Amara tidur dua jam.
Dalam mimpinya ia masih berada di studio, masih di depan mikrofon, masih tersenyum kepada pendengar seolah semuanya baik-baik saja. Lampu merah menyala. Pesan masuk bertumpuk. Bima beberapa kali menunjuk sesuatu dari balik kaca.
Tidak ada yang terdengar.
Amara mencoba menaikkan volume headphone.
Tidak ada.
Ia melepasnya, memasang lagi, menepuk-nepuk sisi kiri seperti orang bodoh yang yakin barang rusak bisa sembuh kalau dipukul.
Tetap tidak ada.
Lalu entah bagaimana semua orang di balik kaca tertawa. Amara bisa melihat mulut mereka terbuka, tetapi suaranya tidak pernah sampai.
Ia terbangun pukul tujuh lewat dua puluh dengan napas pendek dan telapak tangan basah.
Kamar masih gelap. Tirai belum dibuka. Pendingin ruangan masih menyala.
Amara tidak langsung bergerak.
Ia mendengarkan.
Dengung pendingin terdengar dari atas. Ada suara kendaraan samar dari jalan. Ada suara jam berdetak dari meja samping tempat tidur.
Ada.
Amara mengembuskan napas.
Denging tipis masih menempel di telinga kiri.
Tangannya naik ke telinga, menepuknya dua kali, lalu berhenti.
“Ngapain, sih.”
Ponselnya ada di lantai.
Ia meraba-raba sampai mendapatkannya. Pesan klinik masih terbuka.
Mohon jangan menunda.
Amara menatap pesan itu.
Dia masih bisa menunda. Setidaknya sebentar.
Mandi dulu. Cari makan. Tidur lagi. Ponsel dimatikan. Besok juga masih ada.
Lima menit kemudian dia sudah berdiri di depan lemari.
“Ya sudah.”
Di depan cermin, ia mengikat rambut menjadi ekor kuda. Matanya bengkak. Ia membuka concealer, menatap wajah sendiri, lalu mengoleskannya sedikit lebih banyak dari biasanya.
Bukan untuk dokter.
Dokter pasti sudah lihat orang yang lebih berantakan.
Amara cuma nggak suka kalau wajahnya kelihatan seperti orang yang baru saja menerima kabar buruk.
Padahal belum.
Belum ada yang bilang apa-apa.
Gedung rumah sakit itu terlalu terang.
Amara baru sadar setelah masuk. Di luar matahari sudah naik, tetapi pendinginnya bikin lantai lima terasa seperti ruangan yang tidak mengenal cuaca.
Klinik pendengaran berada di ujung koridor.
Dinding putih. Kursi putih. Pot tanaman yang kelihatan cuma buat pajangan.
Televisi di ruang tunggu menyala tanpa suara.
Seorang koki sedang mengaduk sesuatu di panci besar.
Teks berjalan di bawahnya bergerak cepat.
Amara sempat mencoba membaca, kehilangan satu kalimat, lalu berhenti.
Ia duduk paling dekat dengan pintu pemeriksaan.
Di seberang, seorang anak laki-laki memakai alat bantu dengar biru. Ibunya menunjukkan video di ponsel. Anak itu tertawa sampai tubuhnya ikut bergoyang.
Amara melihat ke sana.
Kemudian pura-pura mencari sesuatu di dalam tas.
Tidak ada yang perlu dicari.
Ia cuma tidak ingin melihat terlalu lama.
“Bu Amara Pradipta?”
Amara menutup tas.
“Ya.”
Dokter yang menunggunya bernama Ratih Wicaksana. Perempuan sekitar empat puluh tahun itu pernah memeriksanya dua minggu lalu, setelah Amara tiga kali salah mendengar instruksi operator di studio.
Di meja dokter ada beberapa lembar hasil audiometri.
Garis merah dan biru turun di beberapa bagian.
Amara memandangnya.
“Ini grafik yang bikin orang langsung miskin?”
Dokter Ratih melihat grafik.
“Nggak segitunya.”
“Sayang.”
“Silakan duduk.”
Amara duduk.
Tasnya ia taruh di pangkuan. Pegangannya digenggam sampai telapak tangannya sakit.
Dokter Ratih merapikan beberapa lembar kertas, mencari satu halaman, membaliknya, lalu akhirnya memutar hasil pemeriksaan ke arah Amara.
“Saya jelaskan pelan-pelan.”
Amara menarik napas.
“Dok, saya kerja malam. Kalau kabar jelek, bilang aja.”
Dokter Ratih melihatnya sebentar.
“Penurunan pendengaran sensorineural.”
Amara menunggu.
“Untuk sementara lebih berat di telinga kiri. Telinga kanan juga mulai menunjukkan penurunan pada frekuensi tertentu.”
“Oh.”
Cuma itu yang keluar.
Amara menatap grafik.
Garis-garis itu kelihatan biasa saja.
Menyebalkan.
“Bisa sembuh?”
“Belum bisa dijanjikan.”
“Bisa berhenti?”
“Kita masih perlu pemeriksaan lanjutan buat cari penyebabnya. Pada beberapa kondisi bisa stabil. Pada kondisi lain bisa berlangsung perlahan.”
“Perlahan itu berapa lama?”
“Nggak ada jawaban pasti.”
“Bulan?”
“Bisa.”
“Tahun?”
“Bisa.”
Ia melihat lagi grafik itu.
“Besok malam?”
Dokter Ratih tidak menjawab dengan cepat.
“Episode tadi malam perlu kita anggap serius. Tapi bukan berarti besok Anda akan kehilangan seluruh pendengaran.”
Amara menyandarkan punggung.
Rahangnya ternyata sakit.
Ia menggosoknya dengan ibu jari.
“Jadi sekarang?”
“Kita jadwalkan MRI dan pemeriksaan darah. Saya juga ingin Anda mulai mempertimbangkan alat bantu dengar untuk telinga kiri.”
Amara tertawa kecil.
“Saya penyiar radio.”
“Saya tahu.”
“Saya harus bisa dengar.”
Dokter Ratih mengambil pulpen lalu memutarnya sekali di antara jari.
“Anda juga kan banyak bicara.”
Amara menatapnya.
“Ya, tapi saya nggak dibayar cuma buat bicara.”
“Saya tahu.”
“Nah.”