Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #6

Bab 6 Talia Tidak Perlu Diselamatkan

Talia memilih tempat ketemu yang bikin Amara curiga.

Kedai sarapan di pinggir jalan, pukul delapan pagi.

Amara berdiri di depan pintu kaca dengan kopi minimarket di tangan. Ia baru selesai siaran lima jam sebelumnya. Matanya panas dan tubuhnya masih mengira malam belum berakhir.

Di dalam, orang-orang makan bubur ayam dengan semangat yang menurut Amara agak berlebihan.

Talia sudah duduk di sudut dekat jendela.

Amara menghampiri.

“Pagi.”

Tidak ada reaksi.

Amara mengulang, kali ini lebih keras.

“Pagi.”

Beberapa orang menoleh.

Talia menunjuk telinganya sendiri.

Amara menutup mata sebentar.

“Iya. Tahu.”

Talia mengambil ponsel.

Tahu, tapi volume tetap naik.

Amara mengetik:

Otak belum nyala.

Balasan datang:

Penyiar, tapi otaknya masih pakai manual.

Amara tertawa.

Pelayan datang.

Amara memesan kopi dan roti telur.

Ketika pelayan bertanya kepada Talia, Talia menunjuk gambar jus di menu.

“Jus?”

Talia mengangguk.

“Pakai es?”

Talia sedang membuka dompet.

Pelayan mengulangnya lebih keras.

“PAKAI ES?”

Talia mendongak.

Ia membaca gerak bibir pelayan, melihat gambar es, lalu menyilangkan dua jarinya.

Pelayan mengangguk dan pergi.

Amara menulis:

Sering?

Talia:

Berteriak?

Iya.

Setiap hari.

Amara menahan tawa.

Aku juga baru melakukannya.

Talia membalas:

Nilai enam.

Dari sepuluh?

Dari seratus.

Amara meletakkan tangan di dada.

“Keji.”

Talia menarik piring rotinya menjauh.

Amara menunjuk piring itu.

“Yang itu juga?”

Talia mengangguk.

“Ya sudah.”

Percakapan kecil itu malah bikin Amara lebih santai.

Talia mengeluarkan penyangga kecil dan memasang ponselnya di atas meja. Talia membuka aplikasi transkripsi.

Amara bicara.

Kalimat pertama langsung terbaca salah.

Mengubah menjadi mengusir.

Talia menunjukkan layar.

Amara menatapnya.

“Bagus.”

Talia mengangkat bahu.

Ya, salah satu harus kacau.

Amara tertawa.

“Jadi kenapa aku dipanggil?”

Talia mengetik.

Kalau Elian ada, dia pasti ikut nerjemahin.

“Bukannya memang dia yang bantu?”

Talia mengangkat bahu.

Kadang.

Talia mengetik lagi.

Kadang dia nambah. Kadang malah motong.

Amara mengangguk.

“Dia kelihatannya memang begitu.”

Talia menatapnya.

Kamu suka?

Amara hampir tersedak kopi.

Lihat selengkapnya