Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #3

Bab 3 Lelaki Yang Berbicara Dengan Tangannya

Amara datang sembilan menit terlambat ke rapat pukul sembilan pagi.

Menurutnya, masih bisa dimaafkan.

Ia baru tidur pukul empat setelah siaran. Alarm pukul tujuh tadi sebenarnya berbunyi, cuma Amara baru sadar setelah entah berapa kali alarm itu mati sendiri. Setelah itu ia menghabiskan waktu cukup lama berdiri di depan lemari sambil memikirkan satu hal yang seharusnya sederhana: hasil pemeriksaan dokter dibawa ke kantor atau ditinggal di apartemen?

Kalau dibawa, mungkin ada yang melihat.

Kalau ditinggal, ia bakal kepikiran.

Akhirnya map putih itu masuk ke dasar tas.

Bukan karena ia sudah siap bercerita. Justru sebaliknya. Ia belum ingin siapa-siapa tahu. Cuma rasanya aneh pergi tanpa membawa map yang sejak kemarin terus dipikirkannya.

Pintu ruang rapat belum tertutup ketika ia sampai.

Dari koridor, Amara melihat Nadia duduk dekat layar presentasi. Rendra berdiri sambil membaca ponsel. Tiga orang dari pemasaran sedang bicara bersamaan di ujung meja.

Dan Elian duduk membelakanginya.

Amara mengenalinya sebelum melihat wajah.

Lengan kemeja digulung sampai siku.

Lagi.

Elian sedang melakukan panggilan video melalui tablet. Dari tempat Amara berdiri, suara dari perangkat itu tidak terdengar. Tangannya bergerak cepat. Sesekali ia berhenti, melihat perempuan di layar, lalu menjawab lagi.

Amara tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Ia juga nggak terlalu paham bahasa isyarat.

Beberapa gerakan pernah ia lihat di video atau televisi. Yang ini berbeda. Ekspresi Elian ikut berubah mengikuti gerakan tangannya. Perempuan di layar tertawa. Elian menggeleng, kelihatan sebal.

Amara masih berdiri di pintu.

Ia baru ingat dirinya terlambat ketika Nadia menoleh.

“Akhirnya makhluk malam kita datang.”

Beberapa kepala ikut berbalik.

Elian menutup panggilan.

“Maaf,” kata Amara.

Nadia menunjuk jam tangannya.

“Sembilan menit.”

“Masih satu digit.”

“Bangga?”

“Lumayan.”

Rendra menghela napas dari dekat meja.

“Amara Pradipta. Penyiar yang kalau datang pagi harus disambut seperti gerhana.”

“Gerhana datang tepat waktu.”

“Jangan mulai.”

“Ya sudah.”

Salah satu staf pemasaran tertawa. Rendra hanya menatapnya.

Amara berjalan ke kursi kosong di samping Nadia. Saat melewati Elian, ia berhenti sebentar.

Lelaki itu sudah berdiri.

“Amara,” katanya.

“Dari kemarin kita belum kenalan, ya?”

“Belum secara resmi.”

Amara mengulurkan tangan.

“Amara.”

“Elian.”

Jabat tangan mereka singkat.

Hangat.

Amara langsung menarik tangannya lagi.

“Kita pernah ketemu.”

Elian mengangguk kecil.

“Pernah.”

“Saya kira kamu mau pura-pura lupa.”

“Saya nggak bilang begitu.”

“Waktu itu berdiri di luar studio sambil lihat-lihat orang.”

“Saya tidak sedang lihat-lihat orang.”

“Terus?”

“Saya sedang mengamati alur kerja siaran malam.”

Amara menatapnya.

“Pukul tiga pagi?”

“Sekitar segitu.”

“Dan mengetuk telinga saya?”

Nadia menoleh.

“Mengetuk telinga siapa?”

“Enggak ada,” kata Amara cepat.

“Yang di studio,” kata Elian hampir bersamaan.

Amara meliriknya.

Rendra mengetuk meja dengan ujung pulpen.

“Bisa kita mulai sebelum ini jadi acara gosip?”

Presentasi dimulai dengan beberapa angka, lalu tujuan programnya: stasiun ingin membuat program yang bisa diikuti lebih banyak orang, termasuk pendengar Tuli dan mereka yang mengalami gangguan pendengaran.

Di layar muncul beberapa rencana.

Captioning.

Transkrip otomatis.

Bahasa isyarat.

Video.

Dimas dari pemasaran mengangkat tangan.

“Bukannya radio memang dibuat buat didengar?”

Nadia langsung menoleh.

Amara menahan tawa.

Elian mengambil pengendali presentasi.

“Dulu memang begitu.”

Dimas menunggu.

“Sekarang orang nonton siaran lewat video juga. Potongan acara, live streaming, macam-macam.”

“Berarti bikin acara bahasa isyarat?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Ya bikin acaranya lebih gampang diikuti.”

Dimas mengangguk, tetapi masih kelihatan belum puas.

“Caranya?”

Elian menunjuk layar.

“Sebagian sudah ada di situ. Sisanya kita coba satu-satu.”

“Berapa lama?”

“Kalau semua ditanya sekarang, sampai makan siang.”

Beberapa orang tertawa.

Dimas ikut tertawa kecil.

Rendra segera membagikan tugas.

Nadia menangani produksi. Tim digital mengurus teks dan video. Amara dipilih sebagai pembawa acara utama.

Amara langsung mengangkat tangan.

“Kenapa saya?”

“Karena kamu penyiar paling dikenal di slot malam.”

“Kalau programnya soal aksesibilitas, kenapa nggak pilih orang yang sudah bisa bahasa isyarat?”

“Kamu belajar.”

“Berapa lama?”

“Empat minggu.”

Amara menoleh ke Elian.

“Cukup?”

“Untuk apa?”

“Belajar bahasa isyarat.”

“Tergantung.”

“Tergantung apa?”

“Kamu mau bisa sampai mana.”

Amara memicingkan mata.

Rendra menyela, “Kita punya target.”

“Targetnya sponsor senang?”

Elian meliriknya.

“Kalau cuma begitu, sehari kelar.”

Amara menunggu.

Elian melanjutkan, “Hafalin gerakannya, foto, ya selesai.”

Dimas langsung menunduk, bahunya bergerak menahan tawa.

Amara ikut menahan tawa.

Rendra menatap Elian.

“Kami serius.”

“Saya juga.”

Amara akhirnya tersenyum.

Sedikit saja.

Orang ini ternyata lumayan.

Rapat berjalan lebih lama dari rencana.

Nadia membahas jadwal uji coba. Dimas mempertanyakan biaya. Tim digital ribut soal teks otomatis. Rendra sesekali menjawab sambil tetap melihat ponselnya.

Lalu semua orang mulai bicara.

Bukan lagi satu-satu.

Dua orang di sebelah kanan bicara bersamaan. Dimas menyela. Nadia mengatakan sesuatu dari depan. Ada yang membahas jadwal siaran. Seseorang di belakangnya bertanya soal latihan.

Amara awalnya masih mencoba mengikuti.

Satu kalimat.

Lalu kalimat lain.

Kemudian semuanya bercampur.

Ia melihat Dimas.

Bibirnya bergerak.

Amara menangkap satu kata.

“...malam...”

Apa?

Dimas melanjutkan.

Amara menunggu Dimas selesai, tapi Rendra sudah masuk dari ujung meja.

“Bukan begitu.”

Lihat selengkapnya