Bagas duduk berhadapan dengan Arya di ruang interogasi yang dingin dan hening. Meja besi memisahkan mereka, memantulkan cahaya lampu putih yang terasa menyilaukan. Di balik kaca satu arah, hanya ada satu pasang mata yang mengawasi—Maudy. Sejak awal, Bagas memang memintanya untuk menjadi satu-satunya saksi. Ia perlu berjaga-jaga, jika pembicaraan ini memaksanya membuka rahasia kecil tentang matanya. Maudy menyetujui permintaan itu tanpa banyak tanya.
Percakapan mereka dimulai dengan basa-basi hambar. Bagas menanyakan bagaimana Arya menghabiskan dua hari terakhirnya di sel dan ruang interogasi. Pertanyaan yang seharusnya sederhana, nyaris formal. Namun Arya memilih diam.
Wajah pria itu gelap, matanya cekung dan lelah. Tapi yang mencolok bukanlah fisiknya—melainkan ekspresinya. Arya tampak seperti seseorang yang telah kehilangan jiwanya, kehilangan alasan untuk tetap hidup. Tatapannya kosong, seolah tak ada lagi yang ingin ia perjuangkan.
Basa-basi itu jelas tak akan membawa ke mana-mana.
Bagas menarik napas, lalu langsung menuju tujuan kedatangannya. “Kenapa kamu ingin membunuhku?” tanyanya tegas, dingin.
Kali ini, tak ada keraguan dalam suaranya. Bagas sudah memantapkan diri. Mira telah menghilang—benar-benar pergi—tanpa sempat berpamitan dengan putranya, tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal dengan layak, hanya demi menyelamatkan semua orang. Pengorbanan sebesar itu tak mungkin ia abaikan. Ia perlu tahu … untuk apa semua itu terjadi.
Arya bersandar pada sandaran kursinya. Ia menatap Bagas dalam-dalam, tatapan yang sulit diterjemahkan. Ada kesedihan di sana, ada kecemburuan, ada pula sesuatu yang menyerupai penyesalan. Tapi mana yang paling dominan, Bagas tak bisa memastikan.
“Bukankah aku sudah bilang?” jawab Arya datar. Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi. “Aku ingin membunuhmu agar kamu bisa menemani Mira. Aku punya janji lama dengan adikku tersayang.”
Bagas mengembuskan napas panjang. Jawaban itu lagi. Jawaban yang sama, yang terasa kosong dan tak memuaskan.
“Perceraianmu dengan Mira terjadi cukup lama,” ucapnya pelan, tapi menekan. “Kamu harusnya … punya banyak waktu untuk jujur pada Mira—mengakui kebohonganmu soal aku yang masih hidup. Dalam jeda waktu itu … kenapa kamu terus menunda? Apa yang sebenarnya terjadi selama jeda itu, Arya?”
Arya terdiam.
Bukan diam yang ragu, melainkan diam yang keras kepala. Diam yang menjadi pernyataan bahwa apapun yang terjadi, ia tak akan membuka mulutnya.
Bagas menoleh sebentar ke arah kaca satu arah. Ia menyentuh telinganya—kode yang telah disepakati. Maudy paham. Alat perekam di ruang interogasi akan dimatikan setelah ini.
Bagas kembali menatap Arya. Kali ini lebih tajam. Ada bara kemarahan yang tak lagi ia sembunyikan.
“Kamu bilang kamu kehilangan Mira. Kamu bilang kamu menyesali kematiannya,” katanya lirih tapi menusuk. “Tapi apa kamu tahu? Dengan tindakanmu berusaha membunuhku … kamu membuat Mira merasakan kematian untuk kedua kalinya.”
Arya tetap diam.
Namun Bagas tak berhenti.
“Hari itu …” lanjutnya perlahan. “Saat kamu berusaha membunuhku, sesaat sebelum getaran itu terjadi … kamu mendengar teriakan Mira yang memanggilmu, kan?”
Tubuh Arya tersentak.
Reaksi itu terlalu cepat, terlalu jujur untuk disangkal.
Itu adalah bukti. Teriakan terakhir Mira—teriakan yang ia keluarkan dengan sisa tenaga yang ia miliki—benar-benar sampai pada Arya. Teriakan itulah yang menghentikan tangannya, yang menggagalkan pembunuhan itu.