Pertanyaan Elian menggantung, bahkan setelah denging di telinga Amara mulai mereda.
Amara berdiri di depan meja siaran dengan tas masih menggantung di bahu. Ia bisa saja tertawa. Bisa mengejek pilihan kata Elian. Kedengarannya seperti dialog film murahan. Bisa juga pergi dan membiarkan lelaki itu bicara kepada kursi kosong.
Tubuhnya tidak bergerak.
Denging di telinga kiri berangsur mengecil.
“Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan.”
Elian tidak mengubah ekspresi.
“Iya.”
Amara meletakkan tas di atas meja. Bunyi gespernya terdengar lebih keras dari yang ia kira.
“Kamu punya kosakata lain?”
“Punya.”
“Pakai.”
Elian menarik kursi dan duduk.
“Kita mulai dari yang sederhana. Telinga kiri Anda sering berdenging?”
“Tidak.”
“Suara pernah terdengar seperti berasal dari tempat yang jauh?”
Amara langsung menggeleng.
“Nggak.”
“Kalau beberapa orang bicara bersamaan?”
“Semua orang juga susah.”
“Baca gerak bibir?”
Napas Amara tertahan sebentar.
“Nggak.”
Elian tidak menjawab.
Amara menatapnya.
“Apa?”
“Saya belum bilang apa-apa.”
“Tatapanmu sudah.”
Elian menyandarkan punggung.
“Muka saya kelihatan kayak tersangka lagi?”
“Memang kelihatan begitu.”
“Kasihan.”
“Sudah.”
“Saya nggak bercanda.”
Amara mendengus dan melipat tangan di dada.
Elian mengambil tabletnya, tapi tidak langsung menulis. Ia memandang layar beberapa detik.
“Kalau Anda bilang nggak, ya udah.”
Amara mengangkat alis.
“Segampang itu?”
“Harusnya.”
“Terus kenapa dari tadi nanya?”
“Saya cuma mau tahu itu ganggu kerja Anda atau nggak.”
“Aku bekerja dengan baik.”
“Saya tahu.”
Jawaban itu justru membuat Amara berhenti.
“Kalau tahu, kenapa diperhatikan?”
Elian mengangkat bahu kecil.
“Ya... saya memang memperhatikan.”
“Semua orang?”
“Kalau sedang bekerja, iya.”
“Tidak seperti ini.”
Elian hendak menjawab, lalu tampaknya berpikir lagi.
“Ya. Mungkin tidak.”
Amara tidak menyangka ia akan mengaku.
Ia mengambil buku catatan.
“Jangan ngomong ke Rendra.”
Elian mengerutkan dahi.
“Tentang?”
“Jangan pura-pura.”
“Saya serius.”
Amara mengibaskan tangan.
“Rendra, Nadia, Bima. Siapa pun.”
“Saya juga belum tahu pasti.”
“Dugaan juga jangan.”
Elian diam sebentar.
“Kalau sampai ganggu kerja Anda?”
Amara langsung menutup bukunya.
“Aku bisa jaga diri.”
“Saya nggak bilang kamu nggak bisa.”
Amara menatapnya.
“Cara ngomongmu itu lho.”
Elian menghela napas.
“Saya lagi nyoba jelasin.”
“Ya sudah, coba cara lain.”
“Kalau nanti kejadian lagi pas kerja?”
Amara membuka mulut.
Menutupnya.
Elian menunggu.
“Aku... bakal tahu sendiri.”
Elian tidak langsung membalas.
Amara mengalihkan pandangan.
“Pokoknya aku nggak mau semua orang tahu.”
“Ya udah. Kalau nggak mau cerita.”
Amara menoleh lagi.
“Kok malah jadi serius?”
“Saya lagi serius.”
“Bikin kesel.”
Elian hampir tersenyum.
Amara menunjuknya.