BAB 1
Laki-Laki yang Salah
Pukul delapan lewat tujuh menit, Studio Delapan sudah ribut seperti pasar yang diberi lampu sorot.
Kru berlarian membawa kabel. Seorang penata rias mengejar aktor figuran sambil mengacungkan bedak. Dari dekat pintu utama, Bimo berteriak bahwa kopi tanpa gula milik sutradara tertukar dengan kopi enam sendok gula milik penulis naskah.
Tidak seorang pun terlihat menganggap itu masalah kecil.
Nara berdiri di sebelah monitor produksi dengan map abu-abu dipeluk ke dada. Ia sudah berada di sana sejak pukul tujuh, tetapi selama satu jam pikirannya hampir tidak menyentuh pekerjaan.
Tatapannya terus berpindah ke jam digital yang tergantung di dinding.
08.07.
Tiga menit lagi.
Ia sudah memeriksa video dari Kredit Akhir sebanyak dua puluh enam kali. Fina memeriksa lapisan gambar, bayangan, suara, dan sisa kompresinya sampai hampir subuh.
Kesimpulannya tetap sama.
Video itu palsu.
Masalahnya, sebagian besar detail di dalamnya asli.
“Nar.”
Nara tidak menoleh.
“Nara.”
Masih tidak.
“Nara Aksanti, kalau kau sedang kerasukan, berkedip dua kali.”
Nara menatap Bimo yang berdiri di depannya sambil membawa tiga gelas kopi.
“Ada apa?”
“Syukurlah. Kukira jiwamu tertinggal di ruang edit.” Bimo mengangkat salah satu gelas. “Ini kopi hitam tanpa gula.”
“Punya Pak Damar.”
Bimo melihat tulisan di gelas. “Benar.”
“Yang ada gambar hati milik Mira.”
Bimo melihat gelas kedua.
“Benar lagi.”
“Yang tutupnya penyok punyamu.”
Bimo memandangi gelas ketiga, lalu wajah Nara. “Kadang aku merasa kemampuanmu seharusnya dipakai polisi.”
“Kadang aku merasa kemampuan membaca tulisan seharusnya kau pakai.”
Bimo tertawa kecil. “Keji sekali pagi-pagi.”
Pukul delapan lewat delapan menit.
Nara merapatkan genggaman pada map.
Ia sempat berpikir untuk tidak datang. Menghindari studio justru berarti menyerahkan kendali kepada seseorang yang bahkan belum ia kenal.
Lagi pula, jadwal syuting tidak bisa dibatalkan hanya karena sebuah akun anonim mengirim video ciuman palsu.
“Nara.”
Kali ini suara Damar terdengar dari belakang monitor.
Sutradara itu berdiri dengan headphone menggantung di leher. Wajahnya sudah terlihat lelah meskipun pengambilan gambar belum dimulai.
“Kenapa pemeran pengganti Arka belum masuk?”
Nara mengernyit. “Pemeran pengganti?”
“Tambahan gambar dari belakang. Arka masih wawancara di gedung depan.”
Nara membuka lembar jadwal. Tidak ada nama pemeran pengganti di sana. Hanya kode BD-02 di bawah kolom aktor pendukung.
“Namanya siapa?”
“Mana aku tahu? Tanya Saka.”
Damar sudah berbalik sebelum selesai bicara.
Pukul delapan lewat sembilan menit.
Nara menarik napas.
Di seberang ruangan, pintu studio terbuka.
Seorang laki-laki masuk bersama Saka, koordinator laga. Jaket hitamnya setengah basah di bagian bahu. Topi ditarik rendah hingga menutupi dahi. Dari kejauhan, bentuk tubuhnya memang mirip Arka Mahendra—tinggi, bahu tegak, cara berjalan tenang tanpa banyak gerakan tangan.
Jantung Nara berdetak sekali lebih keras.
Laki-laki itu berhenti untuk mendengarkan instruksi Saka.