Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #1

Bab 1 Lagu Yang Tidak Pernah Selesai

Pada pukul satu lewat tujuh belas menit, Amara Pradipta tiba-tiba nggak bisa mendengar.

Begitu saja.

Nggak ada ledakan. Nggak ada sakit kepala. Bahkan nggak ada tanda apa-apa sebelumnya.

Tadi masih ada lagu.

Sekarang tinggal denging tipis dari headphone.

Amara diam beberapa detik.

Di monitor, lagu itu masih berjalan. Garis waktunya terus bergerak, warna biru menutup bagian abu-abu sedikit demi sedikit. Di video kecil sebelahnya, penyanyi itu masih membuka mulut.

Amara tahu bagian lagu yang sedang masuk.

Refreinnya sebentar lagi.

Dia nggak mendengar apa-apa.

“Jangan sekarang,” gumamnya.

Tangannya masih di meja kontrol. Jari telunjuknya sempat menyentuh tombol mikrofon, lalu mundur lagi. Dia mencoba mendengar dari sisi kiri headphone.

Denging.

Amara menekan sisi kiri lebih rapat ke telinga.

Dengingnya malah membesar.

“Ah, sial.”

Dia melepas headphone.

Di balik kaca, Bima masih sibuk dengan ponselnya.

Amara menatapnya beberapa detik.

Kalau ada yang rusak, Bima pasti sudah ribut. Lelaki itu bisa panik cuma gara-gara lampu indikator berkedip dua kali. Sekarang malah santai, kepala sedikit menunduk, jempolnya jalan terus.

Amara melihat panel audio.

Normal.

Meter suara bergerak.

Lagunya ada.

Berarti bukan dari lagunya.

Dia menelan ludah, lalu memasang headphone lagi.

Tetap denging.

Lalu denging itu hilang.

Amara sempat mengira suaranya balik.

Ternyata bukan.

Semuanya ikut hilang.

Amara membeku.

Studio yang biasanya penuh suara mendadak terasa kosong. Dia masih bisa melihat kipas pendingin bergerak. Bima menggeser kursi. Lampu kecil di panel berkedip seperti biasa.

Tapi nggak ada suara.

Amara menoleh ke jam digital.

01:17:43.

Lagu masih berjalan.

Dia tahu dari waktu yang berjalan di monitor.

Dua belas detik.

Amara menarik headphone dari telinga.

Mungkin kalau dilepas, suara akan kembali.

Nggak.

Bima mengangkat kepala. Bibirnya bergerak.

Amara menyipitkan mata.

Apa?

Bima mengangkat satu tangan.

Amara menunjuk telinga.

Bima kelihatan makin bingung.

Tujuh detik.

Amara melirik monitor lagi.

Sial.

Dia harus bicara.

Sekarang.

Nggak ada waktu buat mikirin ini serius atau nggak. Siaran nggak akan berhenti cuma karena penyiar mereka lagi punya masalah di balik kaca.

Tiga detik.

Amara menekan tombol mikrofon.

Lampu merah menyala.

Dia tersenyum otomatis.

Enam tahun kerja di radio ternyata cukup bikin tubuhnya tetap jalan sendiri, meskipun kepalanya sedang kacau.

“Kalau kalian masih bangun,” katanya, “mungkin lagi jatuh cinta. Atau lagi nyesel pernah jatuh cinta.”

Dia berhenti.

Biasanya musik masih terdengar di belakang.

Sekarang dia cuma bisa menebak.

Amara melirik Bima.

Lelaki itu mendadak menatapnya dengan mata besar.

Dia mengangkat dua jari.

Dua apa?

Dua detik?

Dua menit?

Amara mengangkat alis.

Bima menunjuk jam.

“Ya, aku juga tahu jam,” kata Amara, meskipun dia nggak yakin Bima bisa mendengarnya dari balik kaca.

Dia lanjut.

“Lagu barusan mungkin terdengar selesai. Kadang memang gitu. Lagunya udah berhenti, tapi di kepala kita masih jalan.”

Amara menelan ludah.

Meter suara di monitor bergerak.

Setidaknya suaranya masih keluar.

Komentar pendengar mulai masuk.

Mbak Amara, kok sedih banget malam ini?

Lagu tadi buat siapa?

Kak, aku lagi di tol dan kalimatmu nyebelin banget karena benar.

Amara hampir tertawa.

Mereka nggak tahu.

Bagus.

Biarkan saja.

Dia menarik napas pelan. Selama mereka masih bisa mendengarnya, setidaknya siaran masih jalan.

Lalu suara itu kembali.

Mendadak.

Denging, pendingin ruangan, suara listrik, klik mouse dari ruang operator, bahkan suara napasnya sendiri seperti masuk bersamaan.

Amara tersentak sampai hampir mencabut headphone.

“Anjir.”

Dia buru-buru mematikan mikrofon.

Bima langsung menekan tombol komunikasi.

“Mara, lagu habis hampir delapan detik lalu. Kamu kenapa bengong?”

Amara menatapnya.

Delapan detik?

Dia melihat monitor.

“Delapan?”

Bima mengangguk.

Lihat selengkapnya