Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #7

Bab 7 Enam Puluh Detik Tanpa Dunia

Dunia tidak ikut gelap ketika suara menghilang.

Warna-warna tetap ada. Cahaya matahari masih jatuh lewat kaca kedai. Uap mengepul dari mesin kopi. Seorang pelayan membawa tiga piring sambil menggerakkan mulut, mungkin sedang meminta orang-orang memberi jalan.

Cuma suaranya yang hilang.

Amara duduk kaku. Jantungnya berdebar keras sampai dadanya terasa sakit. Aneh, ia bahkan tidak bisa mendengar detaknya sendiri. Yang terlihat cuma gerakan di mana-mana mulut yang membuka dan menutup, kursi yang bergeser, pintu kedai yang terus terbuka.

Semuanya bergerak.

Cuma dia yang seperti tertinggal.

Elian berjongkok di depannya.

Bibir lelaki itu sempat bergerak sebelum berhenti. Elian baru sadar.

Tangannya terangkat, lalu turun lagi. Ia melihat Talia sebentar.

Talia menunjuk Amara.

Elian mengangkat kedua telapak tangan dan menggerakkannya perlahan ke bawah.

Tenang.

Mungkin begitu maksudnya.

Talia bergeser ke sisi lain meja supaya wajahnya masuk ke pandangan Amara. Ia menunjukkan layar ponsel.

KAMU AMAN. DUDUK DULU.

Amara membacanya dua kali.

Aman dari apa?

Ia ingin mengatakan itu, tapi suaranya sendiri pun tidak bisa ia dengar.

Dunia terus berjalan. Seorang anak berlari melewati meja. Pintu kedai terbuka lagi. Kendaraan melintas di jalan. Amara melihat semuanya, dan justru itu yang membuat tengkuknya dingin.

Elian menunjuk jam tangannya.

Kemudian menatap Amara.

Amara langsung menggeleng.

Jangan.

Elian berhenti.

Amara menekan meja untuk berdiri.

Elian bergeser sedikit. Bukan untuk menahan. Cuma supaya kalau Amara oleng, dia masih ada di sana.

Amara mendengus pelan.

Ia ingin kesal karena lelaki itu terus ada di depannya. Aneh saja, keberadaannya malah membuat Amara sedikit lebih tenang.

Talia mengetik lagi.

KALAU BERDIRI SEKARANG, BISA JATUH.

Amara langsung mengambil ponsel itu.

Jarinya gemetar saat mengetik balasan.

Aku baik-baik saja.

Talia membaca.

Menatap Amara.

Lalu mengetik:

Bohong.

Amara ingin membalas.

Tidak jadi.

Kalau dalam keadaan lain, jawabannya mungkin sudah keluar. Sekarang kepalanya masih penuh oleh suara yang tidak ada.

Elian menarik napas panjang sambil memperagakannya.

Amara memperhatikan.

Elian mengulang.

Kali ini Amara ikut melakukannya.

Tarik.

Entah kenapa terasa bodoh.

Ia melakukannya lagi.

Pada tarikan ketiga, suara tiba-tiba kembali.

Bukan perlahan.

Mesin kopi meraung. Piring beradu. Kursi bergeser. Motor di luar menggeram dan seseorang tertawa dekat sekali di belakangnya.

Amara menutup kedua telinga.

“Ah—”

Ia membungkuk.

Kepalanya masih berdenyut.

“Pelan.”

Suara Elian terdengar seperti datang dari ujung lorong.

Amara membuka mata.

Elian masih di situ.

“Udah kedengeran?” tanyanya.

Amara mengangguk.

“Dua-duanya masih kedengeran?”

Amara menatapnya.

Elian menunjuk kedua telinga.

“Bentar.”

Amara menutup telinga kanan.

Lebih jelas.

Lalu pindah ke kiri.

Denging.

“Kanan lebih jelas.”

Elian mengangguk.

“Pusing?”

“Sedikit.”

“Mual?”

“Sedikit.”

Elian membuka mulut lagi.

Amara mengangkat tangan.

“Kalau mau nanya terus, aku pulang.”

Elian berhenti.

Talia tertawa pelan.

Amara meliriknya.

“Apa?”

Talia sudah mengangkat ponsel.

Kamu lucu kalau panik.

“Terima kasih. Sangat membantu.”

Elian akhirnya bertanya, “Penglihatan?”

“Normal.”

“Bagus.”

Amara memandangnya.

“Kalau panik kamu emang jadi banyak nanya?”

“Enggak.”

“Terus?”

Elian melirik Talia.

“Entah.”

Jawaban itu malah membuat Amara sedikit tenang.

Ia meraih tas.

Elian tidak bergerak.

Amara berdiri.

Baru dua langkah, lantai terasa seperti turun sedikit.

Tangannya mencari meja.

Tali tasnya tersangkut di sudut kursi.

“Ah, sial.”

Elian maju setengah langkah, lalu berhenti.

Amara berhasil menarik tas itu.

“Bisa.”

“Saya nggak bilang nggak bisa.”

“Muka kamu bilang begitu.”

Elian menatapnya.

“Serius?”

Amara baru sadar.

Ia tertawa pendek meski kepalanya masih berdenyut.

“Ya ampun. Kamu juga ketularan.”

“Ketularan apa?”

“Lupakan.”

Elian mengembuskan napas.

“Rumah sakit.”

“Nggak.”

“Amara.”

Lihat selengkapnya