Amara menghindari Elian selama dua hari.
Bukan dengan cara yang matang.
Ia mengubah jadwal latihan, meminta Nadia menjadi perantara untuk urusan teknis, dan keluar dari ruang rapat setiap kali Elian masuk dengan alasan butuh kopi.
Pada hari kedua, Nadia akhirnya menutup pintu pantry sebelum Amara sempat kabur.
“Kamu bertengkar lagi dengan Elian?”
“Tidak.”
“Berarti kalian hampir berciuman.”
Amara tersedak kopi.
Nadia memandangnya dengan puas. “Tepat.”
“Bagaimana kesimpulanmu bisa melompat sejauh itu?”
“Kalian kalau bertengkar masih saling menatap. Dua hari ini kalian seperti dua orang yang pernah melihat sesuatu tanpa pakaian.”
“Kami tidak melihat apa pun tanpa pakaian.”
“Berarti hampir berciuman.”
Amara menaruh gelas. “Aku perlu kembali ke studio.”
Nadia berdiri di depan pintu. “Simulasi teks langsung mulai satu jam lagi. Kamu dan Elian harus bekerja sama.”
“Aku profesional.”
“Kamu tadi bersembunyi di balik dispenser.”
“Aku mencari gelas.”
“Gelasnya sudah di tangan.”
Amara melihat gelas itu, lalu Nadia.
“Jangan gunakan fakta untuk menyerang teman.”
Nadia membuka pintu. “Selesaikan masalah kalian sebelum siaran uji coba. Kita mengundang seratus peserta daring. Sponsor juga menonton.”
Amara menoleh.
“Bukannya ini simulasi internal?”
“Rendra mengubahnya semalam.”
“Tentu saja.”
“Platform video akan dibuka terbatas. Kita menguji penerjemah, teks langsung, dan pergantian kamera. Jangan bicara sembarangan ketika mikrofon aktif.”
“Aku penyiar. Aku tahu kapan mikrofon aktif.”
Nadia memandangnya lama.
“Apa?”
“Tidak ada. Aku cuma ingat jeda delapan detik.”
Amara meninggalkan pantry sebelum persahabatan mereka berubah menjadi perkara lain.
Studio video sudah berubah sejak latihan terakhir.
Layar besar terpasang di belakang meja pembawa acara. Di sisi kanan ada jendela video untuk Talia, yang akan menjadi pengamat sekaligus peserta uji akses. Sebuah layar kecil di depan Amara menampilkan teks langsung dengan jeda kurang dari dua detik.
Elian berdiri di dekat operator teks.
Ia mengenakan kemeja hitam dan tidak memakai cincin perak.
Amara langsung menyadarinya.
Ia membenci dirinya sendiri karena menyadarinya.
“Elian,” katanya.
Lelaki itu menoleh. “Amara.”
Sopan. Datar.
Seperti dua orang yang tidak pernah hampir menghapus jarak satu telapak tangan.
Nadia datang membawa susunan acara.
“Kalian punya lima belas menit untuk memeriksa alur,” katanya. “Aku mau memastikan semua kata khusus sudah masuk kamus sistem.”
Ia menyerahkan daftar kepada Elian, kemudian menarik Dimas untuk mengurus masalah pencahayaan.
Kini Amara dan Elian berdiri berdua di depan meja siaran.
“Cincinnya?” Amara mengangkat alis.
Elian melihat tangan kirinya. “Saya simpan.”
“Kenapa?”
“Bukan untuk dibicarakan sekarang.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Bohong.”
“Saya sedang bekerja.”
Amara mendekat sedikit. “Tentang malam itu—”
“Tidak perlu dijelaskan.”
“Aku ingin menjelaskan.”
Elian melihat kamera, operator, dan orang-orang yang bergerak di sekitar mereka.
“Di sini?”
“Tidak.”
“Kalau begitu nanti.”
“Nanti kapan?”
“Ketika Anda berhenti menghindari saya.”
Amara terdiam.
Operator teks bernama Sari menoleh dari meja. “Maaf, bisa bicara satu per satu? Sistemnya menangkap kalian.”
Pada layar kecil muncul:
KETIKA ANDA BERHENTI MENGHINDARI MAYA.
Amara menunjuk layar. “Namaku saja sudah salah. Menjanjikan.”
Sari tertawa gugup. “Masih mode latihan. Saya perbaiki kamusnya.”
Elian kembali memeriksa daftar istilah.
Amara memperhatikan tangannya. Tanpa cincin, jari kelingking itu tampak aneh. Ada sesuatu yang hilang dari sana.
“Apa kamu mengembalikan cincin itu kepada Langit?” tanyanya.
Elian tetap melihat daftar. “Belum.”