Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #12

Bab 12 Belajar Mendengarkan dengan Mata

Amara tidak membalas pesan Talia sampai siang berikutnya.

Bukan karena tidak mau. Ia beberapa kali membuka percakapan itu, membaca pesan terakhir, lalu menutupnya lagi. Mau bertanya apa juga percuma kalau ujung-ujungnya Talia menyuruhnya bertanya sendiri.

Kakakku berbohong, tetapi mungkin bukan tentang hal yang kau kira.

Amara mengetik:

Tentang apa?

Dihapus.

Maksudmu apa?

Dihapus lagi.

Ia hampir meletakkan ponsel ketika akhirnya mengetik:

Tentang apa dia berbohong?

Balasannya datang hampir satu jam kemudian.

TANYAKAN SENDIRI. AKU TIDAK MAU JADI PENERJEMAH RAHASIA KAKAKKU.

Belum selesai membaca, pesan berikutnya masuk.

DAN HARI INI JANGAN BERKELAHI. AKU BUTUH KALIAN UNTUK LATIHAN.

Amara memandangi layar.

“Siapa yang berkelahi?”

Tidak ada yang menjawab, tentu saja.

Ia memasukkan ponsel ke tas.

Keluarga Adhiraksa punya cara sendiri untuk membuat orang merasa sedang disuruh-suruh, bahkan ketika mereka cuma mengirim pesan.

Sesi latihan bahasa isyarat diadakan di studio video kecil, bukan ruang rapat.

Dinding belakang sudah dilapisi warna polos supaya gerakan tangan gampang terlihat. Kamera berdiri di atas tripod. Dua lampu besar mengarah ke kursi Amara sampai panasnya terasa di wajah.

Ruangan itu mendadak mirip tempat pemeriksaan.

Hanya saja orang yang memilih lampunya punya selera artistik.

Amara masuk membawa dua gelas kopi.

Satu ia taruh di meja Elian.

“Tidak beracun.”

Elian melirik gelas itu.

“Kopi pahit berdasarkan wajah?”

Amara menarik kursi.

“Satu sendok gula.”

“Saya nggak tanya.”

“Aku tahu.”

Elian tetap mengambilnya.

Amara memperhatikan sebentar.

“Kamu tetap minum?”

“Sudah dibawakan.”

“Oh.”

Itu saja.

Entah kenapa Amara merasa percakapan mereka sekarang memang seperti itu. Ada sesuatu yang tertinggal dari semalam dan keduanya sama-sama malas mengambilnya.

Talia melambaikan tangan dari layar, kemudian mengirim pesan lewat aplikasi.

HARI INI BELAJAR PERKENALAN. BUKAN INTEROGASI.

Amara menatap Elian.

“Kamu mengadu?”

“Tidak.”

“Talia punya naluri bertahan hidup.”

Pesan lain muncul.

AKU PUNYA KAKAK YANG WAJAHNYA MUDAH DIBACA.

Amara terkekeh.

“Dia nyindir kamu.”

“Saya tahu.”

“Kasihan.”

Elian menoleh.

Amara pura-pura melihat kamera.

Latihan dimulai dengan abjad jari.

Elian menunjukkan bentuk A sampai E. Amara mengikuti. Jari-jarinya masih kaku, terlalu rapat, dan setiap kali merasa sudah benar, ternyata ada saja yang melenceng.

Percobaan ketiga salah lagi.

“Ini bahasa atau senam tangan?”

“Keduanya kalau Anda kurang pemanasan.”

“Ya, saya belum pemanasan. Dari tadi cuma disuruh duduk.”

Talia tertawa dari layar.

Elian meliriknya.

“Jangan didukung.”

Amara menunjuk layar.

“Nah. Itu baru guru.”

Elian mengabaikannya dan lanjut ke huruf berikutnya.

Ia mengajarkan cara mengeja nama. A mudah. M lumayan. Begitu sampai R, Amara terus menaruh telunjuk dan jari tengah di posisi yang salah.

“Kalau begini?”

“Itu U.”

“Bedanya sedikit.”

“Sedikit bisa mengubah nama Anda jadi Amaua.”

Amara melihat tangannya sendiri.

“Amaua masih bisa dipakai.”

“Untuk apa?”

“Nama panggung.”

Elian menatapnya beberapa detik.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Tidak bagus.”

“Pendapat yang sangat objektif.”

Talia kembali mengetik.

JANGAN TAKUT. ELIAN BUTUH DUA MINGGU UNTUK MENGEJA NAMANYA SENDIRI.

Elian langsung menoleh ke layar.

Tangannya bergerak cepat.

Amara mengerutkan dahi.

“Apa?”

“Saya meminta Talia fokus.”

Talia menggeleng keras.

Pesan baru muncul.

DIA MENYURUH AKU BERHENTI MEMBUKA AIB KELUARGA.

Amara tertawa.

“Elian, aku suka adikmu.”

“Dia tidak tinggal bersama Anda.”

“Untung.”

Hampir tiga puluh menit berlalu sebelum Amara akhirnya berhasil mengeja namanya tanpa salah.

Elian lalu mengajarkan sapaan, pertanyaan sederhana, dan cara mengatakan aku tidak mengerti.

Yang terakhir membuat Amara berhenti lebih lama.

Lihat selengkapnya