Dua hari kemudian.
Seharian penuh kemarin, Bagas menghabiskan waktunya di rumah sakit. Pemeriksaan demi pemeriksaan harus ia jalani—memastikan kondisinya pasca penyekapan dan kekerasan yang ia alami di tangan Arya. Secara fisik, tubuhnya memang masih sanggup berdiri dan berjalan. Namun di balik itu, ada luka-luka yang tak sepenuhnya kasatmata.
Seharusnya Teddy duduk menemaninya di rumah sakit. Sebagai sahabat. Sebagai satu-satunya keluarga yang Bagas miliki. Namun pria itu justru tenggelam dalam kesibukan yang tak bisa ditinggalkan—mengurus pemakaman Mira, menenangkan dan merawat Bara, serta membantu Maudy dalam proses penyelidikan dan kesaksian.
Maudy, tentu saja, telah “merapikan” banyak hal. Dengan pengalamannya, ia sedikit mengarang ulang cerita—cukup untuk menutupi kenyataan bahwa Bagas bisa melihat dan berbicara dengan arwah. Bukan kali pertama wanita itu menyimpan rahasia semacam ini. Teddy hanya perlu menambahkan sedikit detail, memberi kesaksian yang sudah lebih dulu diarahkan oleh Maudy sebelum semuanya berakhir.
Selama Bagas dirawat, Teddy tak sempat menjenguknya sama sekali. Lagipula, luka-luka yang Bagas terima tidak tergolong parah hingga membutuhkan banyak kunjungan. Teddy sendiri sebenarnya ikut terluka, meski hanya lebam dan goresan. Ia sudah menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk kemungkinan gegar otak—hasilnya negatif.
Hari ini, Bagas akhirnya diperbolehkan pulang.
Teddy sempat bersikeras ingin menjemputnya. Namun karena belum terbiasa mengurus Bara, ia terlihat sedikit kewalahan. Bagas, yang merasa sudah cukup merepotkan sahabatnya—padahal menjaga Bara seharusnya menjadi tanggung jawabnya—hanya bisa memahami.
“Jemput aku di kantor kepolisian saja,” ujar Bagas melalui sambungan telepon.
“Apa Maudy maksa kamu ke sana?” oceh Teddy dan seberang. “Kamu baru keluar dari rumah sakit, Gas!”
Bagas terkekeh kecil mendengar nada khawatir sahabatnya. “Bukan Maudy,” jawabnya lembut tapi tegas. “Aku sendiri yang mau ke sana.”
“Kamu masih belum puas bicara sama Arya setelah semua yang terjadi?” omel Teddy lagi.
Bagas mengangguk pelan, meski tahu gerakan itu tak akan terlihat. “Ehm. Ada yang belum terjawab. Aku perlu bicara dengannya.”
“Kalau gitu … aku jemput di sana,” kata Teddy. “Sekalian aku bawa Bara.”
“Ya.”
Sambungan terputus.
Bagas mengganti pakaian dengan baju bersih yang dibawakan Teddy kemarin. Ia mencuci muka, menyikat gigi, lalu menatap bayangannya di cermin. Kedua pergelangan tangannya masih diperban, begitu juga pergelangan kakinya—bekas perjuangan putus asa melawan ikatan yang menahannya di kursi.
Lehernya sebenarnya masih menyimpan bekas kemerahan, jejak cekikan Arya. Beruntung Teddy cukup sigap membawakan pakaian berkerah tinggi. Turtleneck itu terasa agak gerah, mengingat cuaca di luar cukup cerah. Namun Bagas lebih memilih menahan panas daripada menahan tatapan penuh tanya.
Ia turun ke lobi rumah sakit tempatnya bekerja. Kabar mengenai penyekapan dan percobaan pembunuhan terhadapnya telah menyebar dengan cepat. Banyak rekan kerja yang ingin bertanya, tapi memilih menahan diri. Mereka menyapanya seolah semua baik-baik saja—seperti Bagas yang mereka kenal sehari-hari.
Seorang sekuriti memanggilkan taksi untuknya.
“Taksi.”