Surya berdiri di balik kaca ruang operator dengan map putih di tangannya.
Logo klinik pendengaran terlihat jelas di bagian depan. Sudut kanan map sedikit terlipat, sama seperti ketika Amara menekannya ke dasar tas beberapa hari lalu.
Amara membuka pintu studio begitu cepat sampai kabel headphone hampir terseret dari meja.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Surya menoleh. “Ada di bawah konsol.”
“Tidak mungkin.”
Ia masuk ke ruang operator dan mengambil map itu dari tangan Surya. Resletingnya masih tertutup, tetapi posisi kertas di dalam sudah berubah. Surat rujukan yang sebelumnya berada paling belakang sekarang terlipat di bagian atas.
Seseorang pernah membukanya.
“Ini milikmu?” tanya Surya.
Amara memasukkan map ke dalam tas. “Bukan urusanmu.”
“Aku tidak membaca isinya.”
“Kamu tahu itu klinik pendengaran.”
“Logonya ada di depan.”
“Ada tulisan nama pasien.”
“Aku tidak melihat.”
Amara menatap wajahnya, mencari tanda-tanda kebohongan.
Surya tidak tampak gugup. Ia malah sedikit tersinggung karena dicurigai. Amara tahu ekspresi seperti itu tidak membuktikan apa-apa. Ia sudah belajar itu dari Elian.
“Kamu masuk ke ruangan ini jam berapa?” tanyanya.
“Sekitar lima belas menit lalu.”
“Sendirian?”
“Petugas keamanan membuka koridor. Setelah itu sendirian.”
“Kenapa masuk?”
“Rendra meminta aku memeriksa sistem transkripsi sebelum simulasi besok.”
“Pukul empat pagi?”
“Aku diberi tahu siaran selesai pukul tiga. Kukira semua orang sudah pulang.”
Amara melihat layar komputer di ruang operator.
Sistem masih menyala. Beberapa folder terbuka. Salah satunya arsip siaran lama yang tadi ia dengarkan.
“Siapa yang membuka folder itu?”
Surya mengikuti arah pandangnya. “Sudah terbuka saat aku datang.”
Amara menoleh ke lorong. Tidak ada orang lain. Pintu tangga darurat tertutup. Lampu ruangan teknis di ujung koridor mati.
“Jangan bilang siapa pun soal map ini.”
Surya menyandarkan tubuh ke meja. “Apa ada sesuatu yang harus kusimpan?”
“Tidak.”
“Kalau tidak ada, kenapa aku harus diam?”
“Karena itu barang pribadi.”
Surya menatap tas Amara. “Aku bisa menghormati barang pribadi tanpa pura-pura tidak melihat sesuatu yang mungkin berhubungan dengan keselamatan kerja.”
Kalimat itu terdengar terlalu mirip dengan Elian.
Amara langsung kesal pada dirinya sendiri karena sempat memikirkan itu.
“Aku tidak butuh konsultan lain yang mengatur hidupku.”
“Aku baru bekerja di sini tiga hari.”
“Cukup untuk menemukan barang yang seharusnya berada di apartemenku.”
Surya mengerutkan dahi. “Kamu yakin membawanya pulang?”
Amara hendak menjawab cepat, tetapi berhenti.
Ia ingat membawa map itu ke apartemen setelah pemeriksaan. Ingat membacanya di lantai ruang tengah. Ingat memasukkannya kembali ke tas.
Lalu beberapa hari terakhir tas yang sama ikut ke studio, ruang rapat, restoran, studio Talia, sampai Studio B.
Map itu bisa saja jatuh.
Bisa juga diambil.
“Aku yakin,” katanya, meski keyakinannya sendiri mulai goyah.
Surya mengangkat kedua tangan. “Baik.”
Amara menunjuknya. “Jangan pakai kata itu.”
“Aku belum cukup lama di sini untuk tahu daftar kata terlarang.”
“Sekarang sudah tahu.”
Ia meninggalkan ruang operator sambil memeluk tas di depan dada.
Amara baru sampai di apartemen ketika Nadia menelepon.
Pukul lima lewat dua puluh.
“Mara, kamu sudah pulang?”
“Baru sampai.”
“Ada yang terjadi di kantor?”
Pertanyaan itu membuat Amara berhenti melepas sepatu.
“Apa maksudmu?”
“Surya kirim pesan ke grup produksi. Katanya dia menemukan map milikmu.”
Amara menutup mata.
“Dia bilang apa?”
“Hanya tanya apakah ada barang yang tertinggal. Rendra belum membalas.”
“Suruh dia hapus pesannya.”
“Kenapa?”
“Nad.”
Nada suara Amara membuat Nadia diam sebentar.