Nomor itu sudah tidak aktif ketika Amara mencoba menelepon. Foto profilnya juga berubah jadi lingkaran abu-abu.
Sepanjang perjalanan pulang, pesan tadi terus kepikiran.
Jangan paksa Elian bicara, atau seseorang akan kehilangan lebih dari sekadar suara.
Terdengar seperti ancaman.
Atau dari orang yang terlalu suka membuat kalimat terdengar seperti ancaman.
Bisa saja pendengar yang mendengar potongan percakapan mereka. Bisa Bima. Bisa Dimas. Amara bahkan sempat curiga pada dirinya sendiri karena sudah mulai mencurigai semua orang.
Tapi siapa yang tahu Elian akan memberinya jawaban besok malam?
Percakapan itu terjadi di bawah hujan.
Jauh dari mikrofon.
Setahu Amara, cuma mereka berdua.
Amara mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada Elian.
Terkirim.
Tidak dibaca.
Dua puluh menit kemudian masih begitu.
Satu jam.
Amara mengetik lagi.
Kalau ini bagian dari caramu menghindari percakapan, terlalu berlebihan.
Terkirim.
Tetap tidak dibaca.
Ia sempat menekan tombol panggil.
Jarinya berhenti.
Tidak jadi.
Nanti malah kelihatan panik.
Padahal memang panik.
Keesokan malam, Elian tidak muncul di kantor.
Nadia bilang jadwalnya berubah. Rendra menyebut ada pertemuan mendadak dengan tim legal. Bima cuma mengangkat bahu ketika Amara bertanya apakah Elian sempat menghubungi ruang operator.
“Kenapa lihat saya?”
“Siapa tahu dia bilang sesuatu.”
“Kalau dia bilang, saya kasih tahu.”
“Bener?”
Bima menatapnya.
“Kenapa saya bohong?”
Amara mengangkat bahu.
Pukul tujuh lewat sedikit, ponselnya bergetar.
Maaf. Ponsel saya rusak kena hujan. Baru selesai diperbaiki. Kita tetap bertemu malam ini?
Amara langsung menelepon.
Dua dering.
“Di mana kamu?”
“Di kantor cabang pusat.”
“Kamu baca pesanku?”
“Baru.”
“Nomor itu siapa?”
“Saya nggak tahu.”
“Jangan jawab cepat-cepat.”
Elian diam.
Amara menunggu.
“Tiga detik?”
“Dua juga cukup.”
Dua detik.
“Saya nggak tahu.”
Amara mengusap dahi.
“Siapa yang tahu kita mau ketemu malam ini?”
“Anda dan saya.”
“Orang lain?”
“Saya nggak bilang Talia.”
“Nadia?”
“Tidak.”
“Bima?”
“Tidak.”
Amara berhenti.
“Langit?”
Di ujung sana sunyi.
Amara melihat layar ponselnya.
Panggilan masih tersambung.
“Elian?”
“Saya masih di sini.”
“Jawab.”
“Saya tidak bicara dengan Langit sejak kemarin.”
Amara memejamkan mata.
Nah.
“Kamu mengenalnya.”
“Saya sudah bilang.”
“Bukan begitu. Tadi kamu bilang kenal suaranya. Sekarang kamu bilang nggak bicara dengannya sejak kemarin.”
Elian mengembuskan napas.
“Kita bertemu saja.”
“Di mana?”
“Saya kirim alamat.”
“Aku mau tempat yang sepi.”
“Saya tahu.”
“Dan jangan bawa Talia.”
“Saya nggak berniat membawa adik saya ke interogasi.”
“Ini bukan interogasi.”
“Bagus. Berarti kita bisa makan.”
Restoran yang dipilih Elian ada di lantai atas bangunan tua.
Dari luar kelihatannya sepi.
Begitu pintunya dibuka, musik, percakapan, suara gelas beradu, dan dengung mesin dari dekat bar langsung bercampur.
Amara berhenti.
Seorang pelayan mengatakan sesuatu dari sisi kanan.
Amara hanya menangkap ujungnya.
Elian menunjukkan reservasi.
“Meja belakang lebih tenang,” katanya.
Amara mengikutinya.
Meja mereka memang lebih jauh dari yang lain, tapi tidak cukup jauh untuk membuat musik terdengar pelan. Percakapan dari meja sebelah masuk-putus-masuk lagi. Mesin pembuat minuman di dekat bar berdengung terus.
Elian melihat wajah Amara.
“Bising?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kita bisa pindah.”
“Aku bilang baik-baik saja.”
Pelayan datang membawa menu dan menjelaskan makanan khusus malam itu.
Amara menangkap beberapa kata.
Ikan.