Sebelum Kita Berciuman Dunia Sudah Menontonnya

A.A.Pusung
Chapter #1

Prolog

PROLOG

Ciuman yang Belum Terjadi

Pukul sebelas lewat lima puluh delapan malam, ruang penyuntingan sudah hampir kosong.

Nara Aksanti masih duduk di depan tiga layar yang menampilkan adegan yang sama dari sudut berbeda. Di layar kiri, Arka Mahendra memasuki lobi hotel. Di layar tengah, ia berhenti di dekat meja resepsionis. Di layar kanan, ia menoleh kepada lawan mainnya dengan ekspresi yang seharusnya membuat jutaan penonton percaya bahwa cinta bisa muncul hanya karena dua orang berdiri di bawah cahaya yang tepat.

Nara tidak memikirkan cinta.

Ia memikirkan jam tangan Arka.

Pada pengambilan pertama, jam itu berada di tangan kiri. Dalam adegan lanjutan yang direkam empat hari kemudian, benda tersebut berpindah ke tangan kanan.

Kesalahan kecil.

Penonton biasa mungkin tidak menyadarinya. Penggemar fanatik akan mengambil tangkapan layar, memperbesar gambarnya, lalu membuat utas panjang tentang betapa cerobohnya tim produksi.

Nara menandai bagian itu dengan warna merah.

“Masih hidup?”

Suara Fina muncul dari balik pintu. Hanya kepalanya yang terlihat, rambutnya dijepit asal dengan pensil.

“Belum dipastikan,” jawab Nara.

“Kalau besok kau ditemukan membatu di kursi itu, aku tidak mau jadi orang yang menjelaskan kepada polisi kenapa penyebab kematianmu adalah jam tangan.”

“Pindah tangan.”

“Lebih tragis lagi.”

Fina menguap, lalu mengangkat teleponnya. “Aku pulang. Server cadangan jalan otomatis pukul dua belas. Jangan sentuh folder final kalau tidak mau Damar menangis sambil menyalahkan semua orang.”

“Damar tidak menangis.”

“Dia berkeringat dari mata.”

Pintu kembali menutup.

Nara memutar ulang adegan tersebut. Ia menghentikannya tepat ketika Arka menyentuh meja resepsionis.

Jam tangan di kanan.

Ia membuka catatan produksi, mencari tanggal syuting, lalu mencocokkannya dengan nomor kostum. Kesalahan itu bisa diperbaiki dengan memilih sudut lain. Tidak sulit. Hanya mengganggu.

Nara membenci sesuatu yang tidak berada di tempat semestinya.

Pukul sebelas lewat lima puluh sembilan, teleponnya bergetar.

Satu notifikasi masuk dari akun yang tidak pernah ia ikuti.

KREDIT AKHIR baru saja mengunggah sebuah video.

Nara nyaris mengabaikannya. Nama akun itu terdengar seperti salah satu akun gosip yang mencuri potongan adegan syuting, memberi judul berlebihan, lalu mengaku memiliki sumber dari orang dalam.

Tapi gambar pratinjaunya membuat telunjuk Nara berhenti di atas layar.

Perempuan dalam gambar itu mengenakan kemeja putih dengan garis tipis biru di bagian lengan.

Kemeja itu sedang dipakai Nara malam itu.

Ia menekan video.

Layar gelap selama dua detik.

Lalu muncul bagian dalam sebuah lift.

Rekamannya agak buram, seolah diambil dari kamera keamanan yang dipasang di sudut langit-langit. Lampu kekuningan. Dinding baja. Bayangan angka digital berwarna merah di atas pintu.

Seorang perempuan berdiri membelakangi kamera.

Rambutnya diikat rendah. Kemejanya kusut di bagian punggung. Tangan kanannya menggenggam map abu-abu dengan sudut yang sedikit terkelupas.

Nara melihat map yang sama di meja, tepat di samping sikunya.

Dada Nara mendadak terasa kosong.

Video berjalan tanpa suara selama enam detik.

Lihat selengkapnya