Amara mundur satu langkah.
Semua dugaan tentang saudara, teman keluarga, dan orang di balik suara dalam foto seperti ambruk begitu saja.
Lelaki yang baru saja menciumnya adalah Langit Pukul Dua.
“Matikan,” kata Amara.
Elian menekan tombol pada panel.
Rekaman berhenti.
Studio B kembali sunyi. Tapi suara itu masih tertinggal di kepala Amara.
Selamat malam, Amara.
Selama ini suara yang terasa jauh dan aman itu ternyata punya wajah.
Wajah yang sudah berkali-kali menatapnya saat ia tidak bisa mendengar.
Wajah yang beberapa menit lalu begitu dekat sampai Amara bisa merasakan napasnya.
“Elian Adhiraksa,” katanya pelan. “Langit Pukul Dua.”
Elian tidak membantah.
“Aku mau dengar kamu sendiri yang bilang.”
Elian menghadap Amara.
“Saya Langit Pukul Dua.”
Seharusnya pengakuan itu membuat Amara lega.
Yang terjadi malah sebaliknya.
Sesuatu di dalam dirinya seperti patah.
Ia tertawa pendek. Tidak ada lucunya sama sekali.
“Tiga tahun.”
Elian membuka mulut.
“Tiga tahun,” ulang Amara. “Kamu menelepon setiap minggu. Kamu dengar aku ngomongin hidupku, keluargaku, pendengar yang nangis, mantan yang nggak tahu malu, sampai makanan yang kupesan setelah siaran.”
“Saya tahu.”
“Jangan bilang kamu tahu.”
Amara berjalan menjauh. Dua langkah kemudian ia berbalik lagi. Studio itu terlalu kecil untuk menampung marahnya.
“Kamu datang ke kantor. Berdiri di luar studio. Tanya soal telingaku. Ngajarin aku bahasa isyarat. Kamu membiarkan aku nyari siapa Langit, padahal orangnya berdiri di depanku.”
“Saya mau memberi tahu.”
“Kapan?”
Elian diam.
“Itu pertanyaan sederhana.”
“Saya tidak tahu.”
“Tentu.”
Amara mengusap bibir dengan punggung tangan.
Gerakan itu tentu tidak menghapus ciuman mereka. Tapi Amara ingin Elian melihat bahwa sesuatu yang beberapa menit lalu terasa jujur kini ikut tercemar.
Wajah Elian menegang.
“Ciuman tadi bukan bagian dari kebohongan.”
“Jangan sentuh bagian itu.”
“Saya perlu—”
“Kamu nggak perlu menjelaskan perasaanku ke aku.”
“Saya menjelaskan perasaan saya.”
“Aku nggak peduli.”
Bohong.
Mereka sama-sama tahu.
Amara justru terlalu peduli. Itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan. Seolah tiga tahun kenangan tadi bisa berubah hanya karena satu kebenaran muncul malam ini.
Ia mulai mengingat semuanya dengan cara yang berbeda.
Setiap kali Langit terdengar mengerti.
Setiap kali Elian seperti tahu apa yang sedang dibutuhkannya.
Kebetulan-kebetulan kecil itu.
Jeda-jeda yang dulu tidak pernah ia curigai.
Kebohongan yang sengaja dipelihara supaya dua nama itu tetap terlihat seperti milik dua orang.
“Ponsel Talia,” kata Amara. “Panggilan salinan. Aplikasi pengujian. Semua itu kamu atur?”
“Tidak semuanya.”
“Bagian mana yang bukan?”
“Ponsel itu memang milik Talia. Sistem panggilannya memang membuat salinan notifikasi. Saya memanfaatkan celah itu supaya Anda mengira Langit menelepon dari tempat lain.”
Amara tertawa hambar.
“Jadi bagian teknisnya benar. Cuma kesimpulannya yang sengaja kamu bikin salah.”
“Ya.”
“Percobaan pertama? Kamu keluar dari ruang rapat.”
“Saya menelepon melalui perangkat lain.”
“Percobaan kedua? Kamu berdiri di depanku waktu Langit menelepon.”
“Itu rekaman yang dijadwalkan.”
“Dan L?”
Amara menatapnya.
“Siapa yang kirim pesan dari nomor itu?”