Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #9

Bab 9 Percobaan Kecil

Nama Elian masih terasa asing ketika Langit mengucapkannya.

Amara menatap layar.

Dua menit empat puluh tiga detik. Sambungannya habis.

“Langit?”

Tidak ada jawaban.

Bima mengangkat tiga jari dari balik kaca. Tiga puluh detik lagi.

Amara menarik napas dan menekan tombol mikrofon. Suaranya keluar seperti biasa. Hampir saja.

“Ada orang yang sempat nyebut nama, habis itu hilang. Enak banget.”

Bima tertawa sambil menggeleng.

Amara meliriknya.

Jangan ikut.

Lagu penutup masuk. Terlalu cerah. Entah siapa yang memilih.

Ia menunggu sampai lampu merah padam, baru melepas headphone.

Riwayat panggilan.

Layar kosong.

Amara menatapnya sekali lagi.

Tetap kosong.

Nomor asli Langit memang tidak pernah muncul. Panggilan masuk lewat sistem penyaring stasiun, dan operator cuma melihat nama Langit yang sudah tersimpan. Amara pernah diberi tahu alasannya sekali, dalam rapat yang terlalu panjang: dulu ada pendengar yang nomornya sempat terlihat di siaran langsung dan kemudian mendapat ancaman.

Saat itu Amara cuma mengangguk.

Sekarang alasan itu terasa menyebalkan.

“Bisa cari nomor asli Langit?”

Bima sudah berdiri di ambang pintu.

“Bisa. Tapi saya nggak mau cari masalah.”

“Aku belum minta kamu melakukannya.”

“Muka gue minta.”

“Wajah gue nggak bisa dituntut.”

Bima berhenti.

“Itu kayak kalimat Pak Elian.”

Amara menutup layar.

“Bukan.”

“Banyak orang ngomong begitu.”

“Seperti Langit?”

Amara menatapnya.

Bima mengangkat tangan.

“Saya cuma bilang.”

“Jangan.”

“Baik.”

“Yang itu juga jangan.”

Bima masuk sambil membawa botol air.

“Jadi sekarang kamu curiga Pak Elian itu Langit?”

“Aku nggak bilang begitu.”

“Terus mau cari nomor itu buat apa?”

Amara membuka mulut.

Tidak langsung keluar jawaban.

Bima menunggu.

“Nah.”

“Nah apaan?”

“Itu.”

“Apa?”

“Muka orang nggak punya jawaban.”

Amara mendengus.

“Kalau—”

Ia berhenti.

Bima menunggu lagi.

“Kalau Pak Elian memang Langit, kenapa dia malah nyebut namanya sendiri?”

Bima berpikir sebentar.

“Bisa aja sengaja.”

“Atau?”

“Atau dia bukan Langit.”

Amara diam.

Ya.

Bisa juga.

Itulah yang mengganggu.

Kalau Elian bukan Langit, berarti ada orang lain yang mengenal keluarga Elian cukup dekat untuk tahu isyarat itu. Orang lain yang tahu Amara baru belajar isyarat itu. Orang lain yang tahu kalimat itu, padahal cuma dibicarakan di ruang latihan.

Amara mengusap bibir bawahnya.

Bima memperhatikan.

“Kamu gigit lagi.”

“Apa?”

“Bibir.”

Amara langsung menurunkan tangan.

“Nggak.”

“Barusan.”

“Bima.”

“Oke.”

Ia duduk di tepi meja.

“Kalau mereka memang beda orang?”

“Berarti saya malah bikin kamu tambah bingung.”

“Lumayan.”

“Saya capek.”

Amara membuka pesan masuk.

Kolom pendengar sudah penuh.

Siapa Elian?

Langit punya teman?

Mbak Amara kedengarannya cemburu.

Jangan-jangan Langit sudah menikah dan Elian itu nama suaminya.

Amara langsung menutupnya.

Bima sempat melirik.

“Yang terakhir...”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Aku nggak mau tahu.”

“Padahal saya belum bilang apa-apa.”

“Justru itu.”

Bima tertawa.

Amara membuka layar lagi.

“Potongan tadi jangan dikirim ke mana-mana dulu.”

Alis Bima naik.

“Biasanya bagian Langit paling ramai.”

“Malam ini jangan.”

“Rendra bakal tanya.”

“Bilang aja tadi ada gangguan.”

“Kemarin kamu yang bilang jangan bohong.”

Amara memasukkan ponsel ke tas.

“Saya lagi belajar.”

Bima menatapnya.

“Cepat juga.”

“Terima kasih.”

“Itu bukan pujian.”

“Sudah telanjur.”

Bima berdiri.

“Saya tahan videonya sampai besok siang. Setelah itu Nadia.”

“Terima kasih.”

Bima baru berjalan dua langkah ketika Amara memanggil.

“Bim.”

Ia berhenti.

Amara ingin mengatakan sesuatu.

Apa?

Tidak tahu.

“Sudahlah.”

Bima menunggu beberapa detik.

“Kalau kamu benar, nanti saya bilang saya udah curiga.”

“Kamu baru kepikiran sekarang.”

“Kan saya punya rekamannya.”

“Keluar.”

Bima tertawa dan pergi.

Amara masih berdiri.

Ia menggigit sisi dalam bibirnya lagi.

Sial.

Ada satu hal lagi.

Hal kecil yang seharusnya nggak berarti apa-apa.

Selama berbulan-bulan, Langit punya kebiasaan aneh ketika Amara mulai bicara terlalu panjang. Dia tidak pernah memotong atau menyela. Cuma diam sebentar, lalu berkata—

Anda selesai atau masih ada?

Elian pernah melakukan hal yang sama.

Bukan kalimatnya.

Jeda sebelum kalimat itu.

Cara dia menunggu.

Amara mengusap wajah.

Lihat selengkapnya