Sebelum Dunia Menjadi Sunyi

A.A.Pusung
Chapter #24

BAB 24 Kamis Tanpa Langit

Kamis berikutnya datang tanpa Elian.

Mejanya di ruang rapat kosong.

Tablet dan kabel yang biasanya ada di sudut sudah dibawa pulang. Papan tulis masih menyimpan beberapa catatan terakhirnya tentang arah kamera dan jeda teks. Nama Elian sudah hilang dari jadwal proyek.

Rendra menemukan konsultan pengganti bernama Surya dalam waktu tiga hari.

Surya berpengalaman, sopan, dan bisa menjelaskan seluruh sistem tanpa membuat orang merasa sedang diperiksa.

Amara tidak menyukainya.

Bukan karena Surya melakukan kesalahan.

Justru karena tidak ada satu pun yang mengingatkannya kepada Elian. Dan anehnya, itu malah terasa mengganggu.

Pada rapat pertama, Surya menjelaskan perubahan susunan layar.

Amara mengangguk.

Ketika Dimas dan Nadia berbicara bersamaan, Surya tidak langsung meminta mereka bergantian. Amara kehilangan separuh percakapan, tetapi memilih diam.

Ia baru sadar sedang membaca bibir Nadia ketika perempuan itu menoleh.

“Kamu mengikuti?” tanya Nadia.

“Ya.”

“Aku barusan tanya apakah jadwal latihan dipindah.”

Amara melihat catatannya.

“Jangan pagi,” jawabnya.

Nadia menyipitkan mata, tetapi tidak membongkar kebohongan itu di depan orang lain.

Talia tidak hadir.

Sejak Elian keluar, ia hanya mengirim masukan tertulis kepada tim. Pesan terakhirnya kepada Amara juga belum dibalas.

Bukan karena Amara marah kepada Talia.

Ia cuma belum siap berhadapan dengannya. Talia terlalu sering melihat sesuatu yang Amara sendiri sedang berusaha tidak lihat.

Menjelang siaran malam, Bima memeriksa daftar panggilan tetap.

Nama Langit masih tersimpan di sistem.

“Dihapus?” tanyanya.

Amara sedang memasang headphone. “Jangan.”

“Kalau dia menelepon?”

“Dia tidak akan menelepon.”

“Kalau ternyata iya?”

Amara menatap layar panggilan.

“Jangan terima tanpa persetujuanku.”

Bima mengangguk.

Pukul sebelas, siaran dimulai.

Amara menjalankan program seperti biasa. Ia menyapa pengemudi malam, mahasiswa yang belum tidur, pekerja rumah sakit, dan orang-orang yang bilang mereka cuma belum mengantuk, padahal sedang menunggu pesan dari seseorang.

Suaranya stabil.

Terlalu stabil.

Ia tidak membuat kesalahan. Tidak tertawa terlalu lama. Tidak melempar komentar spontan yang biasanya membuat Bima buru-buru menurunkan volume mikrofon karena khawatir Amara menyebut merek atau nama orang.

Semuanya berjalan sesuai susunan acara.

Pada pukul sebelas lewat dua puluh, seorang pendengar mengirim pesan.

Mbak, Langit nanti telepon, kan?

Amara melewatinya.

Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.

Sudah Kamis. Jangan bilang Langit libur.

Langit ke mana?

Apa benar Elian itu Langit?

Potongan video kalian berdua sudah tersebar. Tolong jelaskan.

Amara meminta Bima menutup kolom komentar dari monitor utama.

Bima melakukannya, tetapi pesan tetap masuk ke sistem operator.

“Banyak yang tanya,” katanya melalui interkom.

“Abaikan.”

“Jumlahnya ratusan.”

“Putar lagu berikutnya.”

“Masih dua menit.”

“Putar sekarang.”

Bima menuruti.

Amara melepas headphone selama lagu berjalan.

Tanpa headphone, suara studio terdengar tipis. Musik dari monitor utama seperti datang dari ruangan lain. Indikator audio tetap bergerak, tetapi lagunya terasa jauh.

Dulu, di waktu seperti ini, ia menunggu pukul dua.

Tidak pernah benar-benar ia pikirkan sebagai sesuatu yang penting.

Langit cuma penelepon tetap. Salah satu bagian acara. Seseorang yang datang beberapa menit, lalu pergi.

Setidaknya, begitu yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Baru sekarang Amara sadar, setiap Kamis punya kebiasaan sendiri sejak suara itu ikut menjadi bagiannya.

Sebelum pukul dua, ia selalu menyiapkan satu ejekan.

Lihat selengkapnya