Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #4

Bab 4 Langit Pukul Dua

Selama tiga hari berikutnya, Amara lumayan berhasil menghindari obrolan pribadi dengan Elian.

Bukan orangnya. Itu susah. Mereka masih ketemu di dua rapat, satu simulasi siaran, dan satu sesi pengenalan bahasa isyarat. Cuma setiap kali ada kemungkinan mereka tinggal berdua, Amara mendadak menemukan kegiatan lain.

Elian berdiri dekat meja kopi, Amara ingat belum minum.

Elian masuk lift, tangga mendadak terasa menarik.

Ketika lelaki itu mengirim pesan untuk membahas sistem komunikasi di studio, Amara membalas dengan jadwal pukul empat lewat sepuluh pagi.

Elian menjawab:

Baik. Saya masih bangun.

Amara membaca pesan itu dua kali.

Entah nyindir atau memang belum tidur.

Ia memilih tidak mencari tahu.

Kamis malam, Elian datang ke studio.

“Kenapa harus malam?”

Elian sedang bicara dengan Bima ketika Amara masuk ke ruang operator.

“Karena yang mau diubah itu program kamu.”

Amara menatapnya.

“Yang akan diubah apa?”

“Program.”

“Ya, aku tahu. Maksudku—”

Ia berhenti sendiri.

Bima menoleh.

Amara mengibaskan tangan.

“Sudahlah.”

Elian menunggu sebentar.

“Kamu sudah lihat siaranku minggu lalu,” kata Amara.

“Minggu lalu saya cuma sempat lihat delapan detik terakhir lagunya.”

Amara membuka botol air. Tutupnya terpental dan jatuh ke lantai.

Bima melihat tutup botol itu.

Amara ikut melihat.

“Bagus.”

Bima menahan senyum.

“Apa?”

“Belum mulai siaran sudah bikin keributan.”

“Bantuin.”

Bima mengambil tutup botol itu dan meletakkannya di meja.

Amara mengambilnya.

“Itu kan sudah lewat.”

Elian menatapnya.

“Kalau udah lewat, kenapa masih dibahas?”

“Karena dari tadi kamu berdiri di situ kayak lagi nyari salah orang.”

Bima batuk untuk menutupi tawa.

Elian meliriknya.

“Memangnya kelihatan begitu?”

“Bukan jelek,” kata Bima. “Cuma kayak orang yang tahu sesuatu.”

“Terima kasih. Sangat membantu.”

Elian menaruh tablet di meja operator.

“Saya cuma mau lihat alur kerja, posisi layar, sama komunikasi dari ruang kontrol.”

“Nggak boleh kasih nilai.”

“Saya bukan juri.”

“Jangan nyatet kalau aku salah sebut nama sponsor.”

Elian berpikir sebentar.

“Kalau salahnya lucu gimana?”

“Bima yang hapus.”

Bima langsung mengangkat tangan.

“Saya nggak mau terlibat.”

“Katamu minggu lalu kalau aku datang lagi tanpa kopi, akses mikrofonnya mau diputus.”

“Itu kebijakan kantor.”

“Sejak kapan?”

“Sejak kamu nggak bawa kopi.”

Amara menatapnya.

“Gue benci kalian berdua.”

“Belum siaran sudah benci orang,” kata Bima.

“Bima.”

“Ya?”

“Diam.”

Amara masuk studio.

Malam itu ia datang lebih awal. Perangkat sudah diperiksa. Headphone cadangan diletakkan di sebelah kanan. Di bawah monitor, kertas kecil berisi waktu mulai dan selesai setiap lagu tertempel agak miring.

Ia merapikannya.

Miring lagi.

Ia biarkan.

Di studio selalu ada suara-suara kecil yang tidak pernah masuk siaran: dengung pendingin ruangan, kipas komputer yang sesekali berubah nada, bunyi klik dari tombol interkom, dan kursi operator yang berdecit setiap kali Bima menggeser badan.

Biasanya semua itu menyatu begitu saja.

Malam ini Amara mendengar satu per satu.

Ia tidak tahu kenapa.

Mungkin karena sekarang ia memperhatikan.

Mungkin juga karena sejak pemeriksaan dokter, ia jadi terlalu sadar terhadap sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia pikirkan.

Pukul sebelas, lampu mikrofon menyala.

“Selamat malam buat yang belum tidur karena pekerjaan, pikiran, atau keputusan buruk setelah tengah malam.”

Pesan pendengar mulai masuk.

Satu jam pertama berjalan lancar. Ada mahasiswa yang takut pulang karena nilai kuliahnya buruk. Ada pengemudi truk yang meminta lagu untuk istrinya. Ada seorang pendengar yang ingin mengirim lagu kepada mantan.

Amara menolak.

“Kalau mantanmu sudah menikah, jangan kirim lagu. Kirim doa. Itu juga dari jauh.”

Bima menekan interkom.

“Pendengar kita turun satu karena kamu menghancurkan harapannya.”

“Bagus. Berarti satu rumah tangga mungkin selamat.”

Di balik kaca, Elian sedang mencatat.

Amara menunjuknya.

“Nah. Dia lagi. Catat tuh. Saya baru saja menyelamatkan keluarga orang.”

Elian mengangkat tabletnya.

Di layar tertulis:

Posisi teks komentar terlalu jauh dari monitor utama.

Amara membaca.

Kemudian melihat monitor di sebelah kirinya.

Memang agak jauh.

Ia harus terus memindahkan pandangan.

“Nyebelin.”

Elian mengangkat bahu.

“Faktanya begitu.”

Amara hendak membalas, tetapi musik pembuka sudah masuk.

Ia buru-buru mengenakan headphone.

“Lihat? Gara-gara kamu.”

“Gara-gara saya apa?”

“Lupa.”

Ia menekan tombol.

Jingle masuk.

Amara hampir terlambat mengambil mikrofon.

Bima menunjuk jam dari balik kaca.

Amara mengacungkan jari tengah.

Bima tertawa.

Amara ikut tertawa, lalu kembali membaca pesan pendengar berikutnya.

Mudah-mudahan malam ini nggak ada masalah.

Setidaknya begitu yang Amara coba yakini.

Pukul dua belas lewat empat puluh, telinga kirinya mulai berdenging.

Awalnya tipis.

Amara masih bisa mendengar lagu, suara Bima, bahkan bunyi kursi yang berdecit dari ruang operator. Cuma denging itu perlahan naik dan membuat suara lain terasa makin jauh.

Ia menurunkan volume headphone.

Tidak membantu.

Amara mengambil botol air. Airnya sudah hangat. Ia meneguk sedikit, menelan, lalu baru sadar sejak tadi menahan napas.

Amara mengembuskannya.

Tangannya bergerak ke telinga kiri.

Berhenti.

Kemudian turun lagi.

“Jangan,” gumamnya sendiri.

Dia sendiri nggak tahu sedang melarang siapa.

Pesan pendengar berikutnya masuk.

“Untuk Siska di Semarang,” katanya setelah lagu berakhir, “kalau seseorang bikin kamu mempertanyakan nilai dirimu setiap hari, mungkin yang perlu diperbaiki bukan dirimu. Nomor teleponnya saja yang dihapus.”

Suaranya terdengar normal.

Setidaknya indikator audio tidak menunjukkan masalah.

Untuk sekarang, itu cukup.

Bima menekan interkom.

“Kamu ngawasin volume sekarang?”

“Meter-nya kelihatan dari sini.”

Amara melirik indikator.

Ia tahu.

Tentu saja ia tahu.

“Ini cara aku kerja.”

Bima tidak mengatakan apa-apa.

Elian yang menjawab dari ruang operator.

“Iya, tahu.”

Amara menoleh ke kaca.

Elian tidak sedang melihatnya. Lelaki itu malah melihat monitor.

“Terus?”

“Cuma bilang.”

“Ya sudah.”

Ia mematikan interkom.

Bima melihat mereka bergantian.

“Saya merasa ada masalah. Cuma gaji saya nggak cukup.”

“Bagus.”

Bima menggeleng dan kembali ke panel.

Amara menatap layar di depannya.

Beberapa detik.

Ia ingin mengatakan sesuatu.

Nggak jadi.

Jingle masuk.

Ia bekerja lagi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Elian menerima panggilan.

Amara melihatnya berdiri dari kursi.

Bima mengatakan sesuatu. Elian menjawab. Amara tidak mendengar jelas.

Atau mungkin cuma menangkap sedikit.

Ia tidak yakin.

Elian keluar dari ruang operator sambil membawa ponselnya.

Amara memperhatikan pintu yang menutup.

Beberapa detik kemudian, ia baru sadar sedang memperhatikan.

Ia mengusap hidung, mengambil pulpen, lalu sadar pulpen itu bukan miliknya.

Pulpen Bima.

Ada tulisan JANGAN HILANG di badan pulpen.

Amara meletakkannya kembali.

“Kenapa gue begini, sih.”

Bima menoleh.

“Apa?”

“Nggak.”

“Ngomong sendiri?”

“Kerja.”

“Kerja kok ngomong sendiri?”

Amara menunjuk panel.

“Kalau mau bantu, lihat itu.”

Bima melihat panel.

“Yang mana?”

Amara ikut melihat.

Ia lupa apa yang hendak ditunjuk.

“...Sudahlah.”

Bima tertawa kecil.

Amara kembali ke monitor.

Pukul satu lewat lima puluh enam.

Bima mengangkat satu jari.

Lihat selengkapnya