Sebelum Keluarga Kami Hancur

Ariaria
Chapter #2

Penderitaan Yang Sempurna

Sejak saat itu, setiap makan malam, ayah yang baru pulang bekerja pasti marah-marah kepada ibu, menuduhnya tidak becus mengurus anak. "Masa' gadis SMP seperti Yumi dibiarkan berangkat-pulang sendiri setiap hari?! Kau bisa mengantarkannya menggunakan mobil, bukan?!!", begitu katanya dengan air liur muncrat kemana-mana.

Ibu sama sekali tidak membela diri. Paham bahwa suaminya bersikap demikian karena tidak terima putri kesayangannya tewas akibat kecerobohannya. Ia yakin suaminya marah karena ia sangat sayang pada keluarganya, sehingga tepat di keesokan harinya, aku diantar oleh ibu ke sekolah menggunakan mobil.

Sebenarnya aku tidak mau, malu dengan teman-teman di sekolah. Bakal dikira anak manja, anak mama dan sebagainya.

Namun, demi melihat senyuman ibu yang tulus...tiba-tiba logika-ku berhenti berputar, tanpa sadar bergerak memasuki mobil, tidak berkata sepatah kata apapun hingga sampai di gerbang sekolah. 

...Padahal, selama ini akulah yang paling keras membantahnya...

Memprotesnya...

Memukulinya...

Tetapi...Mengapa untuk yang kali ini...

Aku takut melihat ibuku menangis?

Apa yang terjadi padaku?

Mengapa dada ini...rasanya sangat hangat?

Tak mau menjadi sorotan publik di depan gerbang yang ramai, aku segera masuk sekolah, untuk pertama kalinya, dengan tenang mengikuti seluruh pelajaran, membuat teman-temanku menjerit histeris, sementara para guru menangis terharu.

Hari itu, banyak orang di sekolah mengira bahwa aku sedang kesurupan.

***

"Ayah, sudah sebulan penuh ini ayah terus menyalahkan ibu di meja makan...Apakah tindakan ayah tidak keterlaluan?!",

Tidak tahan lagi dengan pertengkaran kedua orangtuanya yang tak kunjung henti semenjak kematian Yumi, Hajime-niisan akhirnya ikut angkat bicara, berseru kepada ayah yang wajahnya selalu merah. Gila kerja. Suka marah-marah.

Aku kaget melihat hal itu, begitu juga dengan ibu. Hendak mencegahnya berkata lebih jauh. Tetapi kakak yang sudah terlanjur muak langsung menyerocos.

"Lagipula, ayah waktu itu tidak datang di pemakaman Yumi...Sekarang mengapa harus bertindak seolah-olah ayah benar-benar menyayanginya?!! Bukankah itu konyol?!!",

Mendengar ucapan tersebut, tambah naik pitam ayah yang dari dahulu tensi-nya memang tinggi itu, langsung menampar wajah Hajime-niisan di depan ibu, berseru.

"APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN PADA ORANGTUAMU, ANAK BODOH?!! APAKAH KAU TIDAK PERNAH DIAJARI SOPAN-SANTUN OLEH IBUMU, HAH??!!!", kemudian melayangkan tinjunya keras-keras.

BUAK!!

Tetapi tidak sampai. Ibu dengan sigap pasang badan, secepat angin melindungi anaknya yang hampir disakiti, merelakan wajahnya jadi sasaran hingga terjungkal ke lantai, merobohkan kursi makan Yumi yang sudah kosong.

Melihat itu Otonashi Hajime langsung berseru.

"I--Ibu!! Apa yang Ibu lakukan?!!",

Tak peduli dengan wanita yang tak sengaja ditamparnya, Otonashi Mamoru, ayahku, langsung meninggalkan meja makan, kembali ke kamar yang entah sejak kapan sudah terpisah dari kamar ibu, tidur sendirian disana.

Sementara aku, yang kali ini lebih banyak diam, hanya memerhatikan ibu yang sama sekali tak tampak 'kesakitan', malah membelai kepala Hajime-niisan yang khawatir, bertanya.

"Kau tidak apa-apa...Hajime?", katanya lemah.

Membuat air mata kakakku langsung tumpah, memeluk erat ibunya. 

"Maafkan Hajime, ibu...! hiks...hiks...Tolong maafkan Hajime karena membuat ibu seperti ini...!!",

Kemudian menangis tersedu-sedu.

Aku sendiri yang tak tahan melihat hal itu ikut pergi meninggalkan meja makan, hendak kembali ke kamar untuk tidur.

Akan tetapi, kali ini langkahku agak cepat, tergesa-gesa.

Karena sebenarnya aku khawatir...

Hajime-niisan akan menyadari bahwa aku juga menangis.

***

Setelah itu tak banyak yang kuingat.

Ayah yang selingkuh, lantas meminta cerai mendadak. Ibu yang depresi. Kakak yang membanting tulang, ikut bekerja demi rumah karena ayah tak lagi memberi uang. Sekolahku yang terputus...

...Dramatis sekali.

Kini, hari-hariku dipenuhi dengan meja makan yang sunyi, dua kursi yang kosong, dan suara ibu yang menangis diam-diam di malam hari.

Meski sudah tidak bersekolah, namun aku masih belajar di kamar. Memanfaatkan ponsel yang kumiliki, sesekali pergi ke perpustakaan untuk membaca sesuatu. Walaupun, sebenarnya, aku tidak begitu paham dengan apa yang kubaca.

Tapi, tidak apa-apa. 

Demi melihat ibu yang tersenyum setiap kali aku membawa buku pelajaran ke meja makan, aku terus mengulangi rutinitas yang membosankan itu. Membuatku berpikir bahwa aku memang sudah gila.

Awalnya kupikir perasaan kehilangan itu tidak akan kembali lagi.

Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, sekonyong-konyong pada suatu malam ketika bangun tidur, kulihat ayah yang baru datang setelah menghilang cukup lama sudah terkapar di lantai ruang tamu. Tak bergerak lagi dalam genangan darah. Sementara tak jauh darinya Hajime-niisan dengan gemetaran menggenggam pisau dapur melalui kedua tangan. Nafasnya terengah-engah, bola matanya melotot marah, pakaiannya dibasahi cairan kental merah hangat. Aku tidak perlu bertanya apa yang terjadi dan mengapa Kak Hajime berdiri disana sambil membawa barang yang sangat berbahaya. Ibu yang juga baru keluar kamar ditengah malam seketika menjerit histeris. Bergegas memeluk kedua anaknya, merebut pisau yang masih meneteskan darah dengan mata berkaca-kaca. Menyuruh kami berdua mandi, mengganti pakaian. Memastikan tidak ada satupun noda darah yang melekat di tubuh atau pakaian. Memberikan perintah terakhirnya yang hingga saat ini tidak dapat kulupakan:

Kalian tetaplah disini.

Biarkan ibu yang pergi.

Aku yang masih belum memahami perubahan emosi dalam diriku sendiri tak dapat melakukan apa-apa dalam kondisi yang sangat membingungkan itu. Mematung bersama Hajime-niisan yang langsung ambruk, menatap dalam pilu sosok ibu yang menghilang bersamaan dengan ditutupnya pintu masuk rumah.

Membuatku teringat pada Yumi.

Teringat akan perasaan yang sangat menyakitkan.

Perasaan kehilangan seseorang yang sangat berharga.

Kemudian cepat sekali kejadian itu berlangsung.

Esoknya, petugas kepolisian datang untuk mengambil jenazah ayah yang sudah mulai bau. Menanyakan kesaksianku dan kakakku, mencocokkan laporan dengan yang terjadi di lapangan, lantas langsung undur diri.

Aku agak bingung apa yang terjadi tapi belakangan aku dikabari kakak bahwa ibu kemarin malam melapor sendiri ke kantor polisi, membawa barang bukti berupa pisau berlumuran darah, menyerahkan dirinya sendiri supaya bisa langsung dipenjara.

Reaksi kakakku benar-benar aneh. Pandangannya kosong. Cahaya di matanya redup. Meski aku menangis terdedu-sedu kehilangan sosok yang kini kusadari sangat berharga, kak Hajime tetap diam. Sama sekali tidak peduli. Sibuk berpikir di kamarnya. Merenungkan sesuatu. Tidak berbicara sedikitpun kecuali kata-kata terakhirnya sambil mendekapku.

"...Maafkan aku, Kagaya-kun...Kakakmu ini sudah tidak tahan lagi...",

Kemudian, pada keesokan harinya, ketika membuka pintu kamar dan berjalan ke ruang makan, kulihat sepasang kaki sudah menggantung di langit-langit meja makan, berayun pelan dengan kulit yang telah dingin. Sementara secarik kertas bertuliskan "Selamat tinggal, Kagaya-kun...Maafkan aku", terletak tak jauh darinya, ditaruh di dekat piring sarapan pagi yang nasinya sudah agak keras.

Ditulis dengan bekas titik-titik air mata.

Seketika tubuhku lemas. Air mataku mengalir. Bahuku gemetar. 

Meski mengetahui sebuah tali tambang biru telah menjerat lehernya, aku tetap bangkit, berusaha memanggil kakakku yang menggantung diatas meja, memeluknya--untuk pertama kali--sambil terisak parau, berharap pada tuhan bahwa ia akan dihidupkan kembali.

Pagi itu...sempurna sudah penderitaanku.

Aku tidak lagi sekolah. Teman-temanku yang nakal sudah menjauhiku, membentuk geng berandalan yang baru. Ayahku meninggal, ibuku dipenjara, adikku ditabrak truk dan kakakku bunuh diri.

Ya tuhan...

Apakah ini adalah karma bagiku?

Apakah kau ingin membalas segala perbuatan buruk...yang dahulu kulakukan?

Bukankah kau adalah sosok yang Maha penyayang?

Bukankah katamu keadilanmu itu seluas langit?

Bukankah kasih sayangmu itu sepenuh bumi?

Lantas mengapa...Ya Tuhan....?

Mengapa kau hancurkan keluargaku...hingga seperti ini...?

Sambil menyendok sarapan buatan Hajime-niisan yang terakhir, sambil menunggu petugas ambulans datang sementara air mataku terus mengalir, aku melirik sepucuk gagang pisau yang cukup tajam di sebuah sudut dapur. Berkilauan diterpa cahaya. Terdiam sejenak. Memikirkan sesuatu.

Tanpa disadari, lagi-lagi tubuhku bergerak sendiri dengan perasaan yang sangat hampa. Berjalan mendekat ke arah dapur tempat ibu biasanya memasak bersama kakak, mengambil pisau berukuran 20 cm yang tajam, menatapnya datar. Menyeringai tipis.

Ah...Jadi begitu rupanya.

Aku sekarang memahami mengapa ketika itu Kak Hajime tiba-tiba terdiam, tidak menangis lagi. Kembali ke kamarnya seolah tak terjadi apa-apa di keluarga ini.

Aku sekarang paham mengapa lelaki itu mendadak bisa lebih tenang. Lebih diam.

Lihat selengkapnya