Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #8

Bab 8 Kalimat yang Sama

Amara datang ke studio latihan tujuh menit sebelum waktu yang ditentukan.

Menurut Amara, itu belum bisa disebut datang lebih awal. Seseorang baru bisa disebut terlalu cepat kalau matahari belum terbit dan kopi belum sempat bekerja. Bagi penyiar malam, pukul sebelas siang masih termasuk jam yang nggak sopan.

Elian sudah menunggu di depan ruang kecil lantai empat. Tidak ada meja rapat, layar presentasi, atau staf pemasaran yang entah kenapa biasanya muncul saat tidak dibutuhkan. Cuma dua kursi, satu kamera, dan papan tulis kosong.

“Kamu sengaja memilih ruangan paling sepi?”

“Di sini cahayanya enak. Suaranya juga nggak banyak.”

“Jadi iya.”

Elian membuka pintu. “Talia akan bergabung lewat video.”

Amara masuk dan meletakkan tas di kursi.

“Kamu selalu membawa saksi?”

“Dia yang meminta. Katanya saya cenderung mengubah latihan sederhana menjadi prosedur evakuasi.”

“Untuk sekali ini, aku percaya penilaian Talia.”

Layar di sudut ruangan menyala.

Talia muncul dengan rambut masih berantakan dan noda cat biru di pipi. Ia mengangkat cangkir besar ke arah kamera.

Amara membuka aplikasi transkripsi di tabletnya.

“Kamu baru bangun?”

Talia membaca teks. Ia menggeleng, lalu memberi isyarat cepat.

“Talia bilang dia udah mulai kerja dari jam enam.”

Talia langsung menunjuk Elian dan membuat gerakan memotong.

Amara menunggu.

“Apa?”

Elian menahan senyum.

“Katanya saya nggak perlu nambah cerita.”

“Bagus. Pelajaran pertama sudah berhasil.”

Talia mengangkat dua ibu jari.

Elian duduk di hadapan Amara.

“Kita mulai dengan dua isyarat.”

“Hanya dua?”

“Kalau saya kasih sepuluh, paling kamu ingat tiga doang.”

Amara menyandarkan punggung.

“Kamu cepet banget baca orang.”

“Bukan. Saya cuma lihat polanya.”

“Lebih menyeramkan.”

Elian mengangkat kedua tangan.

“Yang pertama berarti ulang.”

Ia memperagakannya pelan.

Amara mengikuti.

Amara membalik gerakannya.

Talia langsung tertawa.

“Jangan.”

Talia malah tertawa lebih keras.

“Dia bilang apa?”

Elian melihat layar.

“Nggak penting.”

“Berarti penting.”

Elian akhirnya menyerah.

“Katanya kalau salahnya lucu, dia berhak.”

“Peraturan keluarga kalian buruk.”

Amara mencoba lagi. Kali ini benar.

“Pakai kalau nggak nangkep,” kata Elian. “Nggak usah minta maaf panjang. Jangan pura-pura ngerti.”

“Kalau orangnya kesal karena harus mengulang?”

“Ya biarin.”

“Enak banget.”

Elian mengangkat bahu.

“Jawaban konsultan banget.”

“Daripada nebak-nebak terus.”

Amara tidak menjawab.

Beberapa hari terakhir sudah cukup memberinya contoh.

Elian mengangkat tangan lagi.

“Yang kedua ini buat keadaan darurat. Bukan istilah resmi. Cuma keluarga kami yang pakai.”

Gerakannya lebih lambat.

Satu telapak dekat dada. Tangan lain maju, lalu kembali.

Amara memperhatikan.

“Artinya?”

“Artinya ‘masih ada’.”

Amara mengulang gerakannya dalam hati.

Elian memperagakannya lagi.

“Kalau suara hilang lagi, pakai ini. Biar orang tahu kamu masih sadar.”

Amara mencoba.

Jarinya kaku.

“Begini?”

Elian memperhatikan.

“Sedikit.”

“Sedikit apanya?”

“Pergelangan Anda.”

Amara melihat tangannya sendiri.

“Oh.”

Elian mengangkat tangan, lalu berhenti.

“Boleh?”

Amara melihat tangannya.

“Boleh.”

Dua jari menyentuh pergelangan Amara. Sebentar. Elian membetulkan sudut telapaknya, lalu melepaskan.

“Jangan kayak tanda bahaya.”

Amara menatap tangannya.

“Padahal buat keadaan darurat.”

Talia tertawa dari layar.

Elian meliriknya.

“Bukan begitu maksudnya.”

“Terus?”

Elian menghela napas kecil.

“Maksud saya, santai sedikit.”

Talia mengangguk.

Amara mencoba lagi.

Kali ini gerakannya lebih ringan.

Talia mengangguk.

Lihat selengkapnya