Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #17

BAB 17 Jarak Satu Telapak Tangan

Suara Langit dari perekam tua itu menghilang, meninggalkan desis tipis di ruang tengah.

IBUNYA TIDAK MENINGGAL KARENA PENYAKIT.

Amara menatap perangkat kecil di atas meja. File itu bertanggal hari ini, padahal perekam tersebut sejak tadi berada di kantong kertas yang dibawa Elian.

“Bagaimana rekaman ini bisa masuk?” tanyanya.

Elian mengambil perekam itu dan memeriksa layarnya.

“Perangkat ini pernah disambungkan ke komputer lama di studio Talia. Dulu ada folder sinkronisasi nirkabel.”

“Jadi seseorang masih bisa memasukkan file dari jarak jauh?”

“Kalau akses lamanya belum dicabut.”

“Jawaban yang menenangkan.”

Elian membuka menu pengaturan. Jarinya bergerak cepat, tetapi beberapa kali salah menekan tombol. Ketenangan yang biasanya melekat pada dirinya mulai buyar.

Amara mengulurkan tangan.

“Putar sisanya.”

“Rekamannya sudah selesai.”

“Tidak. Durasi di layar dua menit. Tadi baru beberapa detik.”

Elian melihat angka di sudut layar.

Dua menit empat belas detik.

Ia belum juga menekan tombol.

“Elian.”

“Kalau ini memang dari Langit, dia sedang mencoba mengarahkan cara Anda melihat malam itu.”

“Aku sudah terlalu sering diarahkan oleh kalian semua. Putar.”

Elian meletakkan perekam kembali di meja dan menekan tombol.

Desis terdengar lagi.

Suara Langit muncul setelah jeda beberapa detik.

“Penyakit membuat tubuh Ratri melemah,” katanya. “Tapi penyakit bukan alasan dia meninggal malam itu.”

Amara melirik Elian.

Lelaki itu duduk kaku dengan kedua tangan mengepal di atas lutut.

Langit melanjutkan.

“Dia meninggal karena keputusan yang dibuat sebelum keluarganya siap menerimanya.”

Terdengar napas berat dari rekaman. Bisa jadi napas Langit. Bisa juga suara lama yang sengaja dimasukkan.

“Ratri tidak ingin diresusitasi. Dia menandatangani pernyataan medis ketika masih sadar penuh. Elian tahu. Talia tidak. Ketika jantungnya berhenti, tak satu pun anaknya berada di samping tempat tidur.”

Amara terpaku.

“Perawat mengikuti dokumen yang sudah tersimpan dalam berkas medis. Dokter tidak melakukan resusitasi.”

Perekam di meja terasa seperti benda hidup yang membuka luka lama sedikit demi sedikit.

“Elian datang tujuh menit kemudian,” suara Langit berkata. “Dia melihat ibunya sudah meninggal. Sejak malam itu, dia menganggap dirinya membiarkannya mati.”

Elian menekan tombol berhenti.

Ruangan langsung sunyi.

Amara tidak memprotes. Ia sudah mendengar cukup untuk tahu kenapa wajah Elian berubah.

“Benar?” tanyanya.

Elian menatap perekam, bukan Amara.

“Ibu menandatangani pernyataan itu,” katanya. “Saya ikut sebagai saksi.”

“Talia tidak tahu?”

“Ibu tidak ingin memberitahunya.”

“Kenapa?”

“Karena Talia baru dua puluh tahun dan masih percaya semua hal bisa diperbaiki kalau kita cukup keras kepala.”

“Kamu juga?”

Elian tertawa pendek tanpa humor.

“Saya menandatangani dokumen itu. Saya membaca setiap kata. Saya bilang memahami keputusannya.”

“Tapi ketika malam itu terjadi—”

“Saya tidak memahami apa pun.”

Amara duduk di kursi seberangnya.

Ia tidak mencoba menyentuh Elian.

Belum.

“Keputusan ibumu tetap dijalankan.”

“Secara hukum, ya.”

“Secara pribadi?”

Elian mengangkat wajah.

Matanya merah, tetapi ia tidak menangis.

“Secara pribadi, saya ingin dia melanggar semuanya. Saya ingin dia berteriak, memaksa dokter melakukan sesuatu, atau setidaknya menelepon saya lebih cepat.”

“Dia menelepon?”

“Tiga kali.”

“Kamu tidak mengangkat?”

“Saya sedang presentasi. Ponsel dimatikan.”

Amara menunduk.

Tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan. Ratri memilih batas terakhir tubuhnya. Dokter mengikuti keputusan itu. Elian datang terlambat, lalu sejak malam itu terus membawa semuanya di kepalanya sendiri.

“Kenapa Langit mengirim rekaman ini sekarang?” tanya Amara.

“Karena dia ingin Anda percaya saya menyembunyikan kebenaran.”

Lihat selengkapnya