Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #10

Bab 10 Ponsel di Dalam Tas

Elian masuk ke studio tanpa mengetuk.

Amara masih mengenakan headphone. Sambungan dengan Langit sudah putus, tetapi tangannya masih di panel telepon.

Bima berdiri di ruang operator dengan wajah bingung. Entah mau tertawa atau benar-benar memanggil polisi.

Elian berhenti di seberang meja siaran.

“Kenapa jadwal panggilannya diubah?”

Amara melepas headphone perlahan.

“Kenapa kamu tahu jadwalnya diubah?”

“Nadia bilang sesi evaluasi dimajukan supaya mereka bisa mengamati penelepon tetap.”

“Nadia nggak tahu Langit bakal menelepon pukul satu tiga puluh.”

Elian melirik ke ruang operator.

Bima langsung menunjuk dirinya sendiri.

“Saya nggak bilang apa-apa.”

“Nggak ada yang nuduh kamu,” kata Amara.

“Muka kalian begitu.”

Elian kembali menatap Amara.

“Saya dengar kamu sempat ngomong soal itu sama Bima.”

“Itu bohong.”

Amara mengatakannya cepat. Bahkan terlalu cepat.

Elian tidak membela diri.

“Kamu ada di ruang rapat waktu aku kirim pesan ke Bima,” lanjut Amara. “Kami nggak ngomong apa-apa.”

“Terus kenapa kamu yakin saya tahu soal itu?”

“Karena Langit baru saja bilang ada orang yang memberitahunya kalau aku sedang menguji kamu.”

Elian diam.

Amara menekan tombol mikrofon yang sebenarnya sudah mati.

Klik.

Tangannya berhenti.

“Kamu menelepon siapa waktu keluar rapat?”

“Orang kerja.”

“Yang sama kayak minggu lalu?”

“Tidak.”

“Namanya?”

“Soal kerja.”

“Oh. Kalau kamu, namanya privasi.”

Elian menarik kursi.

Amara menunjuk pintu.

“Jangan duduk.”

Elian berhenti.

“Jawab saja.”

“Kita masih dalam jam kerja.”

“Kamu ninggalin rapat buat telepon orang. Berarti penting.”

Bima menekan interkom.

“Saya cuma mau mengingatkan. Lagu berikutnya habis satu menit lagi.”

Amara menoleh.

Sial.

Ia mengenakan headphone kembali, menyalakan mikrofon, dan memasang suara penyiar yang sudah bertahun-tahun menjadi refleks.

“Kalian masih bersama Amara,” katanya, “dan kalau malam ini ada seseorang yang jawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi, mungkin dia konsultan. Mungkin juga dia mantan yang belum rela.”

Bima menutup mulut.

Elian menyilangkan tangan.

“Lagu berikutnya buat yang baru sadar kalau penasaran itu capek.”

Bima membungkuk di balik meja.

Amara memutar lagu.

Mikrofon mati.

Ia melepas headphone.

“Kita cuma punya tiga menit.”

“Apakah semua masalah harus diselesaikan selama lagu?”

“Aku kerja pakai durasi.”

Elian menatap layar panggilan yang sudah kosong.

“Saya bukan Langit.”

Amara tertawa pendek.

“Aku belum bilang kamu begitu.”

“Kamu yang bikin percobaan ini. Kamu juga lihat saya keluar. Sekarang mau tahu saya telepon siapa.”

“Baik.”

Amara menatapnya.

“Sekarang aku bilang kamu Langit.”

Elian menghela napas.

“Saya bukan Langit.”

“Buktikan.”

“Anda serius?”

“Banget.”

“Saya nggak harus buktiin sesuatu yang nggak saya lakukan.”

“Gampang ngomong.”

Elian mengeluarkan ponsel dari saku dan meletakkannya di atas meja.

“Lihat saja.”

Amara tidak langsung menyentuhnya.

“Serius?”

“Serius.”

Layar ponsel terbuka. Elian belum menguncinya.

Satu panggilan keluar pukul 01.29.

Arvin—Studio Timur.

Tiga menit sebelas detik.

Amara melihat jam lagi.

Panggilan Langit masuk 01.32.

Waktunya tumpang tindih sedikit.

Amara mengerutkan dahi.

Sial. Masih bisa saja.

Lihat selengkapnya