“Papa!! Papa!!”
Bagas melangkah keluar dari kantor kepolisian dengan kepala terasa kosong. Langkah kakinya otomatis, seolah tubuhnya bergerak sendiri tanpa benar-benar disertai kesadaran. Di sampingnya, Maudy berjalan mengantar, tapi Bagas hampir tak mendengar apapun yang dikatakan perempuan itu. Pikirannya masih terperangkap di ruang interogasi—pada suara Arya, pada pengakuan terakhir pria itu yang terus berputar, menggema, menghantam batinnya tanpa henti.
“Papa! Papa!”
Teriakan itu menyambar kesadarannya.
Bagas tersentak begitu matanya menangkap sosok kecil yang tersenyum cerah di pelukan Teddy. Bara.
“Anak ini …” omel Teddy, sembari memberi peringatan. “Sudah aku bilang, itu bukan papamu, Nak! Panggil Om Bagas, Bara! Kenapa kamu sulit sekali dibilangin, hah?”
Anak laki-laki itu tidak peduli dengan omelan Teddy. Ia menggeliat, memaksa turun, lalu berlari dengan langkah-langkah kecil yang tergesa ke arahnya. Sebelum Bagas sempat bereaksi, tubuh kecil itu sudah memeluk kakinya erat-erat, seolah takut ia akan menghilang.
Dadanya mendadak sesak.
Sebuah ingatan lama menyusup ke benaknya, begitu tajam hingga membuat napasnya tertahan.
Deja vu.
Ia tak ingat kapan tepatnya peristiwa itu terjadi. Yang ia ingat hanyalah sebuah lorong rumah sakit, bau antiseptik yang menusuk, dan seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya. Anak itu berlari ke arahnya, memeluk kakinya—persis seperti sekarang—dan memanggilnya dengan satu kata yang sama.
Papa.
Saat itu, Bagas memarahi anak itu. Memintanya berhenti memanggil sembarang orang dengan panggilan seintim itu. Ia menganggapnya hanya kebetulan. Hal remeh.
Tapi kini, ketika kejadian itu terulang dengan cara yang hampir yang sama, kepercayaan yang sebelumnya ia tolak mentah-mentah … runtuh.
Pengakuan Arya kembali menggema di kepalanya, jernih dan kejam.
“Bara, nama itu …” suara Arya terngiang, datar dan dingin. “Kamu tahu kenapa Mira memberikan nama itu pada putranya?”
Bagas ingat bagaimana ia terdiam kala itu. Bingung. Tidak memahami arah pembicaraan pria di hadapannya. Ia bahkan heran—mengapa Arya menyebut anak itu sebagai putra Mira, bukan putranya sendiri.
“Bara, nama itu adalah gabungan dari dua nama,” lanjut Arya. “Bagas dan Mira. Kamu tentu tahu artinya, Bagas.”
Bagas menunduk perlahan. Bibirnya bergetar. Jantungnya berdentum keras, seolah berusaha keluar dari dadanya.
Pengakuan itu bukan sesuatu yang pernah ia duga. Bahkan tidak pernah melintas di pikirannya. Jika sebelumnya ia berniat menghancurkan Arya dengan rahasia tentang matanya—tentang kemampuannya melihat arwah—kini justru dirinya yang dihantam lebih keras, tanpa perlawanan.
“Menurutmu kenapa Mira mau menikah denganku,” suara Arya kembali terngiang, dingin, nyaris kejam, “bahkan setelah dia mendengar kabar kematianmu?”
Bagas ingat bagaimana udara di ruang interogasi terasa makin menekan.
“Mira menikah denganku karena dia sedang mengandung anakmu, Bagas,” lanjut Arya. “Ibu mengancamnya. Jika dia menolak, Ibu akan memaksanya menggugurkan kandungan itu. Dan bahkan jika Mira berhasil melindungi kandungannya, ketika anak itu lahir, Ibu akan mengirimnya jauh—membuat Mira tak pernah bisa menemukannya.”
Bagas mengepalkan tangannya. Pengakuan itu, memukulnya tanpa ampun.
“Alasan Mira mau menikah denganku,” suara Arya bergetar tipis di akhir kalimatnya, “adalah untuk melindungi satu-satunya hal yang kamu tinggalkan untuknya.”
Pelukan kecil di kakinya mengencang.
Bagas berjongkok perlahan, menyamakan tinggi badannya dengan Bara. Ia menatap anak laki-laki itu dalam-dalam, seolah ingin menghapal setiap garis wajahnya. Ada getaran aneh di dadanya—hangat sekaligus perih. Samar-samar, ingatan lama menyelinap ke benaknya. Ingatan tentang pertemuan mereka bertahun-tahun lalu, di sebuah rumah sakit. Ia masih ingat jelas bagaimana petugas pusat informasi waktu itu sempat bercanda, mengatakan bahwa wajahnya dan anak kecil di hadapannya terlihat mirip.
Dulu ia menertawakannya.
Sekarang—setelah menatap Bara langsung dari jarak sedekat ini, tanpa sekat apapun—Bagas baru benar-benar menyadari kebenaran ucapan itu. Alis yang sama, garis hidung yang serupa, bahkan sorot mata yang mengingatkannya pada bayangan dirinya sendiri di masa lalu. Seolah sedang menatap pantulan waktu.
“Papa!” panggil Bara lagu, suaranya polos, tanpa ragu.
Teddy buru-buru menghampiri. Nada suaranya refleks meninggi. “Hei, Bara. Dari kemarin kamu terus memanggil temanku ini Papa. Sudah aku bilang, dia bukan—”
Maudy menarik cepat lengan Teddy, menghentikan ucapannya di tengah jalan. Ia menggeleng pelan, memberi isyarat tegas lewat sorot matanya.
“Apa? Kenapa?” bisik Teddy kesal, tak mengerti.