Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #16

BAB 16 Malam-Malam Terakhir

“Kalau cincin itu bukan milik Elian, milik siapa?”

Amara menunjukkan pertanyaan itu lewat layar ponselnya.

Talia tidak langsung menjawab.

Ia mengambil foto dari meja, mengusap debu yang sebenarnya tidak ada, lalu memasukkannya lagi ke balik bingkai. Gerakannya tenang. Hanya jari-jarinya yang mencengkeram sisi kayu terlalu kuat.

“Talia.”

Perempuan itu menatap Amara.

Amara mengetik lagi.

APAKAH CINCIN ITU MILIK LANGIT?

Talia mengangguk tegas.

Harusnya pertanyaannya berkurang. Malah makin banyak yang muncul di kepala Amara.

“Kenapa dipakai Elian?”

Jari Talia bergerak di layar.

TANYAKAN KEPADANYA.

“Dia tidak menjawab.”

BUAT DIA MENJAWAB.

“Caranya?”

Talia mengangkat bahu.

Amara tertawa pendek.

“Keluargamu sangat membantu.”

Talia membaca transkripsi otomatis, lalu mengetik:

KELUARGAKU SUDAH TERLALU LAMA BEGINI. ORANG-ORANGNYA MENGIRA DIAM ITU CARA MELINDUNGI.

Amara memandang foto Ratri yang sudah kembali di balik kaca.

“Kenapa wajah Langit dipotong?”

Talia tidak mengetik.

Ia berdiri, membawa bingkai itu ke rak paling atas, lalu meletakkannya menghadap dinding.

Ya sudah.

Bagian itu selesai.

Setidaknya untuk sekarang.

Sebelum Amara meninggalkan studio, Talia menyentuh lengannya. Amara menoleh. Talia membuat beberapa isyarat perlahan.

Amara mengenali sebagian.

Jangan marah.

Dengar.

Lalu satu gerakan yang belum ia pahami.

Talia mengetik terjemahannya.

JANGAN HANYA MENCARI SIAPA LANGIT. CARI ALASAN KENAPA ELIAN TAKUT KAU MENGETAHUINYA.

Elian sudah menunggu di depan apartemen Amara ketika ia pulang.

Ia berdiri dekat pintu masuk, mengenakan kemeja abu-abu dan membawa satu kantong kertas. Wajahnya langsung membuat Amara teringat pesan Talia.

Khawatir.

Atau lebih khawatir.

Amara berjalan melewatinya tanpa berhenti.

“Kamu ke studio Talia,” kata Elian.

“Kalimat itu terdengar seperti tuduhan.”

“Saya cuma memastikan.”

“Sudah dipastikan.”

Elian mengikutinya sampai lobi.

“Apa yang dia tunjukkan?”

Amara menekan tombol lift.

“Kenapa? Takut dia membuka bagian cerita yang tidak kamu atur?”

“Saya tidak mengatur cerita.”

“Kamu cuma memilih bagian mana yang boleh diketahui orang.”

Pintu lift terbuka.

Amara masuk. Elian tidak langsung mengikuti.

“Boleh saya ikut?” tanyanya.

Amara hampir mengatakan tidak.

Lalu matanya jatuh pada kantong kertas di tangan Elian. Logo restoran semalam tercetak di sampingnya.

“Apa itu?”

“Makanan.”

“Aku punya makanan.”

“Biskuit dan kopi tidak dihitung.”

Amara menekan tombol agar pintu tetap terbuka.

“Masuk.”

Mereka naik dalam diam.

Amara memperhatikan angka lantai. Elian berdiri di tempat yang mudah terlihat olehnya. Kebiasaan itu sudah beberapa kali ia lakukan.

Bahkan ketika sedang bertengkar, laki-laki itu tidak pernah benar-benar membelakanginya.

Di dalam apartemen, Amara meletakkan tas di sofa. Elian menaruh makanan di meja makan, lalu berhenti di sana.

“Aku melihat foto ibumu,” kata Amara.

Elian mengangguk.

“Ada seseorang di sana.”

“Ya.”

“Wajahnya dipotong.”

“Ya.”

“Dia Langit.”

Elian menutup mata sebentar.

“Siapa yang bilang?”

“Talia.”

“Dia seharusnya tidak—”

“Jangan salahkan dia.”

“Saya tidak menyalahkannya.”

“Wajahmu begitu.”

“Masalah Anda selalu dengan wajah saya.”

Amara tidak tersenyum.

Elian akhirnya duduk.

Amara tetap berdiri di seberang meja.

“Cincin itu milik Langit,” katanya. “Kenapa kamu memakainya?”

Elian menunduk melihat cincin perak di jari kelingkingnya.

Ia memutarnya sekali.

“Dia memberikannya kepada saya.”

“Kapan?”

“Setelah ibu meninggal.”

Lihat selengkapnya