Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #13

Bab 13 Suara Hujan yang Hilang

Amara tidak langsung bertanya lagi tentang cincin itu.

Ia masih berdiri di tengah studio latihan. Elian sudah memasukkan tangan yang memakai cincin ke saku celananya.

“Milik ibu saya,” ulang Elian.

“Aku dengar.”

“Lalu kenapa melihatnya seperti barang bukti?”

Amara mengangkat wajah.

“Karena seseorang pernah cerita tentang cincin yang sama.”

Bahu Elian bergerak sedikit.

“Siapa?”

“Kamu tahu.”

“Saya ingin mendengar Anda mengatakannya.”

Amara menatapnya sebentar.

“Langit Pukul Dua.”

Elian berkedip.

Cuma sekali.

Amara tidak tahu kenapa ia malah memperhatikan kedipan kecil itu.

“Dia bilang cincin ibunya terlalu kecil, jadi dipakai di jari kelingking. Ada goresan di sisinya.”

Elian melihat saku celananya.

“Punyamu juga.”

“Kapan dia bilang begitu?”

“Sekitar tiga tahun lalu.”

“Anda masih ingat?”

“Aku ingat.”

“Tiga tahun?”

Amara mengangkat bahu.

“Aku penyiar. Ada hal-hal yang memang nempel.”

Elian tidak mengatakan apa-apa.

“Dan nggak banyak lelaki yang pakai cincin perak ibunya di jari kelingking dengan goresan yang sama.”

“Mungkin lebih banyak daripada yang Anda kira.”

Amara tertawa kecil.

“Nah.”

Elian menatapnya.

“Apa?”

“Kamu selalu begitu.”

“Begitu bagaimana?”

“Punya jawaban.”

“Tidak.”

“Ya. Kadang jawabannya cuma diam.”

Elian mengambil tas kerjanya.

“Saya harus pergi.”

“Tentu.”

“Saya punya rapat.”

“Selalu ada rapat kalau pembicaraannya mulai menarik.”

Elian melirik jam tangannya.

“Rapatnya sudah dijadwalkan dari kemarin.”

“Dan cincin itu?”

Elian berhenti.

“Apa yang ingin Anda dengar?”

“Kebenaran.”

“Pertanyaannya terlalu luas.”

Amara mendengus.

“Ya sudah. Apakah kamu Langit?”

Elian diam.

Suara pendingin udara terdengar lebih jelas sekarang. Atau mungkin Amara saja yang sedang memperhatikannya. Dari koridor ada orang bicara, lalu tertawa, kemudian suara pintu dibanting agak keras.

Elian masih diam.

Amara menunggu.

Akhirnya ia berkata, “Saya pernah bilang bukan.”

“Itu bukan jawaban buat sekarang.”

“Itu jawaban yang sama.”

“Kamu susah sekali bilang ya atau nggak.”

Elian melirik kamera di sudut ruangan.

“Bukan di sini.”

Amara ikut melihat.

Lampu rekam memang mati.

“Kenapa? Kamera itu bisa dengar?”

“Bukan begitu.”

“Terus?”

Elian menghela napas.

“Perangkatnya masih terhubung.”

“Jadi?”

“Jadi saya nggak mau ngomong soal ini di sini.”

Amara menatapnya.

“Lebih jelas.”

“Saya sedang berusaha.”

“Kelihatan.”

Ponsel Elian bergetar.

Ia melihat layar, lalu membalik ponselnya.

“Rapat?”

“Ya.”

“Kamu bisa pergi.”

Elian masih belum bergerak.

“Amara.”

“Apa?”

“Jangan jadikan semua kemiripan sebagai bukti.”

Amara mengerutkan dahi.

“Kalau Anda salah, Anda sendiri yang bakal paling terluka.”

“Siapa lagi?”

Elian membuka pintu.

Amara menunggunya menoleh.

Tidak.

Pintu tertutup.

Ia masih melihat ke sana beberapa detik.

“Nyebelin,” gumamnya.

Lalu ia mengambil tas.

• • •

Hujan turun sore itu ketika Amara keluar dari kantor.

Tidak deras. Trotoar cepat mengilap, dan orang-orang yang tadi masih berdiri di depan pintu mulai berlarian kecil ke parkiran.

Seorang petugas keamanan menggeser papan peringatan lantai basah.

Amara berdiri di bawah kanopi sambil menunggu kendaraan pesanannya.

Ia melihat hujan.

Dulu ia bisa mendengar hujan dari mana saja. Dari balik kaca, dari kamar, bahkan dari dalam mobil. Hujan ringan punya bunyi sendiri. Hujan yang deras juga. Kalau angin ikut turun, lain lagi.

Sekarang tidak.

Yang terdengar hanya kendaraan lewat, klakson yang samar, dan denging tipis di telinga kiri.

Lihat selengkapnya