Mira melesat kembali menuju ruangan Bagas. Setiap langkahnya terasa lebih berat daripada sebelumnya—bukan karena lelah, melainkan karena kesadaran menyakitkan yang terus menghantamnya: semua orang sedang berjuang, kecuali dirinya. Maudy yang melawan habis-habisan, Teddy yang mempertaruhkan nyawanya, Bagas yang hampir kehabisan napas … semua orang di rumah itu bergerak untuk tujuan masing-masing. Sementara ia hanya bisa melihat, menonton, menyaksikan tanpa kuasa.
Perjalanan singkat menuju ruangan Bagas terasa seperti melewati lorong ingatan. Potongan-potongan ingatan berkelebat: Bara yang menghilang, usaha putus asa menyelamatkan putranya, ketakutan saat kematian menjemput, pertemuan tak terduga dengan Bagas, senyum tentram pria itu saat tertidur, rahasia yang selama ini tersimpan di balik sikap baik Arya, hingga janji yang ia ucapkan pada Teddy.
Ingatan itu berhenti pada satu titik. Janji. Ya. Itu janjiku. Dan akan kutepati apapun yang terjadi, Teddy. Kata-kata itu bergema di kepalanya, berulang-ulang, seperti mantra yang meneguhkan langkahnya.
Tepat sebelum memasuki ruangan Bagas, Mira berhenti. Bara duduk di lantai, tubuh kecilnya terguncang oleh tangis melihat pergulatan Teddy yang sedang berjuang melawan bodyguard Arya.
“Mama … Mama … O-Om Deddy,” isaknya putus-putus.
Hati Mira seperti disayat. Ia menunduk, berusaha menyentuh wajah putranya, tapi seperti sebelumnya—tangannya menembus udara kosong. Air mata menggenang, panas, menyakitkan. Meski demikian, ia memaksa bibirnya membentuk senyum paling lembut yang mampu ia berikan.
“Jangan menangis, Bara,” ucapnya penuh kehangatan. “Anak Mama bukan anak cengeng, kan?”
Bara mendadak menghentikan tangisannya. Ia berusaha menahan napasnya yang putus-putus karena tangisannya.
“Ini cuma permainan. Sebentar lagi selesai kok. Mama yang akan selesaikan. Tutup mata kamu … nanti kalau Om Teddy datang, baru buka. Kalau sudah begitu, permainannya selesai, sayang,” lanjut Mira lembut. “Bara paham, sayang?”
Bara mengangguk. Perlahan ia menutup matanya, tangisnya mereda. Cara lama yang biasa Mira pakai untuk menenangkan anaknya—dan meski kini ia hanya arwah, cara itu masih berhasil.
Mira berdiri, menatap putranya untuk terakhir kalinya sebelum kembali menerobos pintu rahasia. Sekali lagi, ia mencoba menyentuh putranya, tapi hasilnya tetap tidak berubah—gagal. Di titik itu, ia mengucapkan kalimat perpisahannya pada Bara, di dalam hatinya: Maaf, Bara … mungkin Mama enggak sempat pamit sama kamu, sayang.
Segera setelah mengatakan itu, ia menembus pintu rahasia. Di dalam … ia melihat Bagas. Sekarat.
Wajah pria itu merah padam, napasnya terputus-putus, matanya melebar menahan sisa kesadaran yang hampir padam. Cengkraman Arya di lehernya begitu kuat hingga sendi-sendi jari pria itu memutih.
“Mi … Mira …” Bagas berbisik lirih, suara yang nyaris tak terdengar.
Mira menutup mulutnya, terisak. Bagaimana keadaan tubuhnya sekarang, mendengar namanya dipanggil oleh Bagas dengan suara penuh sekarat itu membuat sadar—di mata Bagas, ia masih seseorang yang penting. Seseorang yang dicintainya.
Dan di titik itu, kenangan lama menyeruak.
“Saat bayangan kematian datang, otak manusia akan memutar kenangan terakhirnya—-kebahagiaan, penyesalan, wajah-wajah orang yang dicintai.”
Ia pernah mendengarnya dari Bagas. Dan ia sudah pernah mengalaminya sendiri.
Dulu ia berpikir, saat kematian mendekat, wajah terakhir yang ingin ia lihat hanyalah Bara. Tapi kini, di antara kepingan itu, ada wajah lain—seseorang yang pernah ia cinta, dan pernah ia sesali sepanjang hidup.
Bagas.
Ia mengingat doa kecilnya di detik-detik kematian menjemputnya: Jika ini benar hari kematianku, biarkan sekali saja aku bertemu dengannya lagi setelah ini.
Ia lupa pernah memohon itu. Lupa karena sisa waktunya dipenuhi ketakutan akan kehilangan Bara. Tapi kini, melihat Bagas sekarat, ia akhirnya mengerti …
Pertemuan mereka setelah kematiannya, bukanlah kebetulan. Dunia—atau Tuhan—telah menjawab doanya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan. Pertemuan itu membuatnya kembali bertemu dengan orang yang paling ingin Mira temui. Pertemuan itu juga menyeretnya ke kebenaran kelam keluarganya, ke pilihan-pilihan yang dibuat orang-orang di sekitarnya, dan akhirnya, ke takdir yang merenggut nyawanya.
“Bagas …” bisiknya. Air matanya jatuh deras. Ia tahu. Setelah ini, ia mungkin tak akan pernah melihat pria itu lagi. Tapi … jika bisa membuat pria itu tetap hidup, maka itu sudah lebih dari cukup.