Nama RATRI ADHIRAKSA tetap berada di layar pesan pendengar.
Amara tidak segera bicara.
Bima menatapnya dari balik kaca, menunggu instruksi. Lagu yang sedang diputar tinggal satu menit. Setelah itu, Amara harus kembali membuka mikrofon dan berpura-pura bahwa pesan dari perempuan yang telah meninggal itu tidak baru saja muncul di hadapannya.
Ia menekan tombol komunikasi internal.
“Lacak pengirimnya.”
Bima menggeleng. “Sistem hanya menunjukkan nama tampilan.”
“Nomornya?”
“Tersembunyi.”
“Tentu saja.”
Amara mengambil ponsel dan memotret layar. Ia mengirim gambar itu kepada Elian tanpa menambahkan kalimat apa pun.
Pesan dibaca beberapa detik kemudian.
Tidak ada balasan.
Lagu berakhir.
Amara menyalakan mikrofon.
“Kadang-kadang,” katanya, “seseorang pergi tanpa sempat memberikan penjelasan. Lalu kita menghabiskan terlalu banyak waktu menebak apa yang seharusnya dia katakan.”
Suaranya terdengar tenang.
Hanya jemarinya yang mencengkeram meja terlalu kuat.
“Masalahnya, orang yang sudah pergi tidak bisa membetulkan tebakan kita. Jadi hati-hati. Jangan memakai nama orang mati untuk memenangkan percakapan dengan orang hidup.”
Bima mengangkat alis.
Amara memutar lagu berikutnya lebih cepat dari susunan acara.
Dalam waktu kurang dari satu menit, ponselnya bergetar.
Elian menelepon.
Amara menolak panggilan.
Telepon masuk lagi.
Ia menolak untuk kedua kalinya.
Pesan muncul.
BUKAN SAYA.
Amara membalas:
TALIA?
Jawaban datang cepat.
SAYA SEDANG MENANYAKANNYA.
Amara meletakkan ponsel dalam keadaan telungkup.
Ia tidak ingin mendengar penjelasan lain. Tidak malam itu. Setiap penjelasan malah membuka rahasia baru dan entah bagaimana membuatnya ikut merasa bersalah karena tidak bisa memahami alasan orang yang berbohong kepadanya.
Siaran dilanjutkan sampai pukul tiga.
Tidak ada panggilan Langit.
Tidak ada pesan lain atas nama Ratri.
Begitu lampu mikrofon padam, barulah Amara merasa tubuhnya kosong.
Bima masuk sambil membawa lembar laporan.
“Masih mau saya cari data pesannya?”
“Ya.”
“Kalau ternyata cuma pendengar iseng?”
“Blokir.”
“Kalau bukan?”
Amara memasukkan ponsel ke dalam tas. “Tetap blokir.”
Bima menatapnya beberapa detik.
“Mara.”
“Apa?”
“Kamu kelihatan seperti orang yang belum memutuskan sedang marah atau sedih.”
“Aku bisa melakukan dua hal sekaligus.”
“Berarti multitasking-mu membaik.”
Biasanya Amara akan membalas.
Malam itu ia cuma mengangkat tas dan berjalan keluar.
Elian menunggu di lobi.
Ia duduk di sofa dekat meja keamanan, tubuh sedikit membungkuk, kedua tangan saling menggenggam. Ketika melihat Amara, ia langsung berdiri.
“Aku tidak mau bicara,” kata Amara sebelum lelaki itu sempat membuka mulut.
“Pesan itu dari Talia.”
Amara terdiam sesaat.
“Tentu.”
Elian melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak. “Talia menemukan catatan lama ibu. Kalimatnya sama dengan yang dikirim malam ini.”
“Jadi dia berpikir memakai nama ibumu di pesan anonim adalah ide bagus?”
“Dia mengirimnya lewat sistem uji karena ingin menutup panggilan Langit dengan pesan terakhir dari ibu.”
“Tanpa memberitahuku.”
“Dia mengira saya sudah menjelaskan.”
“Semua orang di keluargamu suka mengira.”
Elian tidak membela Talia.
“Dia minta maaf.”
“Bagus. Simpan.”
“Amara.”