Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #20

BAB 20 Suara dari Ruang Sebelah

Pukul sebelas lewat empat puluh malam, gedung stasiun radio belum benar-benar sepi.

Petugas kebersihan masih bekerja di lantai tiga. Dua penyiar program tengah malam sedang sibuk menyiapkan siaran. Dari ruang produksi terdengar suara orang tertawa, meski Amara cuma menangkap bagian akhirnya.

Ia berdiri di depan lift bersama Elian.

Sejak keluar dari tangga darurat, mereka belum bicara lagi.

Kartu akses yang diberikan Elian tersimpan di saku jaket Amara. Entah kenapa benda sekecil itu terasa berat.

“Ruang penyimpanan ada di lantai dua?” tanyanya.

Elian mengangguk. “Di belakang studio cadangan.”

“Siapa yang punya akses?”

“Tim teknis, produser, kepala program, beberapa administrator.”

“Termasuk aku?”

“Secara sistem, iya.”

“Aku bahkan enggak tahu ruangnya ada.”

“Makanya penggunaan akun Anda jadi aneh.”

Lift terbuka di lantai dua.

Lampu koridor cuma menyala setengah. Beberapa bagian remang karena gedung memang mulai menghemat listrik setelah pukul sepuluh malam.

Amara mengikuti Elian ke lorong belakang.

Dindingnya dipenuhi poster program lama. Wajah para penyiar yang sudah pindah stasiun atau berhenti bekerja masih tersenyum dari dalam bingkai. Di ujung koridor ada dua pintu.

Pintu pertama bertuliskan STUDIO B.

Pintu kedua tidak punya tanda apa-apa.

Elian menunjuk pintu tanpa nama.

Amara menempelkan kartu akses.

Lampu kecil berubah hijau.

Kunci terbuka.

“Seharusnya kartumu enggak bisa dipakai,” kata Elian.

“Karena aku bukan administrator?”

“Benar.”

Amara mendorong pintu. “Berarti seseorang nambah akses.”

Ruangan di dalam kecil dan dingin. Tiga lemari server berdiri di sisi dinding. Lampu indikatornya berkedip dengan ritme yang enggak sama. Di meja ada dua monitor, papan ketik, dan perangkat audio yang kelihatannya lebih tua daripada Amara.

Elian menyalakan salah satu monitor.

“Katamu secara resmi enggak akan menyentuh apa pun.”

“Saya cuma menyalakan layar.”

“Itu definisi menyentuh.”

“Kalau Anda mau mengoperasikan semuanya sendiri, silakan.”

Amara melihat puluhan folder bermunculan setelah sistem menyala.

“Aku cabut keberatan.”

Elian duduk di depan meja. “Kita cuma lihat log. Enggak mengubah data.”

“Kalau ketahuan?”

“Anda bilang saya yang memaksa.”

“Aku enggak suka bohong.”

Elian menoleh.

Amara menahan tatapannya beberapa detik sebelum menghela napas.

“Baik. Kadang aku suka bohong. Tapi cuma buat hal penting dan berat badan.”

Sudut mulut Elian bergerak sedikit.

Setelah ketegangan berjam-jam tadi, hampir-senyum itu terasa aneh. Tapi setidaknya lumayan.

Elian membuka catatan akses.

Nama pengguna Amara muncul pada pukul tujuh lewat dua belas malam, empat puluh delapan menit sebelum siaran uji coba dimulai.

“Aku sedang dirias saat itu,” kata Amara.

“Ada saksi?”

“Nadia. Perias. Dimas juga sempat masuk buat cari kabel yang sebenarnya ada di tangannya.”

“Dimas memang terlihat mampu melakukan itu.”

Amara menatapnya. “Kamu hampir bercanda.”

“Kurang tidur.”

“Manusiawi.”

Log menunjukkan akun Amara membuka tautan publik, mengaktifkan penyimpanan transkripsi, lalu menghubungkan saluran studio dengan ruang penyimpanan audio cadangan.

“Kenapa disambungkan ke sini?” tanya Amara.

“Semua suara saat jeda disimpan sebagai file terpisah.”

“Termasuk pengakuanmu?”

“Ya.”

Amara melihat daftar rekaman.

Salah satunya memiliki nama otomatis:

TEST-LIVE_2018-07-30_BREAK02

Elian membuka detail berkas, tetapi tidak memutarnya.

“File ini sudah disalin,” katanya.

“Ke mana?”

“Perangkat eksternal.”

“Siapa yang masuk ke ruangan ini?”

Elian membuka catatan pintu.

Tidak ada nama lain.

Hanya Amara.

“Jadi seseorang memakai akun dan kartu akses atas namaku.”

“Ya.”

“Bagaimana?”

“Duplikasi kredensial atau akses dari administrator.”

Lihat selengkapnya