Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #22

BAB 22 Perempuan yang Tidak Pernah Menjawab

Amara berdiri di ambang pintu Studio B.

Di belakangnya, koridor lantai dua kosong. Di depannya, Elian masih berdiri dekat meja audio.

“Jelaskan,” kata Amara.

Elian tidak bergerak mendekat.

“Ibu menunggu program Anda setiap Kamis.”

“Programku belum ada ketika dia meninggal.”

“Benar.”

“Jangan mulai bikin teka-teki lagi.”

“Saya tidak sedang membangun teka-teki.”

Elian mengambil perekam tua dari meja lalu meletakkannya dekat pengeras suara.

“Setelah tiga malam Anda menggantikan penyiar lama, Ibu minta rekamannya. Saya nggak punya akses. Ada orang di bagian arsip yang membantu menyalinnya.”

“Orang yang selama ini kamu sebut kenalan Langit?”

“Saya sendiri.”

Amara mengembuskan napas tajam.

Ternyata jawaban lama pun masih punya bagian yang disembunyikan.

“Elian.”

“Saya akan mengatakan semuanya.”

“Tanpa permainan kata?”

“Tanpa.”

Amara menutup pintu, tetapi tidak kembali duduk. Tasnya masih menggantung di bahu. Kalau penjelasan berikutnya kembali terasa seperti jebakan, ia tinggal pergi.

Elian menyalakan perekam.

File yang diputar bukan suara Langit. Bukan juga rekaman terakhir Ratri.

Suara Amara sendiri terdengar.

Lebih muda, lebih cepat, dan belum setenang sekarang.

“Kadang hidup memberi lagu berbeda dari yang kita minta,” suara Amara dari empat tahun lalu berkata. “Kalau enak, pura-pura saja itu pilihan kita.”

Lalu terdengar tawa seorang perempuan.

Kecil.

Serak.

Tapi nyata.

Amara mengenali suara Ratri dari rekaman sebelumnya.

“Ini direkam di kamar rumah sakit?” tanyanya.

Elian mengangguk. “Saya merekam reaksinya lewat ponsel.”

“Kenapa?”

“Karena sudah berminggu-minggu dia tidak tertawa.”

Rekaman terus berjalan.

Suara Amara muda memperkenalkan lagu berikutnya. Ratri mencoba mengatakan sesuatu, tetapi suaranya terlalu pelan.

Elian muda terdengar mendekat.

“Ibu bilang apa?”

Ratri mengulang.

Kali ini lebih jelas.

“Besok perempuan itu siaran lagi?”

“Besok malam terakhirnya.”

“Rekam.”

“Ibu bisa mendengarkan langsung.”

“Rekam juga.”

Suara mereka berhenti ketika lagu mulai diputar.

Elian mematikan perangkat.

“Saya merekam ketiga malam itu,” katanya. “Setelah Anda tidak lagi menggantikan, Ibu minta rekamannya diputar setiap Kamis.”

“Kenapa Kamis?”

“Itu malam terakhir Anda siaran.”

Amara menurunkan tas dari bahu.

Ia belum duduk. Tapi keinginannya untuk pergi sudah tidak sebesar tadi.

“Jadi dia nggak menunggu siaran langsung.”

“Tidak. Dia menunggu rekaman.”

“Rekaman yang sama tiap minggu?”

“Tiga file. Diputar bergantian.”

Amara membayangkan kamar rumah sakit dengan cahaya redup. Radio tua di meja. Seorang perempuan kurus menunggu suara penyiar yang bahkan tidak tahu dirinya ada.

“Kenapa dia suka?”

Elian tersenyum tipis.

“Ibu bilang Anda terdengar seperti orang yang sedang berusaha terlalu keras supaya nggak menangis.”

Amara tertawa kecil. “Pujian yang buruk.”

“Dia suka.”

“Aku memang hampir menangis malam itu.”

Elian menatapnya.

“Kenapa?”

“Penyiar tetap yang baru bilang aku terlalu emosional buat radio malam. Aku dikasih tiga malam karena nggak ada orang lain.”

“Dan setelah itu Anda diterima.”

“Beberapa bulan kemudian.”

Elian mengangguk.

Amara duduk di ujung sofa.

“Apa yang dilakukan ibumu ketika mendengarkan?”

“Kadang tertawa. Kadang tidur. Kadang cuma melihat radio.”

“Dia masih bisa bicara?”

“Pada awalnya.”

“Lalu?”

Elian menurunkan pandangan.

“Pada minggu-minggu terakhir kondisinya memburuk. Obat membuatnya sering kehilangan kesadaran. Ketika terjaga, dia nggak selalu bisa bicara.”

Amara mendengarkan tanpa menyela.

“Ada satu Kamis malam,” lanjut Elian, “ketika saya memutar rekaman kedua. Ibu membuka mata, tapi tidak menjawab ketika saya tanya apakah volumenya cukup.”

Lihat selengkapnya