Amara membaca pesan dari L sekali lagi.
Elian tidak merebut ponselnya. Ia cuma menatap layar itu. Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Musik masih terdengar dari pengeras suara restoran. Suara orang-orang di meja lain bercampur jadi satu. Seorang pelayan lewat membawa dua gelas tinggi.
Amara masih mendengar sendok beradu dengan piring. Kursi bergeser. Tawa dari meja sebelah terdengar sebentar, lalu tenggelam lagi.
“Siapa L?” tanya Amara.
Elian mengunci layar ponselnya.
“Orang yang tidak seharusnya menghubungi saya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Saya tahu.”
“Kenapa dia bilang ibumu sudah meninggal sebelum mengenal suaraku?”
Elian memandang piring yang belum disentuh.
“Karena dia ingin Anda menganggap semua yang saya katakan bohong.”
“Apakah semua yang kamu katakan bohong?”
“Tidak.”
“Ibumu pernah mendengarkan siaranku?”
Elian menatap Amara.
“Pernah.”
“Kapan?”
“Sebelum program malam Anda diluncurkan secara resmi.”
Amara mengernyit.
“Aku belum bekerja di stasiun itu.”
“Sudah.”
“Aku ingat kapan mulai bekerja.”
“Anda pernah datang sebagai penyiar pengganti.”
Amara hendak membantah. Ingatan itu muncul begitu saja.
Empat tahun lalu, sebelum mendapat kontrak tetap, ia memang pernah menggantikan seorang penyiar yang sakit. Tiga malam. Programnya bukan acara yang sekarang ia bawakan. Namanya juga beda.
Tidak ada foto promosi. Tidak ada video. Amara bahkan tidak yakin rekamannya masih disimpan.
“Itu cuma tiga malam.”
“Cukup.”
“Ibumu mendengarnya?”
Elian mengangguk.
“Bagaimana kamu tahu itu aku?”
“Suara Anda tidak banyak berubah.”
“Aku belum memakai nama Amara di udara.”
“Saat itu Anda memperkenalkan diri sebagai Mara.”
Amara menatapnya tajam.
Jarang ada yang masih ingat siaran pengganti itu. Nadia pun baru mengenalnya beberapa bulan setelahnya.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena Anda terus menanyakan Langit, bukan ibu saya.”
“Semua ini terhubung.”
“Benar.”
“Lalu kenapa kamu memisahkannya?”
“Karena tidak semua bagian cerita itu milik saya untuk dibuka.”
Amara menyandarkan tubuhnya.
“Kalimat favoritmu.”
“Karena batasnya tetap sama meskipun Anda tidak menyukainya.”
Amara melirik ponsel Elian.
“L tahu kita sedang bicara.”
“Ya.”
“Dia tahu apa yang kamu ceritakan.”
“Sepertinya.”
“Dia juga tahu ibumu.”
Elian mengangguk kecil.
“Apakah L itu Langit?”
Elian menarik napas.
Tidak menjawab.
Amara tertawa pendek.
“Tentu.”
“Saya tidak bilang iya.”
“Kamu juga tidak bilang tidak.”
“Saya tidak tahu siapa yang sedang memakai nomor itu.”
Amara menatapnya beberapa detik, lalu mengalihkan pandangan.
“Nomornya milik siapa?” tanya Amara.
Elian menggenggam ponselnya lebih erat.
“Nomor lama.”