim satu yang sebelumnya bertugas mencari barang bukti jelas sudah dilumpuhkan; panggilan bantuan Maudy sejak tadi tak pernah dijawab.
“Sial …” Maudy mengumpat lagi, kali ini suaranya terdengar lebih lelah dan marah sekaligus.
Pertarungan ini seharusnya tidak seberat itu. Anak buah Maudy adalah para profesional, ahli bela diri, dan terbiasa menghadapi bentrokan semacam ini. Tapi keunggulan angka dan keberanian buta para pelayan membuat situasi tak seimbang. Ditambah lagi bodyguard Arya—pria bertubuh padat dengan gerakan cepat—jelas pernah dilatih khusus.
“Ted!!” teriak Maudy, memaksakan diri menoleh di tengah perkelahian. “Pergi dan cari Bagas! Di sini, biar aku yang urus!”
Teddy sempat ragu. Kondisi Maudy jelas tidak ideal. Tapi ia tahu siapa sepupunya itu. Maudy bisa duduk sebagai ketua tim divisi kriminal bukan karena keberuntungan. Ia selalu bisa mengubah kekacauan menjadi kemenangan.
“Bara!” Teddy menunduk sedikit, memastikan anak kecil itu masih memegang erat pakaiannya di balik jas. “Permainannya sudah dimulai. Kita pergi cari Mama sekarang, ya.”
“Ya, Om …” suara Bara kecil, tapi stabil.
Sejak kekacauan pecah, Teddy berkali-kali berusaha menenangkan Bara. Ia membiarkan anak itu bersembunyi di balik jas hitamnya sambil memberi tipuan kecil—seolah mereka sedang bermain petak umpet. Cara yang ironisnya ia dapat dari Mira. Perempuan itu bilang bahwa teknik itu dia pelajari dari Arya saat masih kecil dan sering berada dalam situasi berbahaya … dilindungi oleh orang yang sama, yang kini justru harus mereka waspadai.
“Ruang kerja nenekmu, kamu masih ingat jalannya?” tanya Teddy sambil memasang senyum tipis yang dipaksakan. “Kita harus ke sana. Mama sembunyi di sana, Bara.”
Bara mengangkat kepalanya sedikit, menoleh ke sekeliling, memastikan lokasinya berada, lalu mengangkat tangan kecilnya, menunjuk ke satu lorong. “Ke sana, Om.”
Buk! Buk!
Salah satu bodyguard menerobos pertahanan Maudy dan melompat ke arah Teddy. Ia spontan melompat mundur, bersiap berlari, tetapi sempat menoleh sekilas—cemas—pada Maudy.
“Silakan pergi lebih dulu, Pak! Saya tahan dia!” teriak anggota Maudy yang bertugas melindungi Teddy.
Teddy menggertakkan gigi. “Sial …”
Ia tidak punya waktu lagi. Ia berlari mengikuti arah yang ditunjuk Bara, membelok tajam saat diminta, lurus ketika lorong memanjang. Sambil berlari, ia merogoh ponselnya dan menghubungi jalur darurat, mengirimkan lokasi dan permintaan bala bantuan. Semoga panggilan itu berhasil dan Maudy mendapatkan tambahan personel.
“Idu, Om … pindu idu …” Bara menarik kencang jas hitam Teddy sebagai tanda.