Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #19

BAB 19 Orang yang Mengambil Kesalahan

Selama tujuh detik, tidak ada yang bergerak.

Kalimat Elian masih terpampang di layar besar.

SAYA JATUH CINTA KEPADA PEREMPUAN YANG TERUS MENGAKU TIDAK MEMBUTUHKAN BANTUAN.

Angka penonton berhenti di 4.836.

Lalu naik.

4.912.

Sari akhirnya menemukan tombol untuk memutus siaran.

Layar berubah hitam.

Komentar hilang.

Tapi hampir lima ribu orang sudah sempat membacanya.

Rendra jadi orang pertama yang kembali bersuara.

“Siapa yang membuka akses publik?”

Suaranya tidak keras. Malah terlalu pelan. Seperti orang yang sedang menahan diri supaya tidak melempar kursi, apalagi kursi itu dibeli pakai anggaran perusahaan.

Sari berdiri dari meja operator.

“Saya tidak membuka tautannya, Pak. Dari awal pengaturannya peserta terbatas.”

“Lalu kenapa orang luar bisa masuk?”

“Saya tidak tahu.”

“Jawaban itu tidak masuk laporan.”

Suara lain langsung menyusul.

“Saluran teks belum dimatikan—”

“Jumlah undangan cuma seratus—”

“Link-nya sudah tersebar di media sosial—”

“Siapa yang punya akses admin?”

Semuanya bercampur.

Amara duduk di depan meja siaran, tetapi tidak semua suara sampai kepadanya. Mulut orang bergerak cepat. Ada yang menunjuk layar, ada yang membuka laptop, Rendra mondar-mandir dari satu sisi studio ke sisi lain.

Elian berdiri di sampingnya.

“Lihat saya.”

Amara menoleh.

“Kita keluar dulu.”

“Aku nggak mau keluar.”

“Suara di sini terlalu bertumpuk.”

“Aku masih bisa mengikuti.”

Elian tidak membantah. Ia hanya bergeser sedikit supaya wajahnya tetap terlihat.

Rendra mendekati mereka.

“Amara, kamu tahu mikrofon internal masih aktif?”

“Aku lihat lampu indikatornya mati.”

“Indikator kamera mati. Transkripsinya tidak.”

“Aku tidak mengatur sistem.”

“Tidak ada yang bilang kamu mengatur. Tapi kamu sedang berada dalam siaran perusahaan.”

Amara berdiri.

“Kalau mau menegur, langsung saja.”

Nadia menoleh kepadanya. Tatapannya jelas meminta Amara jangan menambah masalah.

Rendra membuka mulut.

“Saya yang bertanggung jawab,” kata Elian.

Semua orang diam.

Elian berjalan ke meja operator.

“Saya yang meminta saluran teks tetap terhubung selama jeda. Saya mau menguji perpindahan segmen.”

Sari mengernyit.

“Tapi saya sudah mematikannya.”

“Saya mengubah pengaturan cadangan sebelum siaran.”

Amara tahu itu tidak benar.

Elian memang sempat memeriksa panel sebelum acara, tetapi ia tidak punya akses admin untuk membuka tautan publik. Nadia yang memberinya akses teknis terbatas. Perubahan besar tetap harus lewat akun perusahaan.

Rendra menatap Elian.

“Anda mengubah sistem tanpa memberi tahu produser?”

“Saya kira pengaturannya hanya berlaku untuk ruang uji.”

“Anda kira?”

“Itu kesalahan saya.”

Nadia menutup laptop pelan.

Ia juga tahu ada yang tidak beres.

“Bagaimana dengan tautan publik?” tanyanya.

Elian tidak ragu.

“Saya pernah mengirim tautan versi awal kepada beberapa penguji eksternal. Salah satunya mungkin membagikannya.”

“Kepada siapa?”

“Saya kirim daftarnya.”

Amara berdiri.

“Elian.”

Lelaki itu tidak menoleh.

Rendra menunjuk ruang rapat.

“Semua masuk. Sekarang.”

Rapat darurat berlangsung hampir satu jam.

Rendra menghubungi bagian legal, pemilik stasiun, juga perwakilan sponsor. Tim digital diminta menghapus rekaman yang sudah beredar.

Semua orang tahu itu hampir mustahil.

Potongan percakapan Amara dan Elian sudah muncul di beberapa akun.

Ada yang menganggapnya romantis.

Ada yang menuduh itu promosi yang sengaja dibuat.

Ada juga yang justru mempersoalkan sistem aksesibilitas yang sedang diuji. Percakapan pribadi dua pekerja malah bocor karena sistem itu.

Rendra membaca beberapa komentar. Wajahnya makin gelap.

“Program ini bahkan belum diluncurkan, tapi kita sudah punya masalah privasi.”

“Kesalahan sistem bisa diperbaiki,” kata Nadia.

“Kepercayaan sponsor tidak bisa diperbaiki dengan pembaruan perangkat lunak.”

Dimas mengangkat tangan sedikit.

“Kalau dari sisi keterlibatan pengguna, angkanya sebenarnya—”

“Jangan bicara keterlibatan pengguna.”

Tangan Dimas turun lagi.

Elian duduk di ujung meja. Wajahnya tenang, tapi kedua tangannya saling menggenggam terlalu erat.

Amara duduk di seberangnya.

Lihat selengkapnya