Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #11

Bab 11 Dua Telepon

Getaran dari dalam tas Elian belum berhenti. Suara Langit masih memenuhi headphone Amara.

“Buka,” kata lelaki itu dari sambungan telepon.

Elian berdiri tiga langkah di depannya. Ponsel pribadinya tergeletak di meja. Kedua tangannya kelihatan. Bibirnya tidak bergerak.

Amara menekan satu sisi headphone lebih rapat.

“Kamu menelepon ponsel di tas itu?”

Langit tidak menjawab.

Getaran berhenti.

Layar di dalam tas padam.

Elian maju sedikit, tapi tidak menyentuh tas itu.

“Matikan panggilannya.”

“Kenapa?”

“Karena Anda sedang siaran.”

“Aku tahu.”

“Pendengar juga bisa dengar percakapan ini.”

Amara melirik indikator mikrofon. Lampu merah masih menyala.

Sial.

Ia mematikan mikrofon utama, tetapi sambungan telepon masih terbuka di jalur pribadi.

“Sekarang jawab.”

Suara Langit terdengar lebih kecil.

“Tanyakan kepada pemilik ponselnya.”

“Siapa?”

Sambungan terputus.

Amara melepas headphone terlalu cepat. Kabelnya tersangkut di lengan.

“Brengsek.”

Bima masuk dari ruang operator dengan muka tegang.

“Panggilan Langit hilang. Mau saya sambungkan lagi?”

“Jangan.”

Amara berjalan ke tas Elian.

Elian ikut bergerak. Berdiri tepat di depannya.

“Menjauh.”

“Tidak.”

“Katamu nggak ada ponsel lain.”

“Saya bilang saya tidak punya ponsel lain.”

“Itu ada di tasmu.”

“Bukan milik saya.”

Amara menatapnya.

“Milik siapa?”

Lagu yang sedang diputar tinggal kurang dari dua menit. Bima berdiri dekat pintu, melihat monitor, lalu mereka berdua.

“Saya perlu tahu harus nyiapin lagu tambahan atau panggil keamanan.”

“Lagu tambahan,” jawab Amara dan Elian bersamaan.

Bima mengangkat alis.

“Kompak. Menakutkan.”

Ia kembali ke ruang operator.

Elian mengambil tasnya, membuka resleting, lalu mengeluarkan sebuah ponsel hitam. Casing-nya penuh bercak cat putih dan kuning.

Amara langsung mengenalinya.

“Talia.”

Elian mengangguk.

“Ponsel kerja Talia.”

“Kenapa ada padamu?”

“Dia minta saya bawa untuk simulasi teks langsung.”

Elian menaruh ponsel itu di meja.

“Perangkat ini terhubung ke aplikasi penerjemah dan sistem uji panggilan.”

Amara mendekat. Layarnya sudah terkunci.

“Buka.”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena ini bukan ponsel saya.”

“Cuma kamu yang bawa.”

“Membawa barang seseorang bukan berarti saya boleh membuka isinya.”

“Barusan ada yang menelepon pakai nama Langit Pukul Dua.”

“Saya tahu.”

“Kamu kelihatan nggak kaget.”

Elian melihat ponsel itu.

Sebentar.

Lalu Amara.

“Karena saya tahu nama itu tersimpan di sana.”

Amara menelan ludah.

“Kenapa?”

Elian menarik napas pendek.

“Waktu uji coba pertama, Talia butuh contoh percakapan telepon. Ada jeda, suara latar, pola bicara yang nggak teratur. Bima kasih beberapa rekaman penelepon tetap.”

Amara menoleh ke ruang operator.

Bima melihat mereka. Menunjuk dirinya sendiri.

“Aku?”

“Kapan?” tanya Amara.

“Dua hari lalu.”

“Aku nggak kasih izin.”

“Rekamannya sudah disamarkan. Nggak ada informasi pribadi.”

“Itu suaraku.”

“Program milik stasiun.”

“Jangan jawab kayak pengacara.”

“Saya cuma menjelaskan.”

Amara menunjuk ponsel di meja.

“Kenapa kontaknya pakai nama Langit Pukul Dua?”

“Itu label panggilan di sistem.”

“Terus kenapa dia menelepon ponsel ini waktu sedang bicara sama aku?”

Elian diam sebentar. Tapi Amara keburu melihatnya.

Lihat selengkapnya