Sebelum Dia Hilang, Berubah Jadi Kenangan

mahes.varaa
Chapter #34

SEBELUM DIA HILANG, BERUBAH JADI KENANGAN PART 5

“Bagas …” 

Bagas membuka matanya perlahan. Ia tidak lagi berada di ruang sempit yang berbau lembab dan ketakutan. Kini ia berdiri di sebuah halaman yang begitu ia kenal—jalanan tidak jauh dari rumah Mira dan Arya. Udara terasa tenang, seolah dunia sengaja menahan napas. 

Di sampingnya berdiri Teddy. 

Di kejauhan, Bagas melihat Mira dan Arya berjalan santai di depan luar pagar besar rumah itu. Mira menggendong seorang anak kecil dalam pelukannya, wajahnya dipenuhi senyum lembut. Pemandangan itu menancap di dada Bagas, membawa ingatan lama yang segera ia kenali. 

Ia ingat momen itu. Salah satu momen yang paling ia sesali—terutama setelah mendengar pengakuan Arya. 

“Tetap saja, Gas! Kamu pantas marah! Kamu pantas dapat penjelasan!” Suara Teddy menggema, penuh emosi. Tangan pria itu mengepal, jelas tidak terima dengan keputusan Mira yang menikahi Arya, padahal seharusnya … bersama Bagas. 

“Kalau Mira sudah menyerah soal aku,” ucap Bagas kala itu, lirih tanpa ia sadari, “aku juga enggak punya hak lagi buat ganggu kebahagiaannya.” 

Kalimat itu—

Bagas ingat betul–ia ucapkan di hari ketika perasaannya tak lagi sanggup menahan luka melihat Mira bahagia bersama pria lain. 

Ia berbalik dan menepuk bahu Teddy. “Maaf, Ted. Tapi … ayo pergi.” 

Bagas melangkah menjauh, sama seperti yang ia lakukan. Teddy berjalan lebih dulu, meninggalkannya beberapa langkah di depan. Namun tiba-tiba, langkah Bagas terhenti. 

Suara Arya menggema di kepalanya. Suara pengakuan yang ia dengar menjelang ajal—pelan, jujur, dan menyayat hingga menyisakan sesal yang tak berujung. 

“Hari itu … aku tahu kamu datang. Sejujurnya … aku sempat menyesal. Andai hari itu kamu muncul di depan adikku, mungkin Mira masih hidup sekarang. Itu yang sempat terlintas di pikiranku.” 

Langkah kaki Bagas seharusnya terus mengikuti Teddy—pergi dari tempat itu menghilang dari hidup Mira, dan melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang perempuan itu. Namun kali ini … ia tidak ingin menyesal lagi. 

Tidak untuk kedua kalinya. 

Tidak setelah ia kehilangan Mira 

Bagas berbalik. Ia berlari. Berlari sekencang yang ia bisa, menghampiri sosok perempuan itu sambil memanggil namanya dengan suara pecah dan air mata yang tumpah tanpa bisa ia cegah. 

“Mira!” 

Seharusnya … saat itu ia melakukan hal ini. Dalam benaknya, kalimat itu terus menggema. Seharusnya saat itu, ia berbalik dan berteriak memanggil nama itu. 

“Mira!” 

Sosok Arya di samping Mira mendadak memudar, lalu pecah menjadi butiran cahaya yang melayang perlahan sebelum lenyap sepenuhnya. Bagas tersentak. Jantungnya berdegup kencang. 

Namun keterkejutannya belum berakhir. 

Mira menoleh ke arahnya. Ia tersenyum—senyum paling indah yang pernah Bagas lihat sepanjang hidupnya. 

Perempuan itu lalu menyerahkan anak dalam pelukannya kepada Bagas. “Ini pertemuan terakhir kita, Bagas.” 

“Hah?” Bagas refleks menerima bayi itu, wajahnya membeku. “Kenapa? Kamu mau ke mana? Kenapa kamu kasihkan anakmu padaku?” 

Mira tersenyum lagi. Senyum yang hangat tapi terasa seperti perpisahan. Ia melangkah maju dan memeluk tubuh Bagas—yang kini berdiri sambil menggendong Bara. 

Lihat selengkapnya